Killers (2014) : Psychological Thriller of “Crossing Borders” Transformative Dark Instinct

Director : Kimo StamboelTimo Tjahjanto

Writer : Takuji UshiyamaTimo Tjahjanto

Cast : Kazuki KitamuraOka AntaraLuna MayaRin TakanashiEpy KusnandarRay Sahetapy

Let’s make confession ! Manusia adalah makhluk aneh, dan satu-satunya makhluk yang membuat film kemudian membinasakan spesiesnya sendiri dengan cara-cara yang unik.Tidak suatu kejutan, ketika franchise seperti Final Destination ataupun Saw bisa bertahan lama, karena pada dasarnya, yeah, manusia memiliki sisi gelap, dan setiap manusia mempunyai insting untuk membunuh di dalam diri masing-masing. Sisi inilah yang berusaha dieksplor oleh Mo Brothers.

Image

Duo sutradara ini benar-benar bisa dikatakan salah satu sutradara yang paling membanggakan. Setelah berhasil membesut segmen Dara di Fear menjadi segmen andalan dan pamungkas, kemudian memperluasnya menjadi film Rumah Dara yang juga sukses, bergabung di ABC’s of Death dengan segmen yang paling “what the fuck” dan bisa dilihat pada V/H/S/2 berkolaborasi dengan sutradara-sutradara berbakat lainnya, dan lagi-lagi dengan Safe Haven-nya menjadi salah satu segmen paling favorit. Dengan prestasinya ini, projek Mo Brothers yang satu ini memang sangat layak dinantikan. Killers adalah salah satu projek yang dikelola dengan sabar tidak peduli dengan hype Rumah Dara waktu itu. Perkembangan Killers mulai dari sebatas premise sampai akhirnya film ini kembali mengumpulkan atensi penonton karena bisa menembus Sundance 2014.

“Huge improvement of Mo Brothers’ directorial effort, but personally, it’s beautiful painting I don’t understand. Maybe I should ask Hannibal Lecter.”

Killers merupakan loncatan karir Mo Brothers dalam membesut sebuah film yang tidak jauh dari genre thriller. Tidak hanya ingin memompa adrenaline penonton, Killers menjelma menjadi film yang “lebih berpikir” sekaligus indah, stylish, sleek dalam segi packagingnya. Terlihat dari opening scene film ini yang tidak kalah confident dengan film-film luar negeri. Seorang pembunuh profesional, perfectionist sadis, menghantui para perempuan di Jepang dengan mem-publish setiap hasil karya torture-nya dengan korban lewat sebuah website, Nomura. Sosok Nomura (Kazuki Kitamura) bisa dikatakan merupakan sosok pembunuh yang bisa dikatakan sudah tercetak di pikiran kita, mempunyai tatapan mata tajam setajam setan dan merupakan manipulator yang baik. Sosok Nomura yang lebih “been there done that”-killer ini sukses di-embody oleh aktor Jepang dikombinasikan dengan sisi humanisnya berupa masa lalu dan sisi misterius dari nalurinya sebagai seorang pembunuh. Terdapat sisi “loneliness” dari karakter Nomura ini, terutama ketika ia akhirnya bertemu dengan seorang gadis penjual bunga cantik yang mungkin akan mengerti dirinya.

Di bagian bumi yang lain, Indonesia, seorang jurnalis, Bayu (Oka Antara), mempunyai luapan emosi yang tidak bisa ia ungkapkan ketika karirnya dihancurkan oleh seorang petinggi dan pengacaranya (Ray Sahetapi, Epy Kusnandar). Ia juga harus berpisah dengan istrinya (Luna Maya) dan terus hidup di bawah tekanan dari mertuanya (Roy Martin). Ia secara rutin mengupdate setiap video yang diupload Nomura hingga suatu malam instingnya sebagai seorang pembunuh keluar ketika ia tidak sengaja terlibat dalam perampokan berdarah. Aksi pembunuhan yang dilakukan Bayu ini akhirnya mendapatkan perhatian Nomura, mereka pun berkomunikasi, dan seketika semuannya akan berubah.

