Erin Brokovich (2000) and Legally Blonde (2001) : Both are Blonde, Legal is New for ‘em but They’re Great at It

 

Sebuah film bertemakan meja hijau ternyata sama menariknya dengan film bertema politik, gangster atau football. Salah duanya adalah Erin Brockovich yang muncul pada awal milenium dan Legally Blonde yang rilis pada satu tahun setelahnya. Keduannya di bintangi oleh dua aktris berbakat yang telah meraih piala Oscars. Di dalam kedua film ini, Julia Roberts dan Reese Witherspoon adalah blonde yang harus terjun di bidang hukum, walaupun mereka lebih cocok sebagai ‘ratu kecantikan’. Walaupun harus berkutat dengan hukum yang notabene serba serius, ternyata film semacam ini mempunyai cara sendiri untuk mengocok perut para penontonnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Erin Brockovich (2000)

Director :  Steven Soderbergh

Writer : Susannah Grant

Cast :  Julia RobertsAlbert Finney, Aaron Eckhart

“Shining Roberts in steady hand of Soderbergh.”

About

Diangkat dari sebuah kisah nyata, Erin Brockovich (Julia Roberts) pada mulanya hanyalah single parent dengan tiga anak yang sedang putus asa, tanpa pekerjaan, tanpa uang. Dengan modal nekad, ia memaksa pengacaranya, Ed Masry (Albert Finey) untuk memperkerjakannya sebagai file clerk di kantornya. Sebuah kasus tiba-tiba datang dan menarik Brockovich untuk menyelidikinya lebih lanjut, sebuah kasus yang berkaitan dengan sebuah perusahaan energi raksasa yang ‘diduga’ mencemari lingkungan dan membuat beberapa orang mengalami gangguan kesehatan. Tak disangka, kasus ini jauh lebih besar dari yang Brockovich, bahkan Masry, bayangkan. Sebuah kasus yang menyangkut keadilan untuk seluruh penduduk kota. Bisakah Brockovich menangani kasus raksasa ini sementara ia sendiri tidak mempunyai kapabilitas diri di bidang hukum ?

Film ini diarahkan oleh salah satu sutradara yang paling stabil dan produktif walaupun sebentar lagi dikabarkan akan pensiun sebagai sutradara, Steven Soderbergh. Film ini tidak hanya mengantarkan Julia Roberts mendapatkan Oscar setelah dua nominasi sebelumnya namun juga mengantarkan ia sebagai aktris pertama dengan bayaran 20 juta pada masa itu.

Roberts is amazing, this movie owes her so much.

Dengan perannya sebagai single mother yang frustasi dengan tekanan hidup dengan fouled mouth-nya, tidak membuat Roberts kehilangan karisma, warmth dan charm-nya yang membuat penonton ikut frustasi atau kehilangan simpati terhadap karakter Erin Brockovich. Roberts adalah magnet di film ini dan yang lebih utama lagi, magnet itu terus menarik penonton sepanjang durasi film. Beberapa lines yang catchy dalam film disampaikan dengan kekuatan Roberts membuat beberapa moment begitu memorable. Tidak lupa, Roberts juga mendapatkan lawan yang sepadan, seorang Robert Finney yang memerankan Ed Masry, keduannya membangun chemistry yang baik walaupun dalam film ini hubungan antar tokoh ini terkadang tidak stabil. Dengan cerita yang bersifat crowd pleaser dengan nilai plus bahwa cerita dalam film ini adalah true story, membuat sebuah jaminan banyak penonton terkagum-kagum dan akan menyukainya. Hal ini akan menjadi sebuah sisi kompensasi bagi penonton untuk masalah sebuah film yang mengangkat true story, terkadang jalan ceritanya klimaxnya kurang terasa. Dengan tangan dingin dari Soderbergh, film berjalan stabil walaupun terdapat beberapa part film yang mengalami jalan di tempat di sisi storyline-nya. Sisi yang mengganggu adalah sisi hubungan percintaan antara Brockovich dan George (Aaron Eckhart) yang terkesan sangat artificial dalam film dan sedikit mengganggu. Karakter George sepertinya hanya dihadirkan benar-benar sebagai ‘nanny’ agar Brockovich dapat hampir 100 persen berkonsentrasi pada kasus yang manjadi inti cerita, walaupun akhirnya sisi ini menjadi sisi klise dari sebuah kisah nyata.

