Gravity (2013) : Alfonso Cuaron’s Perfectionist Pieces of Debris That You Don’t ‘Easily’ Let Go

Director : Alfonso Cuarón

Writer : Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón

Cast : Sandra BullockGeorge ClooneyEd Harris

About

Wow. Wow. Wow. Nunggu film ini dari nggak ada posternya di IMDB, sampai teasernya yang super keren dan bikin obsesif. Tapi dibalik itu semua, yang bikin penasaran adalah nama sutradara Alfonso Cuaron dibaliknya. Ya bagaimana tidak, lihat saja karyanya yang berhasil membuat seri transisi Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dari tontonan family menjadi seri yang lebih dark. Atau karya paling terakhir, sebelum film ini, dengan sinematografi luar biasa, cerita yang kuat, namun bisa dikatakan salah satu film yang paling underrated, Children of Men. Gravity sepertinya mulai menarik perhatian ketika film ini tampil di TIFF dan mendapatkan reaksi yang sangat luar biasa.

Gravity adalah buah perfeksionis sang sutradara untuk membuat film  realis, dan tidak tanggung-tanggung, di luar angkasa, dengan debris yang membutuhkan banyak detail. Jika temannya, James Cameron memilih menggunakan teknologi untuk menciptakan planet baru Pandora dan juga spesies baru, Gravity memilih environment luar angkasa yang tidak jauh-jauh dan bermain dengan orbit juga satelit di sekitaran bumi.

Ryan Stone (Sandra Bullock) menjalani misi pertamanya, ditemani dengan Matt Kowalski (George Clooney) seorang astronot veteran yang menjalani misi terakhirnya. Misi mereka tiba-tiba dibatalkan ketika sebuah debris (pecahan puing-puing satelit) menciptakan chain reaction yang mengancam keselamatan space shuttle mereka. Ketika debris itu datang, menghancurkan shuttle mereka, Stone dan Kowalski pun harus berjuang untuk bisa dapat kembali ke rumah mereka, Bumi.

“Another masterpiece.”

Berbicara tentang film dengan tema serupa, mungkin yang paling segar di ingatan kita adalah Life of Pi, ketika seseorang harus bertahan di sebuah perahu dengan harimau, atau 127 Hours, ketika James Franco harus memotong tangannya sendiri di sebuah canyon, atau Castaway ?? Tom Hanks ? Everybody knew that. Atau juga Buried, Ryan Reynold terkubur hidup-hidup, mempunyai 90 menit untuk bertahan, bahkan Frozen, Emma Bell yang terperangkap di dinginnya es. Lalu apakah yang membedakan Gravity dengan film serupa ? Yep ! You see above the sky, that’s it.

Gravity diawali dengan scene tanpa putus yang berisi tantang aktivitas para astronot ini di luar angkasa secara normal, it’s so good, their moves are so magical, and the no frills, it’s BOOOOOOM ! Debris menyerang kemudian menyisakan Sandra Bullock sebagai Ryan Stone yang floating di luar angkasa, dengan panik. Melihat visualnya saja, sepertinya sudah membuat aneh penonton, visual yang berbeda, baik dalam keadaan floating di luar angkasa, atau ketika debris-debris itu menyerang kemudian menciptakan puing-puing dengan detail yang luar biasa. Ingin menciptakan realisme, Alfonso Cuaron bahkan tidak menyertakan sound dari ledakan-ledakan (Uhum, Bay, you don’t need to blow everything). Namun terkadang keheningan di luar angkasa ini membuat kita menjadi lebih merasa kepanikan yang dialami oleh Ryan Stone, lewat nafas dan juga terkadang kita diberikan view’s point dari helm si astronot. Dari segi visual, banyak sisi breathtaking mulai dari floating item, detail, floating astronout, penggunaan cahaya matahari, sampai karakter dan (what is it ?) typografi dari keindahan bumi itu sendiri (I heard someone in cinema said SHIT ! when there’s aurora on earth).

