Blue Jasmine (2013) : Socialite’s Border Between Sanity and Craziness, High Level of Hitting Bottom

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Here they are, the cast,

Uhm, classic……

Image

About

Woody Allen, yeah, no need introduction anymore. Blue Jasmine bercerita tentang kehidupan seorang sosialita New York yang harus menjalani hidup seratus delapan puluh derajat, yeah dia adalah Jasmine (Cate Blanchett). Dia sama sekali tidak memperhitungkan bahwa masa depannya akan menjadi “almost homeless”, “no job”, “almost no future”, terutama ketika ia drop out dari kuliah dan menikahi pebisnis licik Hal (Alex Baldwin). Tidak hanya licin menipu untuk merampok uang orang-orang termasuk uang Ginger (Sally Hawkins) dan suaminya, Hal juga diam-diam berselingkuh di belakang istrinya, walaupun Jasmine sebenarnya mulai mencium bau perselingkuhan namun memilih untuk menutup mata. Kini, Jasmin tinggal bersama adiknya, Ginger, di San Fransisco, dan telah bercerai dengan suaminya. Sebuah hunian yang kecil dan berbeda dengan rumahnya, Jasmine kini harus mengatur kembali hidupnya, terutama ketika ia melihat sebuah kesempatan untuk mendekati ambassador kaya, Dwight (Peter Saarsgad), hal yang sama juga dilakukan oleh Ginger ketika ia melihat laki-laki lain yang lebih berprospek ketimbang pacarnya yang urakan Chili (Bobby Cannavale).

Mengapa film ini harus ditonton ? Pertama Cate Blanchett sebagai fronrunner Oscar. Kedua, Woody Allen. Ketiga, pemanasan untuk menyambut Magic in Moonlight tahun ini😛.

“What’s so special of Woody Allen is how he twists story and character in a very interesting way.”

Seperti yang pernah dibahas di review film Woody Allen sebelumnya, yang paling menarik dari film Woody Allen adalah dia selalu memberikan “interpretasi” baru dalam sesuatu hal yang mungkin tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Interpretasi baru ini tentu saja hasil dari “aksi-reaksi” para karakternya yang terkadang membuat kita berpikir, “Oh yeah, that is possible, another unpredictable move”. Hal inilah yang membuat film Woody Allen (I talk about my histiry in watching Woody Allen’s movie, luckily every single of it is good, so far, I gotta say I am impressed “the threesome concept” in Vicky Christina Barcelona) tetap terasa fresh, walau lagi-lagi Allen pasti akan membahas yang bersinggungan tentang romance lagi, romance lagi. Sisi inilah yang sedikit kurang di film Blue Jasmine ini. Blue Jasmine seakan-akan memberikan “interpretasi baru” ini dengan “final smooth move”, tidak terlalu ekstrem dari film Woody Allen sebelumnya. Tetapi itu sama sekali bukan kekurangan, this movie is still pretty good.

Mengajak penonton untuk jalan-jalan di kota San Fransisco, dan juga dunia pernak-pernik gemerlap sosialita kaya, Woody Allen juga mengeksplor karakter habis-habisan (Lagi, sejarah menonton Woody Allen, Blue Jasmine adalah salah satu film Woody Allen yang “paling” sedikit karakter). Yeah, Cate Blanchett sebagai Jasmine menjadi bulan-bulanan. Beruntungnya, Jasmine diperankan oleh salah satu aktris yang paling berbakat, yang hampir selalu memberikan sharp performance. Jasmine is complex. She’s crazy, basically (Oh no, dia seakan-akan berada pada garis batas antara gila dan juga waras). Masih terus dirongrong oleh kemewahan masa lalu, Blanchett terus-menerus harus mengeluarkan dialog-dialog blabbering dengan ekspresinya yang super depresi, membuatnya menjadi very dark anti hero di film ini. Penampilan yang teramat kuat dimana bisa dikatakan setiap scene Blancett selalu mencuri, dan mencuri lagi perhatian penonton (Hmmm, tidak kaget jika ia menjadi frontrunner yang akan susah untuk dikalahkan oleh nominee lain).Dengan pacing yang pas, setiap adegan terasa intens (sedikit banyak karena tone bicara Blanchett yang juga intens) namun tanpa kehilangan sisi komedi yang sangat khas. Blanchett memberikan penampilan total dan sharp namun tidak kehilangan sisi meyakinkan dari genuine emotionnya sebagai orang biasa. Yeah, second Oscars to go !

Karakter Jasmine serasa terus menerus “diangin surga” oleh karakter Hal yang begitu “rapi mengayomi” dan manipulatif, terus menge-drag Jasmine ke masa lalunya. Tampil sebagai karakter yang berkebalikan, Ginger diperankan secara “nerimo” oleh Sally Hawkins. Ginger merupakan gen yang benar-benar berbeda dari Jasmine (yeah,tentu saja karena keduannya sebenarnya diadopsi). Ginger lebih “fake positive thinking”, move on dan juga selalu meletakkan bar standarnya terlalu rendah, yeah Ginger seakan-akan bermasalah dengan self-esteemnya terutama ketika ia berhadapan dengan Jasmine yang superior. Juga tampil apik adalah Chili, karakter yang selalu kontra dengan Jasmine yang merupakan karakter yang tidak hanya mengungkit-ngungkit masa lalu Jasmine namun juga selalu mempertanyakan ketidakjelasan dari masa depan Jasmine. Dari semua karakter yang menghantamnya lagi dan lagi, tentu saja Cate Blanchett terus-menerus bisa tetap berdiri hingga akhirnya karakter ini berakhir dengan sangat tragis di ending film.

Woody Allen kali ini benar-benar ingin memperlihatkan bagaimana hidup seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Film ini pun demikian, terbagi atas masa sekarang dan juga scene-scene flashback yang menunjukkan “arogansi dan kesombongan” Jasmine, membuat penonton berpikir bahwa screenplay tidak terlalu kejam, namun cukup fair untuk memperlakukan karakternya. Yeah, Jasmine deserves this punishment. Inilah film “hitting the bottom” yang membuat penonton tidak perlu mengkasihani karakternya namun juga tidak membuat penonton menge-judgenya (yeah, sedikit sih). Kata lainnya,untuk setiap karakter kompleks di film ini, Woody Allen selalu berusaha untuk memberikan penjelasan. Shit what they’ve been going through.

Untuk para penggemar Woody Allen terutama sisi “pembahasan sebuah relationship” mungkin hubungan antara Hal dan Jasmine, atau bahkan Dwight dan Jasmine terlihat dangkal untuk ukuran Woody Allen, namun hubungan antara Chili, Ginger, dan pacar barunya cukup menarik untuk disimak dan tentu saja dengan “sedikit” twist di akhirnya. Disini akan terlihat bagaimana Jasmine ternyata “lebih jujur” dan tegas dalam memilih laki-laki ketimbang Ginger yang terkesan hypocrite. Yay ! Finally, Jasmine shows positive traits.

Woody Allen + Cate Blanchett + no nudity (I’m kidding) = CLASS

Trivia

Tas Hermes (is that a brand ?) yang dibawa Jasmine melebihi dari total budget untuk wardrobe.

Quote

Jasmine: Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s