Suspiria (1977) : What’s Sexier Than Witchcraft, Germany, Ballet, And Horror ?

Director : Dario Argento

Writer : Dario Argento

Cast : Jessica Harper, Alida Valli, Joan Bennett

About

Beberapa waktu ini dunia per-covenan memang sedang di blow up (Blow-up = teaser baik video dan poster dari season terbaru American Horror Story). Salah satunya adalah film klasik yang bersetting di Jerman ini bercerita tentang Suzy Bannion (Jessica Harper), seorang gadis Amerika yang datang ke ke sebuah akademi balet terkenal untuk menyempurnakan keahliannya. Ketika ia datang pertama kalinya, seorang gadis melarikan diri dan ditemukan tewas mengenaskan keesokan harinya. Berbagai kejadian ganjil pun dialami Suzy, mulai dari sakit tiba-tiba hingga sahabatnya yang menghilang entah kemana. Suzy pun mulai mengarah pada dugaan praktik witches yang sangat berbahaya di sekolahan tersebut. I know, I know, bad synopsis, I am trying not spoil it.

This is a sexy horror which build tension through bright color and memorable scoring, and sexy theme, and stylish way of killing.

Mendapatkan label “classic” sering kali menjadi hal yang membuat ekspektasi orang menjadi terlampau tinggi. Bagaimanapun tidak semua yang berlabel classic masih sesuai dengan selera yang ada saat ini, mungkin itu juga yang membuat kenapa banyak orang tidak atau enggan untuk menonton film klasik.

Suspiria membuktikan menjadi salah horor thriller klasik dengan kombinasi antara permainan suara, gambar, dan juga style tersendiri. Mengambil cerita tentang para wanita sihir, yang dikombinasikan dengan setting di Jerman, ditambahkan dengan hal berbau balet saja sudah menjadikan film ini mempunyai ramuan cukup seksi untuk disimak (???). Yah sekali membaca premisenya saja langsung dibuat tertarik.

Hal pertama yang membuat Suspiria begitu magis adalah musik pengiring yang sangat khas, dikombinasikan entah dengan bunyi lonceng dan juga jeritan wanita yang memekik. Penempatan scoring pada moment-moment tertentu dan terkadang ketika akan berganti scene, scoring langsung berhenti diganti suara hening. Salah satu scoring yang paling memorable.

Yang kedua, jika film horror meminimalkan penggunaan cahaya yang secara otomatis hanya akan berwarna-warna gelap. Suspiria mengambil production set dengan berbagai warna yang cerah dan juga menawan (Yeah, now I am working for a creative for design interior show, so that’s pretty much distracting). Ketika banyak scene mati lampu, tidak serta merta lingkungan langsung gelap, namun memanfaatkan banyak warna seperti merah menyala dan biru, dan itu membuat suasana baru di film horor. Walaupun pada beberapa part, penggunaan warna ini tidak lancar dalam segi continuity-nya.

Jennifer Harper terlihat lemah pada film ini kurang terlihat memancar dibandingkan dengan para tokoh antagonis-nya yang terlihat mantap seperti tokoh guru Miss Tanner (Alida Valli) ataupun Madame Blanc (Joan Bennet) yang bersifat manipulatif. Entah mungkin karena ia harus berakting dengan artis non Amerika, dan terdapat beberapa part “dubbing” yang benar-benar sangat mengganggu.

Beberapa moment “pembunuhan” juga dibuat se-special mungkin sehingga lebih meng-efek pada penonton. Walaupun kalau di Indonesia, mungkin cara membunuh seperti ini akan banyak dikaitkan dengan santet atau guna-guna semacamnya, yang membuat beberapa pembunuhan memang tidak memerlukan banyak penjelasan selain dari praktik sihir itu sendiri.

Sebenarnya ada harapan, untuk menggabungkan antara unsur horror atau thriller, dengan komponen balet yang stylish dengan porsi yang lebih banyak (yep, it reminds me of Black Swan), namun sebenarnya balet hanya dijadikan sebagai embel-embel yang muncul pada beberapa part kecil cerita, walaupun hal tersebut sepertinya bisa mendapatkan porsi yang lebih.

Film yang menebarkan berbagai misteri di ceritanya ini memang hadir dengan berbagai solusi yang cenderung “short cut” dan juga terkesan menggampangkan, seperti “menghitung langkah kaki” yang terkesan it’s too good to be true, dan juga solusi dimana karakter Suzy tiba-tiba bisa memecahkan misteri kata “secret” dan “iris”.

Terlepas dari itu akting yang terkadang kurang meyakinkan dari sang leading role, kamera yang terkadang kurang smooth, dan juga dubbing yang menjengkelkan, Suspiria memberikan suspense yang berbeda dengan gaya yang lain, memanfaatkan warna untuk lebih mendramatisir ketakutan seseorang dan juga memanfaatkan peranan musik yang terbukti memiliki porsi besar dalam membangun kengeringan.

Masalah remake yang akan dibuat dengan menge-attach David Gordon Green, sempat juga nama Natalie Portman, dan juga Isabelle Fuhrman, my answer, yes I want it to be true, yah mau dibuat remake-nya atau tidak, versi originalnya tidak akan berubah, dan dari versi originalnya sendiri masih bisa mendapatkan perhatian pada beberapa part.

Trivia

Film dishooting dalam kurun waktu 4 bulan.

Quote

Narrator : Suzy Banyon decided to perfect her ballet studies in the most famous school of dance in Europe. She chose the celebrated academy of Freiburg. One day, at nine in the morning, she left Kennedy airport, New York, and arrived in Germany at 10:40 p.m. local time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s