Philadelphia (1993) : “Having AIDS” Lawyer Againsts “Discrimination and Homophobic” Conservative Firm

Director : Jonathan Demme

Writer : Ron Nyswaner

Cast : Tom HanksDenzel Washington, Antonio Banderas, Mary Steenburgen

About

Homophobia, kata yang mengartikan sebagai sebuah tindakan antipati bahkan membenci seseorang yang diidentifikasikan sebagai seorang lesbian, gay atau bisexual. Yah, kurang lebih itulah definisinya,  sepertinya kata “homophobia” adalah yang melanda sebuah corporate law di Philadelphia yang membuat mereka memecat seorang pengacara handal dan berbakat Andrew Beckett (Tom Hanks). Walaupun pemecatan ini tidak berdasarkan “langsung” karena dia gay, dan lebih menekankan incompetency-nya terhadap perusahaan, namun Andy Beckett yakin bahwa orientasi seksualnya, sekaligus ia penderita AIDS (dimana pada tahun 1993, penyakit ini belum menjadi penyakit yang “lebih lumrah” di masa sekarang) menjadi alasan mengapa perusahaan itu memecatnya. Hingga akhirnya Andrew Beckett pun memutuskan untuk mencari pengacara kulit hitam yang juga sedikit homophobic namun akhirnya mau membantu Andrew setelah melihat diskriminasi masyarakat terhadap penderita AIDS, yah dia adalah Joe Miller (Denzel Washington).

Kasus ini menjadi menarik karena tidak hanya menyangkut kan pengacara versus pengacara secara langsung, namun juga menjadi kasus penting karena berkaitan dengan sistem yang berada di masyarakat menyangkut gaya hidup homoseksual sekaligus penderita AIDS, lebih jauhnya.

Oh yeah, this is not true story, tetapi ada inspirasi kisah nyata dibaliknya. (Find by yourself in Wikipedia).

Pertarungan di meja hijau memang menjadi salah satu tontonan yang menarik. Bisa dikemas secara komedi seperti Liar Liar even Legally Blonde atau juga bisa dikemas secara serius dengan mengambil sudut pandang anak kecil seperti film klasik Gregory Peck, To Kill Mockingbird.

Menjadi film mainstream yang membahas tentang AIDS, gay, tentu saja film ini menjadi film yang menarik di zamannya. Award yang mengantarkan film ini pada Oscar pertama Tom Hanks, sekligus bakat dari lawan mainnya Denzel Washington, menjadi salah satu sisi yang membuat film ini masih menarik untuk ditonton sampai sekarang.

“The most heartbreaking quote of this discrimination versus “having AIDS” lawyer is “Every problem has solutions”.

Yeah it’s like a showcase untuk para pemainnya, terutama Tom Hanks. Menjadi seorang pengacara berbakat kemudian ia harus melawan perusahaan dimana ia seharusnya bekerja, Tom Hanks pada awal film tidak kehilangan sisi “Tom Hanks”-nya seperti pada film-film yang ia perankan, kemudian ia mengidap AIDS dan ia harus melakukan beberapa treatment yang membuatnya harus bertransformasi dari Tom Hanks biasa, Tom Hanks dengan rambut abu-abu, sampai Tom Hanks dengan rambut gundul, belum lagi ditambah dengan berat badan yang sengaja diturunkan yang membuatnya hampir tidak terlihat seperti Tom Hanks lagi. Namun di luar transformasi yang luar biasa itu, Tom Hanks mampu menyajikan level emosi yang meyakinkan dari seorang penderita AIDS sekaligus level tenang dari seorang pengacara. Tipikal akting Tom Hanks yang tidak menggebu sepanjang film, namun ketika mendapatkan scene potensial, he nail it. Bagaimana Andrew Beckett harus dealing dengan interpretasi kematian diiringi dengan musik opera kemudian dilengkapi dengan lighting yang mendramatisir, that is actually a good combo.

Akting Tom Hanks diimbangi dengan akting Denzel Washington yang juga mempunyai peran sulit, sebagai seorang pengacara kulit hitam homophobic yang sekarang harus membela seorang kaum gay yang menderita AIDS. Berbicara tentang Denzel Washington, terdapat satu sisi pada aktingnya di film yang satu ini. Tidak ingin berkutat dengan meja hijau yang serba serius sekaligus tone film yang memang dibuat serius, Washington memberi sentuhan komedi pada akting dan karakternya yang membuat hal ini berimbang dengan karakter Tom Hanks yang memang sudah depresif dari awal. Dari kategori akting, ditambah dengan penampilan Mary Steenburgen sebagai Belinda Conine, pengacara yang membela perusahaan, pengacara yang juga mampu mengimbangi dua temannya, sebagai seorang pengacara yang cukup intimidatif.

Membela kaum gay plus ditambah dengan mengidap AIDS dizamannya (I mean when it’s 1993) sepertinya tidak mudah, dari sinilah timbul beberapa reaksi karakter yang tidak cliche seperti “Okey, I will defense you no matter what who you are, you need justice.”, bagaimana reaksi dari karakter Joe Miller terhadap Andrew Beckett di awal cerita menjadi salah satu sisi yang menarik, kemudian menggabungkan dengan rasa simpatinya terhadap Andrew yang mengalami diskriminasi terhadap penyakitnya, yang kurang lebih karakter Miller ini juga sedikit banyak mendapatkan diskriminasi karena warna kulitnya juga menjadi sisi yang menarik.

Philadelphia memang bermain aman, salah satu kelemahan film ini terdapat pada bagian scene dimana jury memberikan verdict yang dirasa terlalu sentimental, dan juga terlalu predictable dan kurang pandai setelah adu argument dari Miller serta Belinda dan juga para saksi yang menjadi bagian utama dari cerita. Ketika jury memberikan verdict terhadap kasus ini, I got a little bit lost. Untuk sebuah film tentang “courtroom”, bagaimana akhirnya jury memutuskan sesuatu di ruang sidang sepertinya menjadi salah satu bagian penting untuk penonton (or maybe I lost it, so I think I am gonna rewatch it). Namun, hal lain dalam film ini, film ini tidak berkutat pada menang kalah kasus Andrew Beckett, namun juga bagaimana penonton dibuat merasakan apa yang dirasakan oleh AndreW Beckett yang lebih mempunyai gaya hidup yang kompleks yang membuatnya harus berhadapan dengan konsekuensi, mempunyai reputasi kemudian dipermalukan didepan umum, di depan keluarganya dan juga perspektif (karena penyakit dan gaya hidupnya), kasus ini tidak memandangnya sebagai seorang korban. That is another perspective of this movie.

Di awal dan di akhir film, film ini dilantunkan lagu dari Bruce Springteen yang juga memenangkan Oscar yang juga turut mendukung suasana film, serta di akhir film disertakan footage masa kecil Tom Hanks, that is another thoughtful scene of this movie about life, if you wanna think, absolutely.

A little bit of trivia as closing, Daniel Day Lewis sempat dipertimbangkan untuk memerankan tokoh Andy Beckett.

2 comments

  1. Saya rasa akting Tom Hanks di Forrest Gump agak overrated dibandingkan Philadelphia. Apalagi adegan opera, benar-benar salah satu performa akting terbaik yang pernah saya lihat!

    1. I like him in both movies, ahahahaha……
      Tapi mungkin untuk Philadelphia akting Tom Hanks lebih keliatan progress-nya dari durasi berjalan, ada pengembangan karakternya dari sisi fisik dan juga bathin (halah bathin segala)

      Kalau di Forrest Gump juga mungkin keseret sama durasinya yang sedikit overlong….🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s