Yep ! (again), pemilihan Bullock memang menjadi salah satu komponen meragukan di awal, mengingat ternyata banyak aktris yang pernah attach di film ini memiliki banyak kekuatan terutama dalam mengambil karakter yang berbeda-beda, seperti Jolie, Portman, bahkan Cotillard. Yah, walaupun Bullock juga pemenang Oscar (but uhm, you know), banyak yang mengecam Bullock sebagai one of the worst best actress. Namun ternyata, pada film ini Sandra Bullock berhasil merubah itu semua.  Melihat aktor atau aktris terperangkap dalam satu situasi hidup dan mati, kemudian melihat mereka panik memang sudah biasa. Sandra Bullock pun panik, namun yang paling impresif dari aktingnya adalah ketika masa lalu nya dieksplorasi tentang anaknya yang meninggal, tentang alasan mengapa ia harus tetap hidup, kemudian akting Sandra Bullock menjadi berubah dari panik yang biasa, menjadi penuh layer dan kompleks. Tentu saja, paniknya orang biasa dengan seorang astronot akan jauh berbeda, ini pula yang membuat Sandra Bullock sepertinya paling tidak pantas mendapatkan nominasi keduannya di Oscar tahun depan. Yep ! We’ll see.

Rekannya, sebagai supporting actor, Matt Kowalski alias George Clooney, memang tidak mempunyai banyak scene seperti rekannya, namun bukan berarti Clooney juga tidak menaruh karakter pada peran astronotnya. Seseorang yang tenang, optimis, dan berpengalaman, ternyata cukup menyeimbangkan ketika Bullock dan Clooney berbagi layar. Bullock membawa sisi negatif lewat “keriweuhan” dan kepanikannya, kemudian diseimbangkan dengan ketenangan dan berbagai jokes yang dilontarkan karakter Clooney.

Ketika Bullock memiliki layar sendiri, dari segi screenplay pada sisi dialogue memang tidak ada yang spesial, hanya Bullock berbicara pada dirinya sendiri di sepinya luar angkasa, what do you expect ? Some quote or twisted line ? Namun membayangkan bagaimana menulis sequence kejadian di luar angkasa secara real saja, sepertinya sudah tidak bisa dibayangkan.

Don’t Let Go, yang menjadi tagline film ini ternyata memiliki arti yang lebih luas daripada kedengarannya. Yang paling luas, thriller survival ini memberikan point yang penting, dan juga jarang diberikan oleh film sejenisnya, yaitu HOPE. Sisi positif “HOPE” ini memberikan sisi seperti anti-depresant pada penonton, tanpa mengurangi ketegangan yang dialami penonton. Permainan sound dan scoring dari Steven Price dijamin begitu memiliki peran untuk mendukung atmosfer di atmosfer ini.

Yep ! Crowd pleaser-movie ini memberikan film untuk kita yang jengah dengan visual effect yang sepertinya mulai diminishing return, dan kemudian menjadi biasa. Film yang dieksekusi dengan biasa, epic, and sometimes breath-less. Gravity adalah ilm yang sangat layak untuk ditunggu, dengan ekspektasi yang tinggi, namun dengan kepuasan yang tinggi pula pada akhirnya. IT’S RARE !!!!!! Dan sepertinya inilah salah satu film dengan durasi sekitar 90 menit, dengan tidak satupun scene yang terbuang dan juga membuat kita berteriak, WE WANT MORE !!!!!!.

Trivia

Disalah satu scene, di mana Sandra Bullock melepaskan baju astronotnya, kemudian floating di shuttle, sempat terlihat, atau sempat mengingatkan bahwa posisi yang ditunjukkan Bullock seperti pada poster Children of Men, film Alfonso Cuaron sebelumnya, and somehow, she’s like a baby.

Quote

James Cameron : (on this movie) “I think it’s the best space photography ever done, I think it’s the best space film ever done, and it’s the movie I’ve been hungry to see for an awful long time.”

5 comments

  1. Semalam saya baru nonton semua sinopsis di atas sangat lengkap. Kalo soal pemerannya, yah bisa saja para penggemar atau fans menilai pilihannya bagus. Lengkap komplit , itulah yg kubaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s