Concussion (2013) : Yum or Yuck ? Escapism of Wife, Mother, Lesbian, Middle Age, and Escort

Director : Stacie Passon

Writer : Stacie Passon

Cast : Robin Weigert, Maggie Siff, Johnathan Tchaikovsky, Julie Fain Lawrence

“It’s still a yum, I like the unique blend of drama and its comedy (though it’s not comedy, but Golden Globe said a movie which makes you laugh is a comedy, so basically it’s a comedy.)”

Yeah, berbicara tentang middle life crisis, kemudian digabungkan dengan tema lesbian, ditambah dengan status penikahan pasangan lesbian, dan kemudian perselingkuhan, kemudian dampaknya terhadap pernikahan. Yeah, seperti itulah Concussion akan bercerita. Pernahkah kita melihat sebuah ruangan yang begitu rapi, indah, dan edgy ? Berwarna smooth grey, terasa nyaman, terasa begitu menenangkan namun kemudian setelah kita melihat lebih dalam, kita merasa banyak sisi ruangan yang terasa kosong ? Seperti itulah Concussion.

Diawali dengan scene “when you’re forty, you choose your ass, or you face”, menunjukkan bahwa terdapat sisi perubahan yang akan dijalani seseorang ketika ia berumur 40 tahun, jika dikaitkan dengan wanita, tentu saja hal ini akan dikaitkan dengan penampilan dan penampilan. Tidak sebuah kejutan, jika film ini memang diawali dengan para “hot mom” yang sedang melakukan beberapa olahraga untuk menjaga penampilan mereka. Perubahan ini kemudian seperti menonjok ke muka Abby (Robin Weigert) ketika ia mendapatkan sebuah kecelakaan yang menyebabkan wajahnya berdarah, dan dari sinilah perubahan seorang Abby berawal.

Abby, seorang ibu rumah tangga biasa, tanpa pekerjaan, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurusi rumah dan menjemput anak-anaknya terlihat mulai jenuh dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya sebagai seorang interior designer. Ternyata pekerjaan barunya ini sama sekali tidak merubah kesepiannya, karena pasangan lesbiannya Kate (Julie Fain Lawrence) terlihat capable mencukupi segala kebutuhan namun dari segi waktu ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Alhasil, kehidupan sex mereka pun berubah menjadi zero. Untuk mencukupi kebutuhannya yang satu ini, Abby pun melakukan “hubungan” dengan orang lain, dan ia sangat merasa bersalah akan hal itu. Untuk meluapkan rasa bersalahnya ini, ia bercerita dengan rekannya Justin (Johnathan Tcaikovsky) yang malah seakan-akan menjerumuskannya pada titik yang lebih dalam tentang perselingkuhan. Kate diperkenalkan dengan seorang “mucikari”, The Girl, yang memberinya kesempatan untuk menjalani petualangan barunya sebagai escort yang melayani wanita-wanita yang lebih muda.

Berbicara tentang lesbian parent, tentu saja kita akan mengingat The Kids are Allright beberapa tahun yang lalu. Jika film tersebut bisa dikatakan berkonsentrasi ke “dalam keluarga”, lain lagi dengan film ini. Concussion berkonsentrasi pada petualangan sex yang dilakukan Abby dan terlalu berkutak-kutik dengan karir barunya ini. Petualangan sex ini sayangnya tidak diimbangi dengan substance yang membuat film ini lebih terisi untuk penonton. Jika menganggap film ini sebagai film erotic, maka sisi ini bisa dikatakan terlalu tanggung mengingat sisi erotic ini tidak terlalu ditampilkan (yeah, harus mau tidak mau harus dikaitkan dengan jumlah nudity atau keekstreman adegan sex yang tidak terlalu menonjol di film ini). Scoring yang digunakan juga akan mengingatkan kita pada erotic thiller semacam Chloe, sebuah scoring yang bisa dikatakan terlalu haunting namun tidak juga merepresentasikan sisi danger atau menegangkan dari sebuah film thriller (yeah, mengingat film ini memang termasuk dalam genre drama). Berasal dari genre drama inilah, sepertinya scoring di film ini terasa “inappropriate.”

Berbicara tentang genre film ini, terdapat beberapa sisi hal unik. Film ini bisa dikatakan menambahkan bumbu-bumbu komedi lewat beberapa adegan dan juga dialog yang termasuk cerdas, namun tidak mencoba terlalu keras untuk melucu. Yeah, it’s unique combination. Thanks to its decent screenplay. Hasil kombinasi sisi komedi ini ternyata menuai hasil yang begitu positif, film ini menjadi tidak terlalu depresif, membuat 90 menit lebih bisa dilalui dengan lebih mudah.

Talking about character, Robin Weigert harus mampu menampilkan karakter wanita yang memiliki range yang sangat luas. Di awal film, ia hanyalah istri biasa dengan sisi keibuan dan kesepiannya, namun seiring berjalannya film, ia harus mampu menjadi seorang escort yang seksi dan terus-menerus menanyakan apa yang ia mau. Satu yang spesial adalah transisi karakter Abby ini. Salah langkah karakter ini akan jatuh menjadi kurang natural ataupun kurang dipaksakan. Salah satunya lewat sisi normal seorang Abby yang tidak ingin mengambil client-nya secara sembarangan, namun mereka harus bertemu dengan ngobrol terlebih dahulu. Robin Weigert memiliki kemampuan untuk menjalani setiap sex scene nya dengan diferensiasi yang membuat film ini lepas dari kata monoton. Ada masa di saat ia berbuat awkward, ada saat ia mencoba menjadi escort yang lebih baik, hingga akhirnya ia bisa menjadi seorang escort yang mampu meng-handle client-nya. Lagi, dan lagi, film yang lebih berkonsentrasi pada petualangan baru Abby ini akhirnya menemui titik jenuh di sepertiga paruh terakhir, yeah, ketika penonton mulai menginginkan sesuatu yang lebih dibandingkan adegan sex dengan ini, adegan sex dengan itu. Sempat terjadi tensi di adegan petualangan Abby, ketika seorang karakter bernama Sam (Maggie Siff) datang membawa misteri dan “ancaman”nya sendiri, dan sisi inipun akhirnya diredam mengingat lagi, film ini bukanlah film erotic thiller.

Sampailah penonton pada final act-nya, disinilah baru sang sutradara sekaligus penulis menambahkan perspektif baru tentang sebuah relationship. Karakter Kate menjadi karakter kunci yang membuat film ini tidak berakhir tidak terlalu buruk. Masih ada sisi-sisi baru untuk penonton terhadap kehidupan wanita di usia 40 tahunan bersama dengan pasangan mereka.

Trivia
Di Berlin memenangkan Teddy Award untuk film tentang Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender.

Quote
Kate : Please, put something on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s