The Kings of Summer (2013) : Act of Independence “Why Live When You Can Rule”

Director : Jordan Vogt-Roberts

Writer : Chris Galletta

Cast : Nick RobinsonGabriel BassoMoises Arias

Okay, baru pulang kerja dan harus berangkat pagi dan malah sekarang mau nge-review film. Haha, I know, I’m gonna regret it.

So it’s gonna be very short movie review.

About

The Kings of Summer adalah drama komedi yang berpusat pada kehidupan dua orang remaja (dan satu orang remaja lainnya yang lebih bersifat ice-breaker atau wild card dalam film.

Joe (Nick Robinson), mempunyai muka kayak Justin Bieber, eh, diasuh oleh ayahnya Frank (Nick Offerman) yang merupakan seorang single parent harus mengurusi anaknya yang beranjak dewasa. Keduannya sering bertentangan terutama ketika ayahnya menggunakan otoritas dalam rumahnya secara sedikit berlebihan. Intinya Joe sangat membenci ayahnya, dan INGIN LARI DARI RUMAH.

Teman Joe satunya, Patrick (Gabriel Basso, yang mukanya familiar dan ternyata pernah main di Super 8) mempunyai orang tua yang posesif dan terlalu protective. Semuannya diatur, termasuk pakaian yang ia pakai, dan dia sudah berusia 15 tahun. Dia anak tunggal, dan juga sangat membenci orang tuanya, dan INGIN LARI DARI RUMAH (juga).

Suatu hari, Joe bersama teman super anehnya Biaggio (Moises Arias) menemukan area kosong di tengah hutan yang memungkinkan untuk membangun sebuah rumah, mereka pun akhirnya melakukan rencana sebuah misi “kabur” dari rumah dan hidup sebagai REAL MEN.

Film ini dipremierkan di Sundance 2013 dan mendapatkan limited release di Amerika.

“Okey dokey, this movie is teenage version of Moonrise Kingdom (uhm, maybe not really), or teenage version of Into The Wild (uhm, maybe not) OR maybe Terrence Malick in small dosage (uhm, screw it). Beautifully naturally funny teenage flick. What a surprise, I enjoy it. It’s fresh lemonaaaaaaaaaaade.”

Ketika menonton jam ini sekitar pukul satu pagi, setelah menonton 3 film dengan durasi masing-masing lebih dari dua jam (dimana salah satunya film klasik), sebenarnya agak berat juga ketika film ini merupakan film festival. Yah, tahu sendiri, film yang keluar masuk festival terkadang membutuhkan “waktu” dan juga “mood” sendiri untuk menonton.

Benar saja, film ini dipenuhi dengan banyak beautiful shot yang mengeksplorasi alam dan keindahannya (nature is beautiful, heh ! Terrence Malick – phobia). Namun tidak, film ini sangat moving dengan durasi sekitar satu setengah jam dengan para lead actor yang benar-benar bisa membawa film ini walaupun usia mereka sepertinya masih muda (Yah, salah satunya mukanya kayak Justin Bieber, dan sebenarnya itu menjengkelkan). Kehadiran karakter Biaggio, walaupun terkadang terlalu aneh, ternyata mampu bisa menjadi salah satu karakter yang melontarkan dialog dan perilaku lucu.

Film yang bercerita tentang “project runaway” ini memang sedikit mengingatkan pada Moonrise Kingdom (that’s not my drink), dan juga survival di alam liar seperti Into The Wild. Film dengan genre “remaja” ini memang lebih menitikberatkan pada asyiknya mereka mengeksplor hutan, dibandingkan dengan hubungan remaja yang sering dibahas di film-film dan sering terperangkap pada formula “predictable”.

Film terasa conflict-free, kecuali konflik yang dialami oleh orang tua yang kehilangan anaknya yang juga diolah dengan jalan cerita tetap lucu dan tidak depresif. SPOILER Konflik cerita terjadi ketika dua tokoh central harus menyukai pada gadis yang sama dan membentuk cinta segitiga (halah opo tho), namun pada endingnya film ini mampu memberikan solusi antar tokoh yang tidak berlebihan dan natural.

Film ini termasuk film yang mengejutkan karena seperti kombinasi antara cerita remaja yang casual dengan banyaknya angel, shot khas festival, membuat film ini terasa eksklusif dan juga casual (You confuse ? Me too). Beberapa scene tidak menampilkan adegan eksplisit, namun beberapa diantara lewat penerjemahan beauty shot yang mudah diterjemahkan, dan tidak mengganggu.

Sisi kekurangannya, The Kings of Summer bekerja pada jalan cerita yang biasa sehingga The Kings of Summer mungkin hanyalah menjadi jalan cerita yang natural, namun juga sesuatu yang natural, terkadang dilupakan. Yah, terkadang memang perlu banyak aksi berlebihan untuk lebih meng-impress.

Secara overall, eksekusi film ini jauh diatas rata-rata dari komedi remaja yang banyak terperangkap pada happy ending formula, nudity, ineffective curse, and some stupid action. It’s a very good movie.

Trivia

Skenario film ini termasuk dalam The Black List.

Quote

Patrick : I am happy to be wherever my parents are not.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s