Wadjda (2013) : A Simple Packaged Movie, First Saudi Arabia’s Submission for Oscar 2014

Director : Haifaa Al-Mansour

Writer : Haifaa Al-Mansour

Cast : Waad MohammedReem AbdullahAbdullrahman Al Gohani

About

Tidak pernah kata terlalu awal untuk ajang Oscars, untuk semua kategori, termasuk untuk Best Foreign Language. Indonesia sendiri mengirimkan perwakilannya (entah sudah berapa kali) dan harus berkompetisi dengan film-film berkelas dari negara di seluruh dunia. Jika dua tahun yang lalu, kita sempat menjumpai film dari Timur Tengah, yang benar-benar mengupas “perceraian” secara lebih dalam, di Oscars tahun depan juga terdapat satu film yang juga menyita perhatian.

Film itu adalah Wadjda, sebuah submission dari negara yang mungkin tidak akan anda sangka, yaaa, Wadjda adalah perwakilan film untuk negara Saudi Arabia. Sisi menarik dari film ini tidak hanya itu saja karena film ini juga di-direct dan ditulis oleh seorang perempuan. Haifaa Al-Mansour adalah perempuan dibalik layar Wadjda, sosok ini juga dianggap sebagai filmmaker pertama di Saudi Arabia. Yep ! She’s the pioneer.

Wadjda (Waad Mohammed) sendiri merupakan nama dari seorang gadis kecil yang berusaha mengumpulkan uang demi bisa membeli sebuah sepeda. Terkesan sangat simple kan ? Namun, tidak di Arab Saudi dimana hubungan serta peran laki-laki dan perempuan sangat diatur ketat. Ketika sepeda diidentikkan dengan “laki-laki”, sepeda ini dianggap akan mempengaruhi virtue dari Wadjda sehingga baik dari pihak keluarga atau sekolahnya sangat melarang. Tidak kehilangan akal, Wadjda mulai mengasah otaknya demi mendapatkan uang, mulai dari berjualan gelang (yang juga dilarang), menjadi kurir (yang juga dilarang), sampai ia berjuang mati-matian untuk memenangkan sebuah lomba menghafal dan melafazkan Al-Quran. Wadjda yang cenderung tomboy kerap dipanggil ke kantor kepala sekolah karena ulahnya, namun masalah tidak sampai situ saja, Wadjda juga menjadi saksi atas Ibunya (Reem Abdullah) yang menjalani peran seorang istri yang akan dimadu oleh suaminya.

“Not to be too preachy, or pretentious in delivering message. Wadjda is about simple thing but has complex apostrophe-s”

Okay, I am not talking about the taboo thing here, because it’s gonna be a really loooooooong debate. Apa yang menarik dari film ini adalah film ini mampu menggunakan segi penceritaan yang halus dan sederhana untuk menyampaikan pesan. Cerita itu tidak harus muluk-muluk tentang seorang wanita yang memperjuangkan haknya di jalanan, tidak, cerita di sepanjang film ini hanyalah cerita sederhana yaitu seorang gadis kecil yang menginginkan sebuah sepeda biasa, bahkan menggunakan uangnya sendiri. Disinilah, film ini menjadi film yang membuat penonton berpikir (jika mampu berpikir). Message tidak disampaikan secara eksplisit lewat dialog-dialog preachy atau terkesan pretentious, jalan cerita dibiarkan mengalur sehalus sedatar mungkin, barulah ketika penonton berpikir, kita tahu apa yang disampaikan oleh filmmaker. It’s not a usual movie, it’s a voice. You know it, if you really noticed (and care).

Uniknya, film ini hanya memiliki durasi yang cukup singkat, yaitu sekitar 90 menit, namun saat menonton film ini, film ini terasa kaya sehingga setiap scene-nya seperti tidak terbuang. Setiap scene menunjukkan keadaan sosial dari negara Arab sebelum sang filmmaker menyampaikan pesan yang diinginkan. Buktinya, film ini terasa sangat menghibur, namun dalam waktu yang bersamaan durasi seperti tidak dihabiskan begitu saja. Terasa lama, iya, namun sangat menghibur. Beberapa scene polos yang menghibur, yang sebenarnya membuat film ini masih masuk untuk kategori film anak-anak (maksudnya, tema tidak terlalu keras diolah), namun juga memberikan sisi “pemikiran bagi orang dewasa yang menontonnya.

Sisi menghibur ini berhutang banyak pada aktris kecil yang baru saja membuat penampilan perdananya di film ini, yaa dia adalah Waad Mohammed yang mampu memberikan penampilan natural di sepanjang film. Hampir tidak ada yang berlebihan sehingga emosi yang keluarpun terasa raw dan natural. Jika Wadjda menampilkan sisi idealis dari seorang anak kecil yang menginginkan semua keinginannya tercapai, film ini memberikan sisi actual lewat kehadiran plot lain yang diwakili oleh Ibunya sendiri. Dua perbandingan ini sepertinya menjadi dua perbandingan yang cukup menarik.

Berbicara tentang ending, yaa ending film ini memang seakan-akan crowd pleaser (namun sebenarnya tidak juga, apa yang menimpa Ibu Wadjda is more a big deal, tapi tetap dikemas tanpa sifat depresi) , namun di bagian endingpun terdapat sebuah pesan yang ingin disampaikan. Bahwa ada sesuatu yang bisa berubah, dan ada juga sesuatu yang tidak bisa diubah. Ending crowd pleaser ini juga merupakan alternatif yang tepat untuk membuat film ini tetap menyenangkan, tanpa harus kehilangan issue di dalamnya.

Sepertinya Wadjda berhasil menarik perhatian siapapun yang menontonnya, tidak hanya dari segi bagaimana film ini berhasil mengemas sesuatu yang sederhana dan menghibur, namun juga bagaimana film ini mampu menambahkan sisi message untuk issue yang cenderung kompleks untuk dibahas karena melibatkan sisi agama, budaya dan virtue masyarakat Arab.

Apakah film ini akan memenangkan Oscars ? I don’t know, nominasi bahkan belum keluar. Tentu saja nanti kompetisi akan menentukan. Namun untuk sebuah film yang membutuhkan perjuangan dalam proses pembuatan, dimana kesulitan tersebut tidak hanya berasal dari sisi teknis, dan mampu sampai tingkat pencapaian seperti ini. Oscar ? Why not ?

Trivia

Film ini dibuat dengan jangka waktu lima tahun, dimana dalam proses pembuatannya sangat hati-hati karena film ini benar-benar dishot di jalanan suburban kota Riyadh. Bahkan terkadang sutradara hanya berada di dalam van dan menonton monitor dalam men-direct film ini.

Quote

Boy : Wadjda, you know I want to marry you when we grow up, right ? (This is the cutest line in the movie, I know, I know, I miss the points.)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s