The Time Traveler’s Wife (2009) : Uncontrolled Strange Gene Brings Librarian’s Marriage Complication

Director : Robert Schwentke

Writer :  Bruce Joel Rubin

Cast : Eric BanaRachel McAdamsRon Livingston

About

Time travel, yep, ada dua film yang akan rilis (salah satunya sudah rilis) yaitu para burung yang kembali ke masa lalu untuk mencegah Thankgiving lewat Free Bird, dan film besutan Richard Curtis, About Time. But, I won’t review those (I have no chance to see it). Berbicara tentang About Time, salah satu daya tarik dari film ini adalah kehadiran Rachel McAdams, yang sepertinya sudah menjelma menjadi ratu romantic comedy. Lihat saja filmographynya yang sudah lengkap dengan adapatasi Nicholas Sparks, Woody Allen, sekarang Richard Curtis, dan next projectnya bersama Cameron Crowe.

Sebelum About Time, Rachel McAdams juga pernah bermain dalam sebuah film berjudul Time Traveler’s Wife yang diangkat dari acclaimed novel dengan mengambil perspektif berbeda tentang konsep fantasi ini.

Time Traveler’s Wife bercerita tentang seorang librarian, Henry (Eric Bana) yang mengalami kelainan genetik yang membuatnya dapat melakukan time travelling sewaktu-waktu, kembali ataupun mendatangi masa depan. Ketika kemampuan ini tidak dapat ia kendalikan, ia bisa muncul dan menghilang dimana saja, kapan saja. Hingga akhirnya ia menjumpai seorang gadis, Clare (Rachel McAdams) yang tahu dan mau menerima dirinya apa adanya. Kemampuan ini menjadi berkah sekaligus kutukan untuk pernikahan mereka berdua, mulai dari Clare yang terus keguguran (karena diduga bayinya juga bisa melakukan time travelling) sampai ketika mereka tahu bahwa di satu titik mereka harus berpisah di masa depan.

“Wing-less, yet magical romantic story.”

Untuk sebuah konsep time travel, konsep perjalanan waktu di film ini seakan-akan sudah dibatasi dari awal, membuat konsep time travel sendiri tidak banyak berkembang, wingless. Time travel disini hanyalah fenomena loncatan Henry dari waktu ke waktu secara acak, TANPA ia dapat merubah sesuatu di masa lalu atau masa depan. Jadi, jika banyak film time travel, yang lebih thought provoking, membuat kita berpikir, di film ini tidak akan dijumpai hal yang seperti itu. Namun, salah satu kunci untuk dapat menikmati film ini adalah biarkan emosi itu mengalir, biarkan sepasang kekasih ini berinteraksi, tanpa penonton harus berpikir keras tentang kelogisan cerita, paradoks, atau bla bla bla, karena memang film ini tidak akan men-challenge penonton untuk berpikir demikian (selain “konsep time travel” juga masih berlabelkan fantasy yang belum bisa dijelaskan dengan akal sehat.)

Walaupun Henry melakukan beberapa kali (atau mungkin malah sepanjang film) mengalami loncatan waktu, yang dikhawatirkan banyak plot hole atau pacing berantakan, The Time Traveler’s Wife cukup disusun dengan rapi dan tidak complicated. Menjadikan timeline Clare sebagai timeline utama, yang mengalir sepanjang film, dan menjadikan loncatan waktu yang dialami oleh Henry sebagai selingan.

Berbicara tentang romantic, memang Rachel McAdams sepertinya memang berbakat untuk membintangi film jenis ini. Chemistry yang dilakukan Adams selalu kuat, tidak peduli siapa tokoh lawan mainnya, lihat saja seperti pasangannya dengan Gosling ataupun Tatum yang bisa dikatakan berhasil. Dan, kali ini Eric Bana. Mengingat, film ini bisa dikatakan film yang jujur akan dibawa kemana film ini pada akhirnya, dan tidak melakukan perubahan, film ini benar-benar mengandalkan naik turunya hubungan pasangan ini sebagai sajian utama dalam film. Dan, Bana serta Adams sepertinya lebih dari cukup untuk menyajikan moment-moment romantis (terkadang menyedihkan) yang membuat penonton tetap bertahan di tempat duduknya.

Kembali seperti di awal, film ini menghadirkan perspektif baru dalam mengangkat tema science fiction namun tidak ingin membawa hal-hal yang bersifat rumit. Film ini memberikan pendekatan emosional seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya yang terkadang menghilang begitu saja, dan kemudian muncul lagi. Pendekatan ini memang terkesan sangat melankolis, namun dalam saat yang bersamaan sang sutradara dan novel materialnya juga membawa suasana magical. Scene-scene seperti di meadow dimana Henry menemui Clare kecil, ataupun Clare remaja bisa menjadi scene favorit, atau saat Henry bertemu putrinya. Scene-scene di meadow ini mungkin akan mengingatkan kita pada film Benjamin Button, dimana sepasang kekasih bertemu atau berinteraksi pada usia yang berbeda, namun tidak kehilangan sisi romantisnya.

Yah, sisi negatifnya, jika tetap memaksa, adalah banyaknya pertanyaan yang tidak terjawab, beberapa part cerita yang terkesan plain tanpa perkembangan, soapy, sappy, whatever you call it. But I like it.

Trivia

Ketiga kalinya Rachel McAdams berperan dalam film time travel dan kedua kalinya Rachel McAdams berperan dalam film, dimana scene pembukanya berhubungan dengan kecelakaan. Film yang hampir sama adalah The Vow.

Quote

Clare Abshire : The last time that I saw you, I was 18. Seems that you go back to the same places a lot.

Henry DeTamble : Yeah, it’s like gravity. Big events pull you in.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s