Before Midnight (2013) : Mature Relationship’s Laboratory of “Almost Middle Aged” Jesse and Celine

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater, Julie Delpy, Ethan Hawke

Cast : Ethan Hawke, Julie Delpy, Seamus Davey-Fitzpatrick

Yeah, I am gonna review it as the one who knows nothing about Before Sunrise and Before Sunset (again).

About

Berbicara tentang relationship memang tidak ada habisnya, segala sisi dibahas. Ada yang membahas dari perspektif anak-anak (let’s say Little Manhattan), dari perspektif anak muda ( I don’t need to mention it), dari perspektif pasangan paruh baya, bahkan sampai orang tua (hits tahun lalu lewat Amour). Yeah, dan Before Midnight adalah film yang mungkin membahas relationship orang paruh baya (let’s say at the age of 40). Relationship di umur 40-an, mungkin yang kita bayangkan (I am 24 this year) adalah relationship yang stabil, mempunyai keluarga mapan, anak yang mulai tumbuh, namun bukan berarti TANPA MASALAH.

Menjadi salah satu trilogy dengan rating tinggi, apa yang membuat film ini begitu spesial ?

Before Midnight, bersetting beberapa tahun setelah Before Sunset (which I know nothing), Jesse (Ethan Hawke) mengantarkan anak laki-lakinya (Seamus Davey-Fitzpatrick) ke bandara untuk pulang ke Amerika ke tempat Ibunya, sementara Jesse masih berlibur dengan dua anak kembarnya sekaligus Celine (Julie Delpie) di Yunani. Seperti pada pasangan pada umumnya, dalam perjalanan pulang mereka chit-chat tentang “segalanya” termasuk pada rencana Celine untuk mengambil kesempatan bekerja di pekerjaan impiannya dan Jesse, kebalikan dengan rencana Celine, menyinggung bahwa ia ingin tinggal di Amerika sehingga ia bisa menyediakan waktu untuk anak laki-lakinya. Dari kasat mata, Jesse dan Celine adalah pasangan yang sempurna dengan dua anak kembar, namun ketika mereka mendapatkan kesempatan berdua untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah hotel, mereka mulai mengungkapkan segalanya yang “mungkin” akan merontokkan hubungan mereka berdua.

“It’s a beautiful relationship’s laboratory, getting real and smart but still keep its romantic romance.”

Before Midnight merupakan relationship’s laboratory, let me recall, film serupa dengan Dinking Buddies yang sukses melihat perkembangan hubungan lengkap dengan improvisasi para karakternya, atau dengan sentuhan komedi, The Five Year Engangement- Jason Segel dan Emily Blunt, walaupun film ini menjadi kurang menarik karena kelebihan durasi. Before Midnight sekarang mengkaji hubungan yang telah mature namun mempunyai banyak masalah latent dari para karakternya. Tidak mudah untuk membuat sebuah masalah atau konflik tanpa memperlihatkannya sebagai sebuah masalah atau konflik, disinilah kehebatan para penulis naskahnya yang terdiri dari aktor aktris utamanya sekaligus sutradara.

Film ini bersetting di Yunani dan kebanyakan durasi di habiskan pada satu tempat atau moment seperti perjalanan pulang ke bandara, makan malam, perjalanan ke hotel, adegan konflik utama di hotel, dan ending. Untuk film yang mengambil moment terbatas, film ini tidak segan-segan mengambil long shot, adegan tanpa putus yang dijamin akan menguji kemampuan para aktornya. Adegan Celine dan Jesse dalam perjalanan pulang dari airport merupakan salah satu adegan paling keren di 2013, dan kemudian adegan ini ternyata dilanjutkan pada adegan-adegan tanpa putus sampai akhir. Tidak akan berhasil jika satu adegan tanpa putus tanpa bakat atau material yang kuat untuk menarik perhatian penonton dalam satu waktu. Disinilah kunci mengapa Before Midnight menjadi sangat menarik, jika Drinking Buddies meng-improve dialog mereka secara casual dengan percakapan yang terkadang serasa “meaningless” namun tetap berarti ( I mean, terkadang percakapan sehari-hari terlalu tidak berkesan), Before Midnight serasa pada level yang berbeda. Percakapan antar dua karakter / lebih penuh dengan intelegensi para pemainnya, very smart, very witty, terlihat sangat antusias, terlihat sangat spontan dilanjutkan dialog-dialog ini juga dalam waktu bersamaan terkesan sangat natural, alami sekaligus mudah dimengerti untuk yang menonton. Before Midnight seperti menyajikan sebuah adegan improvisasi namun tetap terarah.

