We Are What We Are (2013) : Gothic Horrors, Blood Bond, and Who Says ‘This Kind of Thing’ Must Be Told in Gruesome Way ?

Director : Jim Mickle

Writer : Nick DamiciJorge Michel Grau

Cast : Bill SageAmbyr ChildersJulia Garner

(MAYBE SPOILERS)

About

Horrors are in this year. The Conjuring, The Purge, Insidious Chapter 2, Mama, semuannya laku di pasaran. Belum lagi, untuk dari sisi remake (atau reimagining) atau apalah itu seperti EVil Dead, dan juga Carrie yang rilis juga di daratan Amerika sana (diprediksi akan mencetak solid debut juga).

Berbicara horror atau thriller, atau campuran di keduannya, ada yang mengandalkan gore dan darah-darahan, ada yang lebih mengandalkan CGI, ada juga yang memilih untuk kembali ke old fashioned. We Are What We Are adalah salah satu kategori horror yang berusaha menggabungkan sisi old (atau sisi kuno) ke dalam dunia yang telah berkembang menjadi satu horor gothic dengan balutan unsur drama yang cukup mendominasi. Dari judulnya saja, sebenarnya kurang meyakinkan, judulnya terlalu “memotivasi” untuk sebuah film horror, namun jangan salah, film ini merupakan film remake dari film Mexico, yang tentu saja berbahasa Spanyol.

Mendapatkan screenng di festival Sundance, dan juga sempat tayang di Festival Film Cannes, tentu saja membua film ini mempunyai daya tarik tersendiri. We Are What We Are diawali dengan scene seorang wanita yang terlihat kurang sehat membeli beberapa barang di tengah badai yang sedang terjadi. Ia sempat melihat selebaran orang hilang sebelum darah keluar dari hidungnya kemudian menjatuhkannya ke dalam sebuah kubangan dan menenggelamkannya. Wanita itu adalah ibu dari Iris Parker (Ambyr Childers) dan Rose Parker (Julia Garner), dua perempuan bersaudara yang hidup bersama ayah (Bill Sage) dan adik mereka. Mereka hidup dalam sebuah tradisi yang menuntut mereka untuk melakukan sesuatu “mengerikan” agar tetap bertahan hidup.

HERE’S THE SPOILER, yah mereka kanibal, kepergian Ibu mereka, membuat Iris harus in charge menggantikan tugas Ibunya untuk “mencari korban, dan juga mengolah korban” di tengah kondisi ayah mereka yang sedang memburuk dan juga kondisi Rose yang enggan serta labil untuk melanjutkan kondisi.

This synopsis rings a bell ? Yah pastinya, film ini melibatkan beberapa adegan makan yang akan mengingatkan kita pada hit horror Indonesia Mo Brothers, Rumah Dara.

“Very slowly burnt, beutifully presented, it’s good to watch this kind of story in a ‘pleasant’ way, which is refreshing.”

Jika mencari sesuatu yang serba berdarah-darah, mungkin lebih baik tidak menonton film ini, karena film ini hanya akan menguji kesabaran dan tidak akan didapatkan hal seperti itu. Namun, gantinya adalah cara bercerita yang indah, sekaligus dark. Film ini menyajikan elemen gothic lewat beberapa lingkungan yang destruktif dan juga ekspresi yang depresif (yang benar-benar ditunjukkan oleh para pemainnya). Film ini mungkin akan mengingatkan pada film The Orphanage, yang sama-sama lambat dalam penceritaannya namun masih tergolong moving untuk dilihat. Maksudnya, film ini tidak sampa membuat penonton bosan dengan gaya bercerita seperti ini.

Film dengan tema seperti ini, mungkin akan lebih mudah jika dikemas secara gory, mengekplorasi bagian tubuh manusia yang terpotong-potong, namun sepertinya film ini menghadirkan penceritaan dari sudut pandang yang berbeda. Disini, para karakternya tidak terlihat seperti “antagonist” yang menunggu kejahatan mereka untuk diungkap dan dan diganjar hukuman, namun mereka diperlihatkan seperti halnya orang biasa yang memiliki masa lalu, tekanan, dan kewajiban. Disinilah porsi drama banyak bermain, dua bersaudara ini menunjukkan sisi survival di tengah sifat ayah mereka yang tegas untuk melanjutkan tradisi. Bagaimana mereka harus menghadapi sesuatu yang bukanlah diri mereka, namun ditekan oleh keadaan, itulah yang mencoba dihadirkan dalam film ini.

Bisa dikatakan, film ini melakukan re-invention terhadap genrenya. Mengambil sisi psikologis, sisi dramatic, sisi keindahan bercerita lewat gambar-gambar yang tidak murah, juga beberapa twist kecil yang menunjukkan kepandaian film ini. Walaupun begitu, film ini juga masih mencampurkan sisi “ironic” (seperti daging yang telah dijadikan sup, dilakukan close shot saat mereka makan) dan juga magnetic untuk tema “cannibal” yang sesungguhnya, secara pribadi, sangat menarik untuk disimak.

Berbeda dengan Rumah Dara yang melakukan pendekatan ritual atau sekte atau apalah itu, We Are What We Are memilih pendekatan ilmiah tentang suatu penyakit yang memaksa mereka untuk melakukan tindakan cannibal. Penyakit ini disebut dengan Kuru Disease, suatu penyakit yang disebabkan dari tindakan cannibalistic (yah walaupun kembali lagi, keakuratan film masih dipertanyakan, but who needs that ?). Dengan pendekatan seperti ini, penonton melihat para tokohnya sebagai karakter real dan nyata serta tahu benar mengapa mereka melakukan tindakan tersebut, bukan hanya sebagai “monster kanibal” yang terus mencari korban.

Sisi yang mengecewakan adalah bagian ending yang harus lebih berakhir lebih “bang-bang-bang”. SPOILER MAYBE, it should be ended by arsenic. Bagian ending merupakan last supper yang mengalami anti klimax dan terlalu dipaksakan untuk mendapatkan sisi “beast” dan gore dalam cerita. Terkesan tidak masuk akal, namun ketika kita melihat perjalanan tokoh dari awal sampai akhir, yaaaah masih bisa diterima ending seperti itu, walaupun sebenarnya mereka bisa melakukan, atau memberikan alternatif ending yang lebih baik (yang satu ini mungkin tergantung dari preferensi para penonton si).

Overall, We Are What We Are is still a refreshing horror in its gothic and dark way.

Trivia

Kuru Disease juga sempat menjadi referensi cerita di film The Book of Eli.

Quote

Doctor : Did you eat my daughter ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s