Music of The Heart (1999) : Small Wonