Enchanted (2007) : A Modern, yet Classic Disney Tale, The Real World And The Animated World Collide

Director : Kevin Lima

Writer : Bill Kelly

Cast : Amy Adams, Patrick Dempsey, Timothy Spall, James Marsden, Susan Sarandon

About

Fairy tale, entah sudah berapa kali kita mendengarkan cerita fairy tale mulai dari kita masih kecil. Walaupun Indonesia, juga kaya akan cerita berjenis ini, namun tidak menutup kemungkinan untuk kita mendengar cerita fairytale yang berasal dari luar negeri. Yah, sebut saja Cinderella, atau Snow White, Sleeping Beauty, Rapunzel, dan lain sebagainya. Ceritanya simple dan mudah dicerna, walaupun terkadang formulaic, namun tayangan film baik itu animasi atau live action berbau seperti ini tidak pernah habis untuk dicerotakan kembali. Contohnya saja, kisah Snow White yang tahun kemarin saja mempunyai dua versi Hollywood, atau bahkan tahun depan, ada Maleficent yang menceritakan fairytale dari perspektif villain Sleeping Beauty ini.

Sebagai studio besar, Disney adalah salah satu bagian penting dalam pengangkatan fairy tale ke film. Salah satunya adalah Enchanted, sebuah film yang berusaha me-reimagining fairy tale ke dalam sebuah tayangan yang lebih modern. Enchanted sendiri masih menerapkan basic formula dalam sebuah fairy tale lewat keberadaan seorang putri atau princess yang kemudian jatuh cinta pada seorang pangeran atau prince charming, namun pasti selalu saja pihak yang menghalangi, let’s say tokoh ibu tiri. Yah begitulah, Enchanted. Giselle (Amy Adams), seorang gadis biasa yang hidup dalam sebuah dunia animasi fantasi akhirnya menemukan pangeran dambaanya, Prince Edward (James Marsden). Keduannya siap menikah walaupun baru bertemu dalam sehari saja. Seperti biasa, cinta mereka dihalangi oleh trik yang dikeluarkan Ibu tiri Edward, Queen Narissa (Susan Sarandon). Giselle dikirim ke dunia dimana ending “happily ever after” tidak pernah ada, yaitu tidak lain tidak bukan adalah dunia nyata. Seketika tokoh kartun ini menjelma menjadi tokoh manusia dan harus berjuang di kehidupan kota New York. Giselle yang naif dan polos pun akhirnya bertemu dengan Robert (Patrick Dempsey) dan anak perempuannya yang menyediakan tempat tinggal sementara untuknya. Mengetahui Giselle hilang ke dunia nyata, Edward pun menyusul dan mencarinya, sementara Queen Narissa juga mengutus Nathaniel (Timothy Spall) untuk membunuh Giselle lewat apel beracunnya.

Smartly writen, consistently entertaining, tale in new height with self parody which makes it smarter and smarter. Okay, where’s the sequel ? Bring it on !

Pujian pertama sepertinya harus dilontarkan pada penulis atau screenwriter yang bisa secara apik meng-compile berbagai referensi cerita tale mulai dari Cinderella, Putri Tidur, sampai Snow White ke dalam satu screenplay yang solid dan menghibur. Screenplay dari Bill Kelly ini tidak hanya menghadirkan cerita tale, namun juga berhasil berimprovisasi dengan celah antara dialog fantasi ala tale tradisional dengan doalog yang lebih modern, dan itu menimbulkan kelucuan yang luar biasa.

Departemen casting juga harus diacungi jempol. Sepertinya tidak mudah untuk menemukan seorang putri yang harus bernyanyi, bertutur kata sampai mempunyai tampilan fisik yang benar-benar seperti seorang putri. Pilihan mereka pun jatuh pada Amy Adams, yang notabene pada tahun 2007 belum terkenal sseperti sekarang, walaupun pada saat itu ia sudah mengantongi nominasi Oscar untuk penampilannya di Junebug. Amy Adams pun menjelma sebagai seorang putri lewat penampilan fisiknya yang ditunjang dengan kostum, serta kemampuan menyanyi dan menarinya yang tidak lepas dari kata magical. Karakter Giselle yang pada animasi bisa dikatakan merupakan karakter yang simple, berhasil dihidupkan  ke dunia nyata hampir dengan sempurna. Karakter Giselle ini sangat menarik, dari seluruh film, karakter Giselle ini bukanlah karakter yang stabil dan cenderung sederhana. Giselle mengalami pengembangan karakter setelah setengah jam durasi berjalan yang juga tidak lepas dari plot cerita. Giselle yang berkepribadian malaikat dan super princess, berubah menjadi pribadi yang lebih real terhadap reality tanpa mengurangi sisi elegan dari karakter itu sendiri. Disinilah sebuah keistimewaan ketika sebuah karakter simple diperlakukan secara lebih real, sehingga adaptasi film dari fairy tale ini juga mempunyai elebih banyak emosi yang dapat dirasakan, walaupun penonton semua tahu bahwa film ini akan berakhir happy ending. Peran Edward dan Robert juga merupakan karakter yang sangat menarik karena keduannya merupakan karakter yang sangat berlawanan. Edward, pangeran polos dengan sentuhan narsis sedangkan Robert sebagai sosok pengacara yang sekaligus single parent yang tidak percaya dengan cerita berbau “fairy tale”. Villain yang diwakili Timothy Spall dan juga Susan Sarandon juga lebih dari cukup untuk mengimbangi sisi charming dan enchanting dari Giselle dan Prince Edward.

Berbagai referensi disertai self parody (yang membuat film ini terlihat seperti film meta) merupakan point utama mengapa film ini berbeda dan menghibur di sepanjang film. Tubrukan pandangan antara Giselle dan Robert tentang dunia mereka menjadi bahan jokes yang terus berhasil membuat penonton tertawa.

Salah satu adegan yang paling menghibur adalah adegan menyanyi yang tentu saja merupakan acara wajib pada sebuah musical. Tdak perlu banyak-banyak, scene menyanyi disini hanya terdiri dari tiga lagu namun ketiganya berhasil dimaksimalkan untuk menciptakan atmosfer magical dalam film. Ditulis oleh Alan Menken dan Stephen Schwartz, ketiga lagu ini berhasil masuk pada Oscars walaupun tidak berhasil menyabetnya. Ketiga lagu itu adalah Happy Working Song, That’s How You Know, dan So Close. Moment musikal juga ditambah oleh satu lagu yang sering dinyanyikan dalam sepanjang film yaitu True Love’s Kiss.

Film ini berhasil merangkul penonton dewasa dan juga anak-anak. Anak-anak akan tertarik dengan cerita yang simple, mudah dicerna, fantasi serta visualnya, sedangkan orang dewasa juga akan menikmatinya lewat dialog-dialog cerdas serta twist yang dibuat berbeda dan mengejutkan. Sebuah twist yang masih berada pada track fantasi ala fairy tale.

Take a fairy tae in new height ? Yes. Into real deal ? Yes, this is a formulaic happy ending as usual, yet surprising.

Trivia

Karakter Giselle sebenarnya berambut blonde, namun mengalami perubahan menjadi redhead.

Quote

Robert Philip: There’s no way of helping her. She’s done for true love’s kiss.

Prince Edward: What?

Robert Philip: It’s the most powerful thing in the world.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s