In A World… (2013) : Half Ass-ed Competition In A Trailer Industry as A Male Dominated World

Director : Lake Bell

Writer : Lake Bell

Cast : Lake Bell, Fred Melamed, Ken Marino, Michaela Watkins

About

Image

source : impawards.com

Comment for the poster : From the title, tagline, and picture, I thought it’s all about radio-broadcasting industry. My mistake.

I am not quite a big fan for a movie which has one same director, screenwriter, or sometimes actress. Yeah, In World bisa dikatakan sebagai wujud aktualisasi diri dari seorang Lake Bell (I haven’t heard her name before). Setelah googling namanya, ternyata ia pernah menjadi pemain pendukung di It’s Complicated atau No Strings Attached (actually, her filmography doesn’t ring any bell). Yep, di film ini ia merangkap menjadi sutradara, penulis sekaligus aktris utama. Pencapaian ini sama dengan istri Jon Hamm, Jennifer Westfeldt yang juga merangkap berbagai posisi di Friend with Kids, yang berakhir dengan mediocre.

In A World…(take one), In A World (take two), In A World (take three). Oke In A World, merupakan bagian dari kata-kata epic yang berada pada suatu trailer film quadrilogy terkenal, biasanya disuarakan oleh para laki-laki dengan suara bass khas maskulin. Carol (Lake Bell) merupakan anak dari seorang pengisi trailer legendaris, Sam (Fred Melamen). Ketika ayahnya akan diglari Lifetime Achievement Awards, Carol malah berada pada posisi underachiever, (yeah I don’t know why I watch “hitting the bottom” movie so much). Tak punya kamar sewa, tak punya pekerjaan tetap, tak punya pacar. Hingga akhirnya, karirnya sebagai seorang voice coach melonjak naik, dan mendapatkan beberapa job kakap. Ketika quadrilogy ini mulai mempertimbangkan suara Carol sebagai suara trailer yang membuat terobosan untuk memeperluas peran wanita di industri, ayah Carol sendiri, dan seorang pengisi suara lain Gustav (Ken Marino) siap menghadang jalannya untuk ikut berkompetisi memperebutkan proyek trailer dari film jutaan dolar ini.

“Simply overrated. Just a fine movie.”

Hookay sound harsh maybe, tetapi jika ada film yang paling ter-rated di 2013, mungkin film inilah. Film ini bukanlah film jelek, namun juga bukan film superb yang membawa sesuatu yang lain untuk penonton. Film ini juga bukan film lucu, namun juga bukan film tidak lucu. Film ini juga bukan film yang ngalir, namun juga bukan film yang stuck. Yeah kata lainnya, film ini sepertinya berada titik tengah, standard. Standar baik dari segi penceritaan, standar dari segi akting, dan lain sebagainya.

Membahas sebuah tema yang sering sekali diangkat yaitu “hitting bottom”, namun In A World tidak ingin mengemasnya dalam sisi yang depresif atau “sudah jatuh tertimpa tangga”. In A World lebih menceritakan bagaimana karakter Carol ini bersikap “easy going” terhadap hidup dan akhirnya keberuntungan menghampiri dirinya. Karakter Carol sendiri tidak diperankan oleh aktris cantik, atau aktris dengan kaliber akting yang memukau, karakter Carol lebih seperti karakter biasa, diperankan biasa, oleh Lake Bell. Bukan karakter yang mempunyai “charm” sendiri atau kharisma (I gotta say, I compareher with Greta Gerwig’s charisma) namun juga tidak terlalu “hateful” terhadap penonton. Yep, biasa.

Mungkin sisi yang paling menarik adalah industri yang diangkat dalam film ini. I don’t know if trailer is such huge business, terakhir melihat industri ini disinggung mungkin di film The Holiday yang diperankan oleh Cameron Diaz. Film ini juga mengerucutkan industri ini dengan sisi voiceover yang menjadi sebuah elemen penting dalam sebuah trailer (walaupun sepertinya sudah mulai jarang trailer yang masih memakai voiceover, sepengetahuan menonton trailer). Kembali seperti membuka wawasan, bahwa industri trailer terutama dari sisi voiceover lebih didominasi oleh para pelaku pria, yang menyebabkan kaum wanita menjadi kaum minoritas. Disinilah, sisi bagaiamana karakter Carol mendobrak industri ini menjadi salah satu bagian “surprise” di dalam film.

Film ini tidak hanya tentang Carol, diceritakan pula kehidupan kakaknya, Dani (Michaela Watkins) yang rumah tangganya dilanda affair, kemudian ada ayahnya yang mempunyai sisi ego sendiri sebagai seorang orang tua dan juga seorang senior di industri ini, ada pula teman kerja Carol yang memiliki crush dengannya, dan ada pula Gustav, seorang pria kaya raya yang ingin mendekati Carol secara asmara, namun terhalang sisi kompetisi. Yep, it’s a big snowball. Hasilnya, terkadang film ini kurang fokus dalam menyoroti kehidupan Lake Bell sebagai seorang voice coach dengan karirnya yang melonjak. Terlalu banyak karakter yang ingin merebut porsinya, terlalu banyak kehidupan orang lain yang harus dihadapi oleh Carol. Sisi setengah-setengah ini bisa terlihat pada kurangnya sisi romantisnya kehidupan Carol atau kurangnya sisi personal yang melibatkan persaingan Carol dengan ayahnya.

Sekali lagi, film ini bukanlah sebuah film yang buruk, film ini memiliki cara tersendiri dalam menyajikan komedinya. Untuk usaha Lake Bell yang juga ingin berperan serta dalam dunia “penyutradaraan” yang sepertinya juga didominasi oleh pria, maka usahanya di In A World ini harus diakui jempol sebagai debutnya. I have seen worst.

Trivia

Film ini disyuting selama 20 hari saja.

Quote

Carol: This Wednesday, one woman will teach another woman to sound a little less retarded.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s