Rosemary’s Baby (1968) : A Healthy Herb of Psychological Horror, Pregnancy with Satan’s Agenda

Director :  Roman Polanski

Writer :  Roman Polanski,  Ira Levin

Cast :  Mia FarrowJohn CassavetesRuth Gordon

About

Women and witchcraft, yeah terakhir kali menonton hiburan dengan tema ini mungkin tidak lain tidak bukan American Horror Story : Coven, atau mungkin masih teringat bagaimana Suspiria menggabungkan sisi sihir ini dengan sisi seksi dari Jerman, musik, warna dan juga balet.  Talking about list and this thing, pasti sering banget nemuin film yang satu ini berada di top list film “paling —-” sepanjang masa. Salah satunya mungkin predikat film paling menakutkan atau apalah. Rosemary’s Baby adalah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang menggabungkan sisi horror lewat witchcraft dan juga labilnya psikologi perempuan yang sedang hamil.

SPOILER !!!

Rosemary (Mia Farrow) dan Guy (John Cassavetes) adalah pasangan muda yang menempati apartemen baru mereka yang menyimpan “sedikit” misteri dari kematian tenant pendahulunya. Pasangan ini menjalani hidup biasa dan sedikit diatas standar mengingat Guy adalah seorang aktor yang telah membintangi beberapa play. Kehidupan sosial mereka mulai timbul ketika mereka berkenalan dengan pasangan manula di apartemen mereka, pasangan eksentrik yang memberikan perhatian “berlebihan” terhadap kehidupan Rosemary dan Guy. Ketika Guy mulai meroket karirnya, mereka memutuskan untuk memiliki seorang anak yang ternyata “mengundang” perhatian para tetangga Rosemary dan membuat perubahan sikap Guy. Rosemary-pun mulai merasakan hal yang aneh dalam tubuhnya dan mulai merasa bahwa ada “agenda” tersendiri dari kehamilannya.

“For me, personally, the baby never kicks (like it supposed to be), but it’s still interesting, chapter by chapter, totally thank you for Polanski’s solid hands.”

Film ini diawali dengan lullaby yang dinyanyikan Mia Farrow sendiri dan harus diakui lullaby ini memberikan sisi mistis yang cukup kuat mengawali film.

Rosemary’s Baby begitu sabar dalam menghadirkan tiap scene-nya dan tidak terkesan terburu-buru, tidak heran jika film ini dianggap sebagai salah satu film yang paling faithful dalam menghadirkan adaptasi novel ke film. Terlihat dar beberapa bagian, terutama dari sisi ending (walaupun belum pernah membaca novelnya), ending ini terasa sekali sangat sangat sabar hingga mungkin terasa terlalu lama untuk mencapai klimaks “revelation”-nya. Tidak terbayang jika novel ini diadaptasi di zaman sekarang yang mempunyai penonton begitu demanding dengan sesuatu yang didramatisir atau apalah, sehingga tidak jarang adaptasi novel ke film seringkali melakukan beberapa perubahan (tentunya hal ini akan membuat kecewa para fans dari bukunya).

 Rosemary’s Baby layaknya sebuah horror yang terbuat dari herbs yang menyehatkan. Film ini tidak mengandalkan gore dan blood (walaupun pada salah satu scene ada) namun lebih mengandalkan pada psikologi dari Rosemary tentang kehamilannya. Tentu saja, beban berat ini harus dijalani Mia Farrow sebagai aktris utama yang tampil di sepanjang film (seperti pada buku, sepertinya film ini juga hanya menceritakan dari segi sudut pandang Rosemary saja). Penampilan depresi disertai dengan perubahan berat badan dan gaya rambutpun sampai nudity juga ditampilkan secara total oleh Mia Farrow. Namun, memang tidak dapat dipungkiri peran Minnie yang disandang oleh aktris Ruth Gordon memberikan penampilan stealing di setiap scenenya. Yeah, membuatnya memenangkan Best Supporting Actress yang sangat jarang diterima untuk genre sejenis.

Sisi disturbing untuk penonton yang melihatnya mungkin datang dari Rosemary yang terlalu “powerless” dibandingkan dengan para lawan mainnya yang tergolong merupakan antagonist bagi dirinya. Hampir semua antagonist ini memiliki kontrol bagi kehidupan Rosemary yang membuat Rosemary seakan-akan mempunyai “ruang sempit” untuk berjuang. Yeah, membuat penonton sering seakan-akan berteriak, “Oooooh come on ! Fight ! Fight !”. Sisi disturbing yang lain mungkin datang jika film ini ditonton oleh perempuan, mengingat film ini mengangkat hal yang paling feminim yaitu kehamilan. Mia Farrow dengan penampilannya pun cukup meyakinkan sebagai wanita hamil yang lemah yang membuat penonton peduli dengan kelanjutan nasibnya (another point, mengapa film ini enak untuk diiikuti sampai akhir) dan untuk para wanita, kehamilan seperti ini terlihat sebagai mimpi yang sangat buruk. Untuk sebuah film dengan predikat “menakutkan”, I gotta say, film ini tidak terlalu menakutkan dan menimbulkan pertanyaan tersendiri mengapa film ini banyak menduduki list-list film “menakutkan” teratas. Namun hal ini tidak berarti bahwa film ini merupakan film yang buruk, sekali lagi, I gotta say, film ini mungkin film yang menggunakan pendekatan drama dan psikologis (that is why it’s psycological horror) untuk mengusut tema Satanisme, dan film ini bisa dikatakan cukup berhasil untuk menghadirkan sebuah hiburan wellcrafted dengan durasi lebih dari 2 jam (Definitely, thanks to Roman Polanski, right ? I don’t know about directorial skill, but this adaptation seems sooo smooth to get through).

Jika dikatakan dalam sebuah sinopsis bahwa film ini tentang sebuah praktik witchcraft atau satanism, sinopsis tersebut sebenarnya sudah memberikan major spoiler untuk film ini. Ya, kekuatan film ini adalah jaring-jaring hint tentang hal tersebt yang disebar di sepanjang film yang membuat penonton sebenarnya bertanya-tanya “What is wrong with Rosemary’s Baby ?” Ketika sisi itu telah diungkap, sedikit banyak film ini kehilangan sisi menariknya. Menuju ke ending, film ini memberikan sisi menarik yaitu antara apa yang sedang dialami Rosemary ini apakah sebuah praktik yang berhubungan dengan Satan atau ini semua hanyalah psikologis hamil dari seorang ibu hamil ? Sisi ini akhirnya terjawab di ending. Sisi witchcraft sebagai tema mistis ini memang tidak dieksplor secara habis-habisan, karena lagi-lagi film ini menggunakan pendekatan yang lebih drama dari eksplorasi psikologi dari ibu hamil yang merasa insecure dari kehamilannya (trust me, there’s no even one single jump scare in this movie).

Trivia

Adegan memakan liver, benar-benar dilakukan oleh Mia Farrow. Ew !

Quote

Rosemary Woodhouse : This is no dream! This is really happening!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s