Masih ingat salah satu poster awal dari film ini adalah butterfly yang terbentuk dari pistol, mungkin jika harus dikaitkan dengan butterfly, film ini akan berkaitan dengan transformasi atau perubahan seseorang (atau mungkin juga akan mengingatkan kita pada sisi psikologis selayaknya di film Butterfly Effect), yeah dilihat dari genrenya memang kita tidak akan mendapatkan sisi bloody selayaknya rumah dara yang lebih pure horror-thriller. Dengan sandang “psikologis thriller” ini bisa dipastikan film ini akan mempunyai plot yang lebih pelan untuk lebih masuk ke dalam psikologis penonton. Kembali ke istilah transformasi, film ini ingin menunjukkan bagaimana dua karakter yang berlawanan akhirnya mempunyai sesuatu yang sama kemudian ingin menyorot progress dari perkembangan jiwa mereka. Mulai dari karakter Nomura yang sepertinya mulai menemukan sisi “manusiawi” dalam dirinya namun ternyata seperti berada pada level yang lebih tinggi sebagai seorang pembunuh, dan Bayu, seorang newbie yang harus berhadapan dengan emosi, rasa bersalah, ketakutannya sebagai seseorang yang menemukan sisi lain dari dirinya. Dari sisi ini, terdapat sesuatu yang “hilang” dari proses transformasi ini, entah mungkin perlu waktu untuk mencerna dua karakter yang sama-sama dominan atau memang proses ini mengalami shortcut terutama dari sisi Bayu. Bayu diperankan secara powerful oleh Oka Antara, sangat powerful, namun sepertinya ia harus rela berbagi screentime dengan Nomura yang jauh lebih “mapan” di film ini. Keterbatasan screentime kemudian masalah yang complicated ini sepertinya membuat Bayu kurang menunjukkan proses penetrasinya sebagai seorang yang “innocent” berubah menjadi seorang pembunuh, dengan kata lain, seperti tidak ada me-time untuk menunjukkan psikologis karakter yang satu ini.

Karakter Nomura yang lebih mapan dan sudah berdiri ini menunjukkan sedikit kejomplangan layar antara waktu Jepang dan waktu Indonesia. Di scene Jepang terlihat scene lebih confident, indah, lebih mantap sedangkan scene Indonesia ini lebih menunjukkan proses meraba-raba untuk masuk ke dalam cerita. Untungnya ketidak seimbangan ini hanya dalam sisi teknis saja, untuk keseluruhan cerita kedua pembagian area ini masih seimbang, tanpa ada dominasi tumpang tindih satu sama lain. Pembagian Jepang-Indonesia ini mau tidak mau merupakan tantangan untuk proses editing, sebuah sisi yang tidak mudah untuk men-split namun juga meng-compile film dalam waktu yang bersamaan sekaligus harus mempertahankan dan membangun tensi sepanjang film. Untuk beberapa saat, pengalihan Jepang ke Indonesia, Indonesia ke Jepang ini selayaknya mengalami fase lelah yang mau tidak mau, yeah, membuat penonton menguap. Barulah ketika mereka bertemu, walaupun sebatas lewat chat atau live cam, kedua sisi ini mulai tergabung, walaupun sekali lagi untuk membangun koneksi hanya lewat media video atau chat ini benar-benar tidak mudah, sisi “coaching” dari seorang Nomura kepada Bayu pun seakan-akan terlewatkan. Lagi dan lagi, missed chemistry antara Bayu dan Nomura ini membuat penonton kembali lagi harus meraba-raba motif dari final act film ini.

Terkait karakter, puas dengan penggambaran Nomura, dan sangat puas dengan penggambaran Bayu (jika berdiri secara sendiri-sendiri), namun satu yang sedkit mengusik adalah Epy Kusnandar. Epy Kusnandar terlihat sangat masuk dalam porsi yang pas ketika ia berakting sebagai cult leader di V/H/S/2, namun disini sepertinya bisa dikatakan “sedikit egois” ketika hampir semua pemain “sejawatnya” seperti Oka Antara, Luna Maya, bahkan Ray Sahetapi berakting dengan begitu subtle, tidak mencoba untuk terlalu comical, penggambaran pengacara cocky oleh Epy Kusnandar terlihat terlalu kasar, and THAT hairstyle, is WHAT THE FUCK ?!!!

Mo Brothers juga melakukan beberapa pelemahan pada beberapa sisi cerita, seperti sisi polisi yang tidak terlalu diperlihatkan (sekalinya mereka muncul, they are still stupid), sisi dampak video ini terhadap masyarakat, sisi media (terutama ketika kita melihat Bayu bekerja di bidang media), atau juga sisi moralnya, memang semuanya berarah pada psikologis dalam diri pembunuh, ajaibnya, membuat pelemahan-pelemahan ini bukanlah sebagai plot-hole yang berarti atau mengundang protes penonton.

Sisi provocative (walaupun minim stimulus) membuat sisi positif yang lain untuk film ini, film ini memang seharusnya tidak ditonton satu kali, harus beberapa kali, sebuah potensi untuk memiliki sisi cult mungkin, I think it’s gonna be better if you give it second shot. And cut !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s