The Wolf of Wall Street (2013) : Let’s Get This Party Started – Biography of Jordan Belfort as “Live in Infamy” Stockbroker

Director : Martin Scorsese

Writer : Terence Winter, Jordan Belfort

Cast : Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McConaughey, Kyle Chandler, Jean Dujardin

About

Comment for the poster : Hmmm, is this the face of the wolf ?

Okay, Jordan Belfort (Leonardo DiCaprio), seorang broker sukses yang harus memulai karirnya benar-benar dari nol. Ketika ia mendapatkan license pertamanya sebagai broker dengan bantuan sang bos, Mark Hanna (Matthew McConaughey), tiba-tiba masar dilanda Black Monday yang membuat Jordan Belfort harus kehilangan pekerjaannya. Ia pun sampai di sebuah kota Long Island dan bergabung di sebuah perusahaan yang berkaitan dengan penny stock, bisa dikatakan sebuah investasi dengan level yang lebih kecil. Mencium adanya peluang, Jordan membentuk perusahaannya sendiri dengan bantuan teman-temannya, termasuk teman barunya Donnie (Jonah Hill). Berkembang pesat dan mempunyai profit yang besar, perusahaan ini berkembang dan merubah lifestyle Jordan dan teman-temannya. Rumah, mobi, pesiar, sampai istri cantik Naomi (Margot Robbie) pun berhasil Jordan dapatkan. Sayang, FBI mencium kejanggalan di perusahaannya, dipimpin investigasi oleh seorang agent (Kyle Chandler), Jordan pun berusaha menyelamatkan uang-uang tunai kesayangannya, termasuk melarikannya ke bank Swiss yang mempertemukannya dengan Jean Jaques Saurel (Jean Dujardin).

“Hedonism at its best.”

Okay kolaborasi kelima dari Martin Scorsese dan Leonardo DiCaprio ini memang nyaris tidak bisa mengikuti award race tahun ini, setelah selamat dengan rating NC 17, film ini pun harus berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan proses editing-nya dengan durasi yang cukup ekstrem, yeah, 180 menit, HOLY SHIT ! 180 menit.

Leonardo DiCaprio berhasil memerankan sebuah karakter yang shallow lengkap dengan sifat rakus, ambisius sekaligus seorang sosok leader yang sangat motivational. Bisa dikatakan, kita sudah mulai bosan dengan segala peran yang diambil Leonardo DiCaprio namun berlanjut pada powerhouse performance yang itu-itu saja. Yeah, itulah sebabnya akhir-akhir ini ia di-snub oleh Academy. Perannya sebagai Jordan Belfort seakan-akan sebuah rejuvenitation yang membawa DiCaprio ke energi yang lebih muda, penuh semangat. Dalam film ini ia benar-benar “out of control” menjalani setiap adegan yang melibatkan ratusan F-words, coccaine sampai nudity yang jarang ia lakukan. Pesona Leonardo DiCaprio sepertinya masih terus terpancar untuk membawa dirinya di sepanjang film tidak peduli sebagaimana tercelanya karakter yang ia jalani. Well done.

Supporting actor/actress, Matthew McConaughey memang sedang hot-hotnya, kemampuannya sebagai seorang aktor dengan kapabilitas berakting emmang sedang berada dalam puncak performa. Walaupun hanya mendapatkan screentime yang terbatas, penampilan McConaughey ini bisa dikatakan sebagai salah satu bagian terfavorit di sepanjang film. He’s so good as a mentor. Lain halnya dengan Jonah Hill, Hill seakan-akan me-reprise perannya di film Superbad atau 21 Jump Street, yeah, Hill + F-words, memang bukanlah hal yang baru dan menyegarkan. Hill banyak menyediakan part-part komedi yang memang sangat khas, it’s like we watches Seth as stockbroker. He’s fucking annoying. Yang mengejutkan adalah penampilan dari Margot Robbie, aktris kelahiran 1990 ini mampu berakting prima dengan memberikan kesan duchess dan juga sisi exclusive, berhadapan dengan aktor sekelas DiCaprio sepertinya tidak membuatnya gentar, hmmm, she’s so delicate. Kyle Chandler, meh, another mediocre performance, and Jean Dujardin sedikit memaksakan dengan harus membaca dialog berbahasa Inggris (yeah, kita masih ingat bagaimana Berenice Bejo harus menerjemahkan apa yang dikatakan Natalie Portman di Oscar 2 tahun yang lalu), sama sekali tidak terlihat jika ia adalah Oscar winning actor.

