All is Lost (2013) : One Man Show to Survive “Life of Robert Redford” in The Middle of The Sea

Director : J.C. Chandor

Writer : J.C. Chandor

Cast : Robert Redford and the sea, and container and storm, etc

About

Sempat beberapa hari yang lalu membaca artikel yang menyatakan “The Best Villains in 2013”, sebuah artikel yang menarik ketika Top Villains jatuh pada sebuah benda atau peistiwa, bukan pada karakter, tokoh atau sosok. Yeah, salah dua villain yang menjadi musuh paling kejam di tahun 2013 adalah serpisahan satelit milik Alfonso Cuaron (NO SHIT !) dan satunya adalah kontainer mengapung di tengah lautan (yeah, villain ini hadir di film ini), membuat film ini bertambah menarik untuk ditonton ditambah dengan Redford, aktor kawakan di Holywood yang juga sepertinya akan mengikuti Oscar race tahun depan.

Kita sudah mendapati Sandra Bullock berjuang di luar angkasa terkatung-katung menyelamatkan diri dari serangan debris. Ternyata tidak hanya di luar angkasa, lautan pun bisa menjadi musuh yang turut menakutkan. Seperti tahun lalu, bagaimana Pi harus bertahan di perahu kecilnya, kali ini Robert Redfords pun menghadapi masalah yang hampir sama, hanya saja tanpa ikan terbang, tanpa harimau, tanpa ikan paus, tanpa pulau karnivora, dan mungkin saja, tanpa keajaiban untuk bertahan hidup.

Robert Redfords, our man, terbangun oleh guncangan yang membuat air masuk ke dalam kapalnya. Sebuah lubang yang disebabkan benturan sebuah kontainer terkatung di laut menyebabkan kerusakan di kapalnya. Sedikit demi sedikit ia menambal lubang tersebut dan ia berhasil untuk menunda waktu. Namun, ia tidak pernah memperkirakan apa yang terjadi ke depannya. Sebuah badai yang besar yang mungkin saja akan menenggelamkan tidak hanya kapalnya, namun juga semangatnya untuk tetap bertahan hidup.

“You could “smell the danger” of this one man show movie.”

One man show, film yang tidak hanya terdiri dari satu pemain, namun juga satu sutradara yang sekaligus merangkap sebagai penulis skenario tunggal ini benar-benar menguji kemampuan keduannya.

Untuk Robert Redford sendiri, film ini tidak menghadirkan interaksi antar pemain kecuali dirinya dengan lautan. Hal ini mungkin masih normal ketika ada voiceover yang menimpali (seperti halnya di Life of Pi), namun film ini juga tidak memberikan Robert Redford untuk ber-voice over ria kecuali hanya di awal pembukaan film. So ? Yeah, it’s totally depends on him. Durasi seratus menit, tanpa ngomong sekalipun dan melakukan aksi yang begitu demanding untuk usia Robert Redfords sekarang, memang seharusnya ada credit tersendiri untuk aktor yang juga bisa men-direct film ini. Robert Redfords memberikan penampilan yang berlapis, mulai dari ketenangannya menangani lubang kecil di perahunya, ketika ia mulai mencium bahaya yang akan datang (Yeah, penonton serasa bisa mencium bahaya yang akan datang, sensasi ini merupakan sensasi yang sangat langka, namun penting untuk film ini), ketika ia harus berjuang dan setiap usahanya harus dipatahkan, sampai ia akhirnya mengatakan “Fuuuuck” untuk emosinya. Tidak hanya Robert Redfords yang diuji kesabarannya, namun penonton juga dibuat haus sabar pada setiap situasi demi situasi. Dengan usianya yang tidak mudah lagi, ketika ombak demi ombak menyapu kapalnya, penonton pun akhirnya dibuat benar-benar simpatik pada karakter utama dan satu-satunya.

Apa yang membuat film ini begitu spesial ?

Yeah, film ini benar-benar melucuti segala senjata yang biasanya digunakan untuk menarik penonton untuk tetap bertahan di 100 menit, menggunakan kekuatan dalam “kekurangan” tersebut kemudian diampu oleh aktor juga sutradara yang begitu mumpuni membuat film ini bertahan sampai akhir. Tangan handal dari sutradara pun akan membuat penonton kagum ketika kita mengetahui bahwa script untuk film ini benar-benar kurang lebih hanya sekitar 30 pages saja untuk durasi 100 menit, bisa dibayangkan bagaimana sutradara membagi setiap sekuens dari film dengan sabar dan juga harus tetap natural untuk setiap tindakan yang dilakukan “our man”. Jika hampir tidak ada dialog pada screenplay, maka mungkin 30 kertas tersebut hanya diisi oleh detail-detail action yang dilakukan Robert Redfords, and that is quite something.

Seperti halnya Gravity yang ingin menghadirkan sesuatu yang real ke feature film sehingga sangat gila-gila-an dalam menghadirkan visualnya, All in Lost juga demikian namun tidak dengan visual effect yang berlebihan, semuannya terlihat natural dan sesuai dengan porsi, sebuah bencana yang menimpa di tengah lautan. Tidak hanya terlihat real dalam melakukan penampakan fisik, tidak seperti Life of Pi yang penuh dengan filosofi atau self-invention (walaupun sempat terbesit ekspektasi untuk melihat hal seperti itu) atau apalah itu, All is Lost tidak melakukan dramatisasi yang berlebihan pada karakter utamanya, bentuk ekspresi insecure, desperate dan juga harus menghadapi kematian lebih dihadirkan oleh natural raw emotion sebagai orang yang telah berumur oleh Robert Redford. Yeah, film ini memang sangat konsisten dalam  ingin menyampaikan sudut pandang yang lebih “real” dalam seseorang menangani bencana. Bahkan sepertinya J.C Chandor juga sepertinya tidak ingin mengambil pusing untuk mengeksplor background dari karakter Robert Redford (contohnya sisi keluarga, yang disinggung di awal dengan bentuk permintaan maaf Redford dalam sebuah surat), tidak ada sisi flashback, atau apalah, semuannya diserahkan penonton untuk menerjemahkan.

All is Lost bukanlah film yang mudah disukai oleh semua orang, film ini juga memang tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk film serupa, tapi memang kekuatannya memang sepertinya disitu, dengan melucuti film ini dari berbagai atribut (termasuk scoring yang minimalis, namun sangat efektif), film ini benar-benar ingin menunjukkan bakat dari dua orang utama di belakangnya, Robert Redfords dan tentu saja J.C Chandor.

Quote

I’m sorry, I know that means little at this point, but I am. I tried, I think you would all agree that I tried.

2 comments

  1. Setuju, menurut saya filmnya sendiri nggak terlalu groundbreaking, tapi penampilannya Robert Reford. Serasa nonton Life of Pi dicampur Titanic sama Captain Phillips. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s