You’re Next (2011) : Breaking The Door of Home Invasion with “Fighting Back” Final Girl

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Sharni Vinson, Joe Swanberg, AJ Bowen, Wendy Glenn, Nicholas Tucci

About

WHOOPSIE WRONG MOVIE POSTER !!!!!!

BY THE WAY, HAPPY NEW YEAR 2014 ( I know, I know what you guys thinking, I celebrated too (in my way))

This is the right one,

Selama dua tahun berturut-turut, terasa menyedihkan ketika film bergenre horror thriller merupakan film yang mengalami penundaan untuk perilisannya.Jika di tahun 2012, kita mempunyai The Cabin in The Woods yang bisa dikatakan super jenius, di tahun 2011 ini ada You’re Next yang menjadi salah satu film yang paling diantisipasi. Walaupun, sudah malang melintang di berbagai festival di tahun 2011, namun film ini masih banyak yang mencantumkannya ke dalam Top Movie di tahun 2013.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “home-invasion” ? Yah, satu, dua, atau beberapa orang yang kemudian diteror biasanya oleh stranger memakai topeng di rumah sendiri. Walaupun tidak banyak menonton mini genre ini, namun mini-genre ini tetap menjadi hal yang menarik. I like Camilia Belle’s When The Stranger Calls, atau The Strangers, atau yang paling mengecewakan dan tidak mampu mengeksekusi premis menarik, The Purge. You’re Next bercerita tentang sebuah reuni keluarga yang bersamaan dengan anniversary pasangan suami istri (Rob Moran, Barbara Crampton), seketika anak-anak mereka bersama pasangannya pun datang, yaitu Crispian (A.j Bowen) dan Erin (Sharni Vinson), Felix (Nicholas Tucci) dan Zee (Wendy Glenn), Drake (Joe Swanberg) dan yang lainnya. Sebuah adegan makan malam pun berubah seketika menjadi seperti “last supper” ketika sekelompok orang memakai topeng mengarahkan panah demi panah untuk membunuh mereka, yeah mereka dikenal dengan “animal”. Bisa bertahankah mereka ?

“Thank God, someone has a brain.”

Kalau sinopsis hanya sampai situ sepertinya tidak ada yang spesial kecuali satu persatu orang akan terbunuh dengan berbagai macam cara, yeah pure torture, and sometimes guilty pleasure. Mengapa film ini menjadi menarik ? This is it, and this is SPOILER !!!!!

Final girl, istilah ini bisa dikatakan sudah sangat lekat dengan genre horror thriller, bahkan The Cabin in The Woods sendiri mengungkap mengapa harus ada final girl dalam setiap peristiwa. Final girl biasanya digambarkan sebagai cewek yang “innocent”, paling baik, manis, dan beruntung, makanya karakter ini biasanya akan bertahan sampai akhir. Siapakah final girl di film ini ? Yep, dia adalah Sharni Vinson aka Erin. Film ini membuktikan bahwa merubah satu karakter saja ternyata mampu merubah sebuah film. Erin bukanlah tipe final girl yang lemah, ia mempunyai “kekuatan” tersendiri, ia pintar, dan ia mampu mengontrol dirinya sendiri di tengah situasi yang sedang genting-gentingnya. Walaupun dari segi akting tidak terlalu spesial, Sharni Vinson berubah menjadi karakter yang paling kick-ass dengan penuh jebakan-jebakan. Karakter inilah yang menjadi karakter pemecah segala klise yang ada pada genre serupa. Bagaimana Erin tanggap dan cepat mengambil keputusan, atau respon cepatnya terhadap “animal”, membuat kita berpikir “Thank God, somebody has a brain.”

Erin bukanlah sekedar karakter. Film yang tergolong komedi ini kemudian membandingkan Erin yang “berotak” dengan para karakter yang sepertinya masih terlihat bodoh untuk keluar dari situasi ini. Yah, mereka berlari ke luar rumah sambil teriak, kemudian meninggalkan seseorang di dalam ruangan sendiri, dan lainnya, membuat karakter Erin jauh terlihat superior. Ekspresi-ekspresi bodoh yang sebenarnya tidak pada tempatnya ini banyak mengundang tawa, yeah, walaupun mereka kebanyakan histeris.

Jika kebanyakan film ini menghadirkan villain atau stranger yang sempurna, You’re Next bisa dikatakan pada titik tertentu akhirnya “memanusiakan” karakter “animal” mereka. Yeah, pada beberapa moment, kita merasa bahwa Animals ini ya masih manusia, bukanlah malaikat pencabut nyawa yang akan hidup lagi setelah ditusuk berkali-kali. Sisi “memanusiakan” ini juga terlihat pada “cara mati” dari karakternya yang bisa dikatakan “yaaa, sadis” namun tidak “berlebihan”. Dengan beberapa sabetan machete, mereka langsung meregang nyawa. Maksudnya, di film ini masih mempertimbangkan batas tubuh manusia terhadap rasa sakit and that’s a rare thing. Sisi buruknya, mungkin untuk para penggila genre yang demanding dengan slasher atau semacamnya, film ini tidak terlalu menonjolkan sisi tersebut walaupun pada salah satu adegan klimax, satu scene benar-benar ngilu untuk dilihat.

Film ini juga menghadirkan seolah-olah “middle twist”, I like this kind of thing. Walaupun middle twist ini masih tergolong “predictable”, namun twist yang satu ini menjawab berbagai adegan di awal yang menunjukkan bahwa sutradara Adam Wingard masih mengutamakan unsur-unsur detail dalam sebuah cerita. Twist yang mengungkap arti “animal” ini sebenarnya sangat standard namun bisa dicover dengan twist yang sebenarnya, yaitu karakter dari Erin.

Film ini memang masih jauh dari sempurna, namun bagaimana film ini meng-combine sisi klise dan antiklise secara bersamaan, harus diacungi jempol.

Trivia

Ti West, Joe Swanberg juga merupakan aktor sekaligus director (untuk film mereka masing-masing). Is this kind of cartel or nepotism ? Haha

Quote

Erin: Why the fuck not?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s