Fruitvale Station (2013) : True “Tragic” Story of Oscar Grant, New Year Isn’t Happy Anymore

Director : Ryan Coogler

Writer : Ryan Coogler

Cast : Michael B. Jordan, Melonie Diaz, Octavia Spencer

Tahun baru, sebuah moment untuk harapan, cita-cita, ataupun resolusi untuk mengawali hidup yang lebih baru.

BUT NOT IN THIS MOVIE

Based on true story, mungkin menjadikan sebuah film lebih menginspirasi, untuk horor mungkin lebih menakutkan, untuk sebuah tragedi, mungkin menjadi lebih menyedihkan. Unluckily, yeah it’s a tragedy. Fruitvale Station merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah kejadian nyata. Oscar Grant (Michael B. Jordan) merupakan sosok yang menghadapi situasi yang kompleks. Setelah affair-nya dengan seorang wanita diketahui istrinya, Sophina (Melonie Diaz), ia kini terancam harus kehilangan pekerjaannya. Belum lagi masa lalunya sebagai narapidana masih menghantuinya, ia kini berusaha menjalani kehidupan sehari-harinya dengan biasa, mengantar anak semata wayangnya, menghadiri ulang tahun ibunya Wanda (Octavia Spencer), dan merayakan pesta pergantian ulang tahun yang mungkin menjadi moment terakhir hidupnya. Fruitvale Station adalah film yang mengulas detik-detik terakhir sebelum sebuah penembakan terjadi di sebuah stasiun dan merenggut nyawanya.

Film ini menjadi salah satu film yang menyita perhatian di Sundance 2013, selain itu banyak nama besar berada di belakang layarnya seperti Forest Whitaker, Octavia Spencer sendiri, sampai penulis novel The Help, Kathryn Stockett.

“Subtle performances, subtle in storytelling with subtle message.”

Film yang benar-benar dibungkam di ajang Golden Globe tahun ini berisi penampilan-penampilan subtle dai para pemainnya (yeah, memang penampilan halus namun dalam memang kadang diartikan sebagai penampilan yang datar, I still remember how someone tweeted Jennifer Lawrence has THAT flat face in Winter’s Bone). Penampilan yang cukup halus tentu saja dihadirkan oleh Michael B Jordan yang berhasil merepresentasikan penampilannya dengan apik. Untuk sebuah film biografi, Oscar Grant tidaklah digambarkan sebagai karakter yang sempurna, yang positif atau sebagainya. Karakter ini merupakan karakter yang terlihat simple namun harus menghadapi situasi yang rumit dari kehidupan sosial dan terutama keluarganya. Yang menarik adalah, penggambaran bahwa Oscar Grant ini bukanlah orang yang seratus persen sempurna, ia mempunyai background yang berbau dengan kriminal, dengan perselingkuhan, namun uniknya, bagaimana karakter ini digambarkan mempunyai kasih sayang dan responsibility, yang membuat turut “rooting” terhadap Oscar Grant sebagai sebuah karakter yang mempunyai sisi negatif dan positif.

Image

source : www,wikipedia.com

Credit tersendiri harus ditujukan pada Octavia Spencer, yeah kita tahu bagaimana kapasitas seorang Octavia Spencer sampai mampu “nyaris” menyapu bersih award season dua tahun kemarin. Namun, di film ini, Octavia Spencer sepertinya menghadirkan sebuah akting yang terkontrol dan juga tidak menggebu-gebu (walaupun sebenarnya pasti ia bisa). Ia tidak terlalu mendapatkan porsi dalam film, namun ia memegang kualitas aktingnya setiap ia berbagi layar dengan para pemain lainnya. Untuk dua orang temannya, Melonie Diaz juga mampu mengimbangi sebagai pasangan yang merasa “insecure” dengan ketidakpastian dari karakter utamanya.

Film ini diawali dengan footage amatir yang menggambarkan adegan penembakan walaupun tidak secara eksplisit. Membuktikan sebuah niat baik, bahwa untuk para penonton yang belum mengetahui insiden ini, bahwa film ini memberikan sebuah film yang bertujuan seperti re-storytelling dan mengenal Oscar Grant secara lebih dekat (in my opinion, tanpa ingin membuat sebuah dramatisasi berlebihan terhadap insiden utama). Yeah, film ini memang seperti reka ulang. Adegan demi adegan dilakukan secara biasa didukung dengan handheld camera yang membuat suasana shaky ala dokumenter untuk membuat scene demi scene terlihat natural. Seperti yang dikatakan sebelumnya, adegan inti di 10 menit terakhir bisa dikatakan sebagai natural thrilling. Seperti reka ulang, adegan demi adegan dilakukan secara biasa, namun yang menjadi hal yang paling menegangkan adalah sebuah kenyataan yang ada di pikiran penonton bahwa Oscar Grant pasti tertembak. Inilah salah satu sisi yang membuat adegan klimaks ini menegangkan.

Berbicara tentang tragedy, I don’t know the real fact, film ini tidak hanya sebuah reka ulang sebuah kejadian. Film ini lebih membahas kehidupan dengan luas. Dalam artian, film ini juga membahas konsep “fate” atau coincidence yang akhirnya berujung pada sebuah kejadian. Bagaimana aksi tindakan satu karakter akhirnya akan membuat reaksi karakter lain. Dibahas pula, walaupun secara implisit, bagaimana sign, atau tanda-tanda, ataupun firasat kejadian, seperti bagaimana Oscars Grant menolong seekor anjing yang tertabrak merupakan satu scene special tersendiri. Dan yang paling utama adalah bagaimana film ini membahas interaksi Oscar Grant dengan orang-orang di sekitarnya. Perkataan apa yang mungkin bisa menjadi sebuah “moment” terakhir merupakan salah satu bagian penting mengapa film ini merupakan sebuah metode penceritaan tragedi yang diharapkan mempunyai efek kepada penonton. Semua itu dapat di-compile dalam satu film dengan alami dengan nama Fruitvale Station.

Fruitvale Station merupakan sebuah film yang selayaknya seperti bom dimana setiap detiknya berharga.

Trivia

Octavia Spencer didapuk sebagai co-executive producer sebagai salah satu penarik minat untuk para calon investor.

Quote

Oscar : I love you, Baby (to his only daughter).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s