Trivia

Julia Roberts adalah salah satu artis yang menyabet Academy Award, Golden Globe, Critic Choice Award, SAG, dan BAFTA untu satu peran yang sama. Aktris lainnya adalah Renee Zellweger (Cold Mountain), Reese Witherspoon (Walk The Line), Helen Mirren (The Queen), Jennifer Hudson (Dreamgirls), Kate Winslet (The Reader), Mo’Nique (Precious), Natalie Portman (Black Swan) dan Octavia Spencer (The Help).

Quote

In early movie, Brockovich : Did they teach lawyer to apologize ? Because you suck at it.

In the end of movie, Masry : Did they teach beauty queen to apologize ? Because you suck at it.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Legally Blonde (2001)

Director : Robert Luketic

Writer : Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith

Cast : Reese Witherspoon, Luke Wilson, Ali Larter

“Shallow wits, entertaining yet no surprise.”

About

Ditangani oleh tangan debutan Robert Luketic, sutradara yang kebanyakan menggarap genre romcom, film ini bercerita tentang Elle Woods (Reese Witherspoon) yang terpaksa terjun ke sekolah hukum di Harvard hanya untuk mengejar mantan pacarnya. Elle Woods adalah gadis muda kaya yang harus melawan labelling “dumb blonde” dari lingkungan kampusnya. Ketika ia terus dicap bodoh, hanya karena ia blonde, cantik, fashionable, ia menekatkan diri bahwa ia dapat mengatasi apapun, termasuk menjadi mahasiswi hukum yang berprestasi. Ketika ia berhasil mendapatkan sebuah internship, ia dan timnya harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan mantan pelatih fitnesnya, Brooke (Ali Carter). Bisakah ia membebaskan Brooke dari tuduhan sementara ia adalah satu-satunya dalam timnya yang mempunyai faith bahwa Brooke sebenarnya tidak bersalah ?

Funny, but everything just come up like it should be. I gotta say Woods isn’t smart blonde, but she’s a lucky blonde.

Ketika sebuah film bergenre komedi dengan hanya seorang leading actor/actress dengan screenplay yang cenderung familiar dan predictable, beban seorang leading actor/actress begitu besar. Dia tidak bisa hanya menampilan sebuah performa yang biasa saja karena penonton sudah jelas tahu cerita akan berjalan kemana. Beginilah yang dialami Reese Witherspoon. Bisa dikatakan Witherspoon berhasil membuat karakter Elle sebagai anti depresan untuk penonton dengan tingkat percaya diri dan keceriannya yang sangat tinggi walaupun Witherspoon hanya mampu meng-cover karakter ini di luarnya saja (but she did the best with the material). Penampilan Witherspoon ini penyelamat bagi “too good too be true” storyline dengan selingan beberapa jokes, scene berlebihan dari ke-feminiman Elle, dan wits yang dangkal dan kurang analytical untuk film legal seperti ini.

Film ini sangat segmented, sebuah chick flick yang akan memuaskan untuk para gadis-gadis remaja yang peduli dengan fashion dan lain sebagainya, namun untuk segmen penonton lain, terutama cowok, film ini hanya akan menjadi film yang terlalu feminin yang tidak menawarkan kedalaman kasus atau witty sides seperti halnya film tema legal seharusnya dan hanya akan berakhir sebagai film komedi biasa yang tidak berkesan.

Trivia

Empat puluh gaya rambut yang berbeda ditunjukkan oleh karakter Elle Woods sepanjang film. Surely, men don’t give a shit about this trivia.

Quote

Woman in boutique : There’s nothing I love better than a dumb blonde with Daddy’s plastic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s