Kekuatan film ini, salah satunya memang berada pada level screenplay yang terlihat sangat kuat diimbangi oleh kemampuan Ethan Hawke dan Julie Delpie untuk membacakan setiap line-nya. Ketika adegan improvisasi yang casual terkadang tidak mempunyai point, setiap line di Before Midnight sepertinya mempunyai point tersendiri. Poin-point inilah yang membuat Before Midnight menjadi film yang mempunyai kapabilitas mengkaji hubungan secara lebih mendalam dan juga thoughful. Sisi lainnya, film ini juga menyajikan sudut pandang laki-laki dan perempuan tentang sifat insecure mereka akan long commitment, achievement mereka diluar komitmen yang terbentur dengan komitmen itu sendiri, dan semuanya terasa real dan nyata (I gotta say this movie reminds me of my own parent marriage when my parent debates about something). Terkadang film yang ingin menyajikan sesuatu yang kepalang real, serasa kehilangan sisi romantisnya, namun tidak dengan Before Midnight, sisi romantis ini tetap dipertahankan terutama lewat easy chemistry dari Ethan Hawke dan Julie Delpy yang sepertinya tidak lagi dipertanyakan.

Film ini memang bersetting di Yunani, dan bisa dikatakan tidak mengeksploitasi keindahan Yunani, yeah, film ini memang sangat berkonsentrasi tentang hubungan Jesse dan Celine, sangat konsisten, sangat stabil, namun film ini sama sekali tidak hilang keindahannya.

Film  ini dengan sukses membuai penonton seperti menjadi saksi dua orang yang sedang pacaran, penonton juga dibuat seakan-akan “takes a side” untuk setiap perdebatan yang dilakukan oleh Jesse dan Celine, sebuah bukti yang membuat film ini terasa enganging sekaligus efektif. If I have to take a side ? I gotta say, I am gonna agree with Celine’s.  Itulah kekuatan lain dalam film ini, dua karakter utamanya adalah karakter yang benar-benar real.

Bagian akhir film ini seperti mengingatkan pada Blue Valentine, bagaimana film ini ingin menginginkan sesuatu ending yang real, tidak corny, namun juga harus tetap mempunyai sisi romantis tersendiri. Yeah, harus diakui, masalah yang ada dalam film ini tidak bisa diselesaikan dengan satu jentikan ending dan perubahan karakter secara tiba-tiba yang membuat biasanya film terasa klise. Ending film ini merupakan kombinasi sesuatu yang romantis dan nyata, membuat kita berpikir dan bertanya-tanya tentang akhir dari relationship Jesse dan Celine. In real life, there will be no real ending in relationship, and this movie is LIFE. What a wise ending !

Trivia

“Although the movie features naturalistic dialogue, every scene was heavily rehearsed, rigidly followed the script and involved no improvisation.” – Trivia from IMDb

Yeah, trivia yang satu ini sepertinya menjawab semuannya, why this movie is so GODDAMN GOOD. Jika film ini tidak dinominasikan dalam Best Screenplay di Oscar ? FUCK YOU Oscar !

Quote

Celine: Now I know why Sylvia Plath put her head in a toaster!

Jesse: It was an oven.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s