The Others (2001) : House of Darkness, Photosensitive, The Other Side, and The Big Huge Twicked-ist

Director : Alejandro Amenábar

Writer : Alejandro Amenábar

Cast : Nicole Kidman, Christopher Eccleston, Fionnula Flanagan, Alakina Mann, James Bentley, Elaine Cassidy

First of all, twicked-ist = twist + wicked, I know I am fucked up.

Menjadi seorang penggemar film baru memang banyak keuntungannya, salah satunya adalah setiap hari kita bisa memilih film-film bagus tanpa harus takut kehabisan film untuk ditonton. Yah, The Others mungkin sering diperbincangkan menjadi salah satu film horror yang memiliki reputasi baik, terutama jika mendenga twist-nya. Yep, I finally watch it. FINALLY.

About

Film yang turut diproduseri oleh Tom Cruise selepas high profile divorce-nya dengan Nicole Kidman ini bercerita tentang seorang wanita, Grace (Nicole Kidman) yang ditinggal suaminya untuk berperang. Terisolasi di sebuah pulau, ia akhirnya merekrut tiga orang pelayan (Fionulla Flanagan, Eric Sykes, Elain Cassidy) untuk mengurus rumahnya yang sangat besar. Grace semakin terisolasi ketika dua orang anaknya, Anne (Alakina Mann) dan Nicholas (James Bentley) yang mengidap penyakit photosensitive, yaitu sebuah penyakit yang membuat mereka tidak bisa terkena matahari dan harus beraktivitas di kegelapan. Konflik bermunculan, ketika Anne mulai berinteraksi dari alam lain yang harus menguji “keimanan” Ibunya yang sangat religius. Misteri apakah yang berada di dalam rumah itu ?

Film ini banyak menorehkan prestasi, mulai dari Nicole Kidman yang berhasil menembus nominasi Golden Globe dan juga BAFTA, dan juga sebagai film Spanyol yang berhasil menorehkan angka dua ratus juta dollar untuk perolehan box office worldwide. Tentu saja sebuah prestasi yang memukau, apalagi jika melihat genre film ini yang tidak terlalu familiar dengan awards.

“Very, very nice a horror movie. Kidman assures.”

Pada awal film, film ini dengan sabar memandu rumah yang bisa dikatakan menjadi salah satu objek yang dieksplor. Selayaknya sebuah tour, film ini sepertinya menginginkan penonton menjadi familiar dari ruang per ruang, dan tidak terasa asing. Secara personal, hal ini menjadi salah satu bagian penting untuk sebuah film horor yang menceritakan tentang haunting house.

Nicole Kidman, salah satu aktris yang paling disegani di Holywood tentu saja menjadi daya tarik tersendiri, ketika aktris sekalibernya bermain dalam sebuah film yang bergenre horror. Yep, dan penampilan Kidman sebagai istri relijius, setia, sekaligus kesepian berhasil meyakinkan penonton bahwa ada yang salah di rumah itu. Lewat sifat skeptisnya, Kidman seolah-olah berubah menjadi peran protagonist sekaligus antagonist yang menjadi dua sisi berlawanan. Ditambah dengan ketidakstabilan dari emosinya, Kidman disini berhasil memberikan sisi misteri terhadap karakternya dan juga menambah cerita, selain cerita hantu di keseluruhan film.

Faktor pendukung untuk sebuah old fashioned horror bertebaran, mulai dari lingkungan kabut yang membawa kengerian tersendiri, sebuah rumah kuno dengan banyak pintu (dan tentu saja piano), dan yang paling unik adalah bagaimana film ini menimimalkan penggunaan cahaya namun juga disertai dengan alasan yang diterima, yaitu menyisipkan cerita penyakit “photosensitive” yang membuat film ini memang harus dibuat dalam lingkungan yang gelap. Atmosfer yang sangat mendukung ini bisa dikatakan sebagai ujung tombak film sehingga film ini tidak perlu menggunakan visual effect yang aneh-aneh bahkan keberadaan “hantu” di film ini juga bisa dikatakan benar-benar halus dan tidak kasar.

The Others merupakan sebuah film horor yang memiliki misi bahwa ada sebuah cerita yang benar-benar ingin diceritakan. Tidak hanya berkonsentrasi pada keinginan menakut-nakuti namun The Others juga tidak mengeyampingkan sisi karakter yang terlibat. Skeptism mungkin menjadi salah satu bagian yang menyebalkan, apalagi jika dilihat pada sebuah film horor, mungkin juga terlihat ironis. Beberapa film menggunakan sifat skeptis ini sebagai tindakan bodoh, “Where’s the ghost ? I don’t believe in that kind of thing BUT I will scream if I see them, ANYWAY.” Namun, The Others berhasil menyeimbangakan sifat skeptis dari karakter utamanya dengan sisi relijius yang membuat perpaduan ini bukanlah sebuah tindakan menyebalkan, namun menjadi sebuah karakter yang menarik.

Salah satu bagian terbaik dari film ini adalah twistnya, namun disisi lain film ini juga tidak ingin memanipulasi penonton untuk memikirkan sesuatu sebaliknya dan di akhirnya lebih seperti membodohi penonton. Tidak, film ini bisa dikatakan mengalir secara natural, bahkan ketika revelation ketiga karakter pembantunya, film ini bisa dikatakan terlalu jujur. Yeah, film ini sepertinya ingin gambling dengan penonton, jika penonton bisa mengetahui twistnya, ya sudah, it’s still a win win solution for the movie.

MAYBE SPOILER

Dengan tahun rilis sesudah Sixth Sense, mungkin twistnya akan mengingatkan pada film tersebut. Namun, berbeda dengan Sixth Sense, The Others selayaknya sebagai penjawab dai film-film sebelumnya. Tidak hanya berperan sebagai twist di dalam film ini sendiri, The Others sepertinya ingin memberikan jawaban terhadap film-film sejenisnya. Tentu saja, walaupun masih banyak hal yang absurd, film ini berhasil menjawab pertanyaan, “Mengapa sebuah rumah bisa dihantui ?”, “Mengapa hantu di sebuah rumah tidak mau pindah ?” dan sebagainya. Suka tidak dengan twistnya, it’s still a very special twist.

Trivia

Xerodema Pigmentosum atau photosensitive dalam film ini merupakan penyakit yang nyata walaupun memang tergolong sangat langka.

Quote

Grace: The only thing that moves here is the light, but it changes everything.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s