Martin Scorsese merupakan sutradara dengan tangan ajaib dalam mengolah setiap filmnya. Ia hampir bisa mengolah segala genre, mulai dari kriminal sampai Hugo yang terbukti sangat magical. The Wolf of Wall Street benar-benar memberikan gambaran tentang sebuah perubahan gaya hidup yang dialami oleh Jordan, sebuah gaya hidup yang materialistis, sedikit tanpa moral, hard partying, ambisius, pride, dan juga rakus. Bukan Scorsese jika film ini tidak terasa solid walaupun harus menghadapi sebuah durasi hampir tiga jam lamanya. Untuk sebuah sajian tentang hedonism, Scorsese benar-benar tahu bagaimana harus menggelar pesta.

When solid is not enough, apa yang kehilangan dari film ini adalah transisi dari Jordan yang lebih konvensional menjadi Jordan yang sangat urakan. Di awal film, kita amsih bisa melihat sisi Leonardo DiCaprio yang terlihat masih polos, namun dalam jentikan jari, karakter ini langsung berubah. Mungkin seharusnya dengan durasi sepanjang ini, banyak bahan yang bisa diolah, namun sepertinya The Wolf of The Wall Street hanya ingin memberikan the most entertaining part (which is party, party, and party) yang membawa repetisi demi repetisi tanpa adanya bahan baru yang diolah. Sisi “Wall Street” yang berbau dengan saham-saham, security atau apapun itupun terpaksa harus dilewatkan, terjadi seperti penurunan intelektual yang dialami Jordan yang ambisius di awal film, menjadi Jordan yang benar-benar fuck-up.

Women will be offended, mysoginist. Yeah, film ini melalui nudity memang agak sedikit disturbing untuk beberapa kalangan, oleh karena itu membuat film ini benar-benar segmented (untuk penggemar Scorsese saja, mungkin). Film ini diolah dengan sangat maskulin dan tanpa menyadari akan keberadaan wanita. Yeah, yeah, scene-scene yang melibatkan hookers sebagai media pelampiasan seks (boobs everywhere), seseorang yang rela membotaki rambutnya demi 10.000 dollar (come on, you’re not Fantine), sampai yang sedikit ekstrem adalah bobroknya mental Jordan sampai menghantam istrinya (yeah, bukan nampar lagi, tapi menghantam). Mungkin film ini akan terlihat tidak seimbang jika penonton yang melihatnya adalah wanita.

Untuk sebuah biografi, dimana biografi dikaitkan dengan something real, banyak scene-scene yang bisa dikatakan meragukan untuk sebuah biografi. Maksudnya, sepertinya film ini tidak terlalu serius untuk sebuah biografi. Adegan ketika Jordan dan istrinya berlayar ke Monaco kemudian diterjang sebuah badai, that is unbelievable, they’re gonna survive. Selain itu, there’s alot of “sweetheart” potential yang ada dalam film ini, bagaimana karakter Jordan sebenarnya masih memiliki hati nurani dengan anaknya, cintanya kepada istrinya, namun sepertinya film ini tidak ingin membahas dari segi itunya. Yeah, membuat karakter Jordan terlihat kurang manusiawi.

Finally, film ini masih terlihat sangat solid berkat sutradara dan juga aktor utamanya, namun dengan issue yang sepertinya sudah terlalu capek untuk diulang-ulang dengan durasi 3 jam, I should agree with its CinemaScore.

Trivia

Joseph Gordon Levitt dan Chris Evans menjalani audisi untuk sebuah peran.

Quote

Jordan : Sell this pen !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s