Blue Caprice (2013) : Sniper Attacks Dramatization, Tutor – Chess Prodigy Grown Up Bonding Time

Director : Alexandre Moors

Writer : R.F.I. Porto

Cast : Isaiah Washington, Tequan Richmond

About
Blue Caprice merupakan film yang menggambarkan tragedi mengerikan yang terjadi di Amerika Serikat melibatkan beberapa insiden penembakan terhadap orang-orang yang dipilih secara acak dan juga terjadi di berbagai area seperti Maryland, Virginia dan juga Washington DC. Film yang dipremierkan di Sundance 2013 ini menceritakan kehidupan sang sniper yang menjadi tersangka utama.

Film ini diawali dengan courtesy berbagai penembakan di-insertkan dengan berbagai panggilan 911 tentang berbagai insiden penembakan. Hmm, sound convincing. Kemudian film mengalami flashback di 5 bulan yang lalu, tepatnya di kepulauan Karibia ketika seorang anak remaja Lee (Tequan Richmond) ditinggalkan begitu saja oleh sang Ibu, ia kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat kebapakan, John (Isaiah Washington) dan memutuskan untuk pergi bersamanya. Lee yang begitu penurut akhirnya mau menuruti segala keinginan “ayah angkatnya” setelah mengetahui bahwa John telah dipisahkan secara paksa dengan anak-anak yang sangat dicintainya. John, yang bekas army, tahu benar bagaimana mengakses untuk mendapatkan senjata setelah ia melihat bahwa Lee mempunyai bakat alami untuk menjadi seorang sniper. Disinilah “proyek” keduannya berjalan, menembaki orang-orang secara acak, mengubah motif dari misi personal ke sebuah misi yang lebih besar, yaitu meruntuhkan sistem Amerika Serikat.

“When pills finally kick, which is in the last 30 minutes, it’s priceless.”

Okay, untuk yang belum pernah browsing film ini seperti apa, sepertinya sensasi dalam menonton film ini lebih didapat. Diawali dengan footage tragedi, film ini terlihat meyakinkan untuk awalan menceritakan sebuah tragedi (sepertinya pendekatan yang sama yang dilakukan Fruitvale Station). Kemudian adegan flashback meninggalkan penonton benar-benar menjadi clueless. Film ini sebenarnya tentang apa, dan juga mau dibawa kemana. Adegan pertemuan Lee dan John berjalan sangat alami, begitu juga dengan interaksi dan perkembangan hubungan mereka. Naturalnya adegan di paruh pertama membuat film ini terlihat tidak pretentious untuk menjadi sebuah film thriller, ataupun terlihat ambisius dengan menampilkan sebuah tone film yang biasa, tanpa mencoba untuk menjadi darkish-darkish atau bagaimana. Sama seperti tipikal film indie,memang diperlukan kesabaran dalam menonton film ini. Plot berjalan dengan sangat lambat dan juga banyak scene yang perlu untuk diinterpretasikan sendiri. Yeah, film ini sebuah film yang sangat sabar.

Berbicara tentang karakter, terdapat hal yang sangat bertolak belakang antar dua karakter utama. John lebih digambarkan sebagai seorang ayah yang open book. Ia terbuka dengan Lee, ia menyayangi Lee namun ia juga tahu benar bagaimana menyeret Lee ke dalam sisi kriminal. Lee lain lagi, seorang anak yang kebanyakan diam, no talkactive, ia bisa diibaratkan sebagai blank pages yang siap ditulis apa saja oleh John. Dilihat dari performance yang biasa, John dan Lee ini sama-sama membawa sisi misterius. John dengan misi dan masa lalunya, sedangkan Lee yang bisa dikatakan seperti efek bola salju yang makin lama makin berbahaya dan berbuat nekat. Lagi, dn lagi film ini tidak terlalu membentuk karakter utamanya menjadi terlalu ambisius. Untuk ukuran seorang sniper dan juga cold blooded killer, film ini membuktikan sisi “manusia biasa” dari seorang kriminal yang berhasil dipertunjukkan dibandingkan menjadi sok-sokan menunjukkan sisi “pembunuh” untuk mendukung unsur genre film ini. Yeah, inilah kelebihan film indie, lebih memiliki cerita untuk diceritakan secara lebih “natural” ketimbang menambahkan banyak “dramatisasi”dan juga gimmick atau tetek bengek yang tidak perlu.

Lee adalah sebuah karakter yang sulit terutama ketika karakternya lebih banyak diam. Yeah, high tolerance untuk Tequan Richmond jika hampir sepanjang film karakternya direpresentasikan sebagai karakter yang datar. Namun, terdapat sisi lain dari seorang John ketika menghadapi sebuah feeling selepas membunuh. Tidak ada scene yang merepresentasikan sebuah gejolak batin (atau apalah) dari seorang John. Yeah, I translate it as he got neutral feeling after he killed somebody, maybe he’s natural born killer (no judging). Karakter  Lee yang diperankan bland ini kemudian terlihat sangat ganas ketika 5 menit terakhir dari film ini, sebuah scene interview dirinya dengan seorang wanita, membuktikan bahwa Tequan Richmon memberikan layer untuk penampilannya, for the last scene, he really nailed it.

John, sebagai otak dibalik semua tragedi, juga digambarkan sebagai orang biasa. Not quite super megamind. He got pain, he got compassion. Namun, yang paling penting adalah kharisma sebagai seorang ayah yang bisa men-trigger Lee melakukan berbagai penembakan mengerikan.

Maybe, there’s something missing or he has no choice. Suatu lubang menganga terdapat di film ini, yeah tidak lain tidak bukan adalah free will dari seorang Lee mungkin terlihat kurang dieksplor membuatnya benar-benar seperti boneka kayu yang digerakkan oleh John. It’s killing people, goddamn it. It’s big deal. Sisi ini menunjukkan apakah Lee benar-benar terlalu bodoh untuk berjuang “lepas” dari cengkeraman John, atau hanya karena dia tidak mempunyai banyak pilihan.

Kunci film ini adalah bersabarlah, bersabarlah. Yeah, mungkin kunci untuk menonton kebanyakan film indie. I like sniper. Yeah, adegan 30 menit terakhir bisa dikatakan sangat thrilling dan juga price-less. Bagaimana seorang sniper memutuskan KAPAN untuk menekan pelatuk senjatanya memang sangat intens dan menegangkan (the last time I watched good sniper’s shooting scene was Jack Reacher’s).

Image

source : www,wikipedia.com

In the end, film ini merupakan sebuah tayangan yang sabar dalam melakukan storytelling-nya. Gripping in the end, walaupun sisi emotional impact seorang sniper mungkin kurang bisa dipertunjukkan. Yeah, namun mengetahui pergeseran motif penembakan, dari motif personal beralih ke sebuah motif yang lebih besar, that is something new and fresh (tentu saja tanpa terlihat terlalu ambisius dan pretentious).

Oh yeah, I even didn’t realize that this movie is actually a biopic.

Trivia
Just for your information, John dieksekusi lewat lethal injection pada tahun 2009 lalu. Tujuh tahun setelah insiden penembakan.

Quote
Lee : Where’s my father ?

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s