Big Bad Wolves (2013) : Another “Prisoners” Tortured In The Basement to Provoke Laughter, and (Maybe) Confession

Director : Aharon Keshales, Navot Papushado

Writer : Aharon Keshales, Navot Papushado

Cast : Rotem Keinan, Tzahi Grad, Lior Ashkenazi

Comment for the poster : It’s not about red riding hood anymore, it’s all about who’s the real wolf.

About
One of the big news this week, Quentin Tarantino batal memproduksi Hateful Eight karena script-ny bocor secara online. Berbicara tentang Tarantino, film ini juga sedikit menyinggung sosok sutradara yang satu ini. Beberapa minggu lalu, film ini masuk ke dalam jajaran film yang difavoritkan sutradara tersebut. Sebenarnya sebuah judul yang belum terlalu dikenal jika dibandingkan film-film kesukaan yang lainnya.

Big Bad Wolves sedikit bersinggungan dengan misteri dan juga revenge yang melibatkan tiga tokoh utama, seseorang yang diduga sebagai penculik, seorang polisi dan juga ayah dari korban penculikan. Yeah, sekilas memang mengingatkan kita pada film Prisoners. Film ini MEMANG sedikit mirip-mirip.

Okay, mungkin konsep nobody is innocent bisa dikatakan menjadi salah satu tema dalam film ini. Ketika mayat seorang gadis tanpa kepala ditemukan, seorang guru yang diduga pedofil menjadi korban penculikan dan penganiayaan. Penculiknya tidak lain tidak bukan adalah ayah dari gadis tersebut yang masih ngotot penasaran dimanakah kepala anak gadisnya di kubur, dan seorang polisi yang harus kehilangan pekerjaannya karena video viral penganiayaan kasus ini. Ketika sang guru yang diduga tersangka terus menerus menyangkal dugaan pembunuhan, pasangan ayah dan polisi ini pun tidak segan-segan melakukan penganiyaan yang mungkin akan berakhir fatal.

“Maybe the only thriller where you could see the maniac baked a cake.”

Bagaimana film ini menyatukan elemennya di awal film harus diacungi jempol, terlihat kompleks di awal walaupun memang dikemas tidak terlalu dalam. Sajian awal film ini cukup menyatukan tiga karakter utama, dan memberikan motif yang kuat untuk lebih dikemas sebagai sebuah konflik ke depannya.

Scoring merupakan faktor paling penting dalam film ini. Scoring ini dapat terlihat di opening scene yang sudah memberikan nuansa haunting, intens dan serius, digabung dengan sekuens scene petak umpet yang dilakukan tiga orang anak sebagai awal bencana yang menjadi sumber konflik dalam film ini. Big Bad Wolves bukanlah sebuah film yang 100 persen serius (disamping memang dari sinopsisnya saja, film ini terlihat begitu crime dan menegangkan), jika Prisoners mengeksekusi premise hampir sama dengan kualitas akting serius dari para pemainnya, disini hampir semua pemain masih dikatakan menghadirkan sebuah penampilan yang biasa, seperti melakukan ekspresi dalam kehidpuan sehari-hari ditambah dengan dialog-dialog yang tidak terlalu ambisius untuk menjadi sebuah film thriller, melainkan lebih dialog dengan banyak sisi lucu dan komedi. Ketika perpaduan scoring yang menegangkan dan haunting ini digabungkan dengan scene biasa, maka hasilnya adalah sebuah perpaduan sajian hiburan yang sangat unik. Disisi lain kita bisa tertawa terbahak-bahak di suati cerita yang kita seharusnya kita mengerutkan dahi. Yeah, bisa dikatakan ini sebagai sebuah com-thrill, comedy thriller (hmmm that’s a word ?). Bukan sebuah kejutan mengapa Tarantino menganggap film ini sebagai film favoritnya, yeah karena memang film ini memiliki sense of humor yang bisa dikatakan berbeda. Black humor exactly.

Baik dari sinematografi, scoring sudah sangat terlihat confident untuk memberikan kesan thrilling untuk penonton, namun sepertinya film ini stuck pada scene di basement, yang hampir terjadi separuh durasi. Kesan film yang penuh dengan puzzle, misteri, di awal ditukar dengan adegan penyiksaan tanpa memberikan penonton banyak clue tentang siapakah pembunuh gadis tanpa kepala ini ? Yeah, memang film ini berhasil mencapai apa yang juga dicapai film Prisoners, ambiguitas. Disisi lain, penonton disajikan sebuah tayangan bahwa setiap karakter bisa menjadi maniac (oleh karena itu judul film ini adalah Big Bad Wolves, not Big Bad Wolf, plural). Maniac atau psycho yang dibahas bukan hanya pembunuh berantai, namun juga bagaimana setiap karakter harus berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dengan cara yang terkadang tidak benar. Bagaimana karakter seorang ayah akhirnya berubah menjadi seorang monster ? Bagaimana karakter seorang polisi malah berubah melanggar hukum demi mendapatkan pekerjaannya kembali ? Dan bagaimana karakter seorang guru yang terlihat innocent harus disiksa demi perbuatan yang mungkin tidak ia lakukan ?

SPOILER MAYBE

Scene penyiksaan di basement ini memang sangat disturbing namun sepertinya kurang diimbangi dengan rasionalitas para karakternya, yeah terlihat memang yang paling normal adalah sosok polisi yang akhirnya dia melakukan sesuatu yang bisa dikatakan “dalam akal sehat” sedangkan tokoh lainnya benar-benar seperti kehilangan akal sehat. Kecuali memang benar meraka adalah maniac atau serigala yang sebenarnya. Tidak terlalu banyak yang ditawarkan di scene basement ini kecuali adegan penyiksaan, dan penyiksaan (dan black humour yang terselip kadang-kadang, termasuk adegan memanggang roti, that is really something).

Film diakhiri dengan sebuah twist yang, hmmm, sedikit menyesakkan, dan jika kita menyaksikan adegan demi adegan di sepanjang film, sebenernya clue itu sudah ada tentang siapakah pembunuh sang gadis sebenarnya. Lihat ekspresi muka mereka !

Trivia
Official selection untuk Tribeca Film Festival

Quote
Arab guy : Why do you Jews always think that we all want to kill you ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s