The Road (2009) : Post Apocalyptic World, Father-Son Bonding Journey, and Hopes

Director : John Hillcoat

Writer : Cormac McCharthy, Joe Penhall

Cast : Viggo Mortensen, Kodi Smit-McPhee, Charlize Theron

About

Film dengan bau post-apocalyptic, atau dystopian, hal yang serupa memang layak dan selalu menarik perhatian untuk disimak. Cerita yang biasanya menyangkut kehidupan masa depan namun dengan penggambaran yang menyeramkan dan menyedihkan. Biasanya juga, film berbau dystopian ataupun post apocalyptic mempunyai sisi premis yang menarik sebut saja bagaimana Alfonso Cuaron (masih hype dengan Gravity) membuat dunia mendekati kepunahan lewat kemandulan di seluruh dunia lewat Children of Men, atau bagaimana kehidupan di masa depan digambarkan menyeramkan lewat tradisi The Hunger Games.

Yep memang sedikit berbeda walaupun agak serupa antara post apocalyptic dengan sisi dystopian. Tema ini juga sering diangkat ke dalam buku, contohnya buku Kazuo Ishiguro yang memberikan gambaran masa depan dan ketidakadilan lewat sistem cloning organ di Never Let Me Go. The Road adalah film serupa yang menceritakan dunia yang mendekati akhirnya.

Mempunyai anak adalah sebuah berkah, namun mungkin akan berpikir lagi ketika seorang istri (Charlize Theron) melahirkan seorang anak laki-laki (Kodi Smit-McPhee) di tengah kondisi dunia yang kacau. Dalam seketika, dunia dibuat mati tanpa sebab yang jelas. Tanaman dan hewan serta tatanan masyarakat dibuat hancur dan menciptakan dunia yang mendekati punah. The Road adalah perjalanan ayah (Viggo Mortensen) dan anak yang mencari harapan di tengah bahayanya post-apocalyptic yang tengah melanda. Tidak hanya harus berjuang melawan ganasnya alam, mereka juga harus berjuang melawan manusia lain yang sudah kehilangan moral, yep sebagian manusia berubah menjadi cannibal.

Disutradarai oleh sutradara The Proposition dan Lawless, John Hillcoat, dan diangkat dari buku pemenang Pulitzer Price for Fiction karya Cormac McCharthy, yang juga menulis No Country for Old Men.

It’s so haunting in the early, but it diminishes after there’s no solid hope to be offered.

Apa yang membuat penonton tetap tertarik untuk melihat dua orang berjuang di kondisi super bahaya dengan durasi sekitar 2 jam ? Yep, it’s hope. Hope dalam cerita memang penting mengingat penonton dari awal telah dibuat untuk peduli dengan nasib para karakternya.The Road diawali dengan naratif yang menarik dan kuat (sisi narasi ini sangat menarik dan mudah untuk dicerna tanpa terlihat terlalu poetic ataupun terlalu generic) , serta beberapa action yang menegangkan. Dengan visual yang dibuat tidak terlalu berwarna, yaitu warna abu-abu mendominasi layar, sepertinya tone untuk tema apocalyptic sudah bisa didapat dan dirasakan. Salah satu sisi cerita yang sangat menarik adalah bagaimana interaksi sesama manusia ketika mereka tidak ada lagi makanan, tumbuhan, atau hewan untuk dimakan, yep mereka saling memburu dan juga memakan satu sama lain menjadi sisi kengerian tersendiri dibandingkan ekstremnya kondisi alam. Beberapa scene menegangkan senantiasa ditawarkan, namun seiring berjalannya durasi adegan-adegan ini berubah menjadi monoton dan bland untuk dilihat. Adegan menegangkan hanya berupa aksi kejar-kejaran, bersembunyi dari ganasnya alam dan manusia. Namun jika diamati, beberapa scene menunjukkan beberapa arti yang lebih berarti daripada kelihatannya, terlihat bagaimana sisi manusia modern mulai rusak dan manusia seperti kembali ke zaman primitif dan mulai menghargai di apa yang dipunyai di masa lalu. Sisi menarik yang lain adalah bond atau ikatan yang berhasil ditunjukkan oleh dua karakter utama lewat sisi helpless dari Kodi Smit-McPhee dan juga sisi kuat dari Viggo. Disini Viggo Mortensen berjuang habis-habis untuk memberikan penampilan terbaiknya hanya dengan melalui interaksi karakter  dan sisi struggling untuk tetap bertahan hidup. Namun kembali ke awal, seiring berjalannya cerita, penonton tidak diberikan sepercik cahaya harapan (halah) untuk nasib kedua tokoh, mmalah ketika harapan itu pupus, cerita menjadi hilang arah dan ditutup dengan solusi yang sepertinya terlalu mudah untuk tema post apocalyptic.

The Road lebih menuju pada bagimana sisi kemanusiaan bisa menjadi hilang seiring dengan dunia yang berubah, yang kemudian dikontraskan lewat bond atau ikatan ayah dan anak yang sangat kuat, disertai dengan atmosfir yang cukup menggambarkan namun tidak terlalu atraktif secara visualnya.

Trivia

Mengalami penundaan dua kali pada tanggal releasenya.

Quote

The Man :  I told the boy when you dream about bad things happening, it means you’re still fighting and you’re still alive. It’s when you start to dream about good things that you should start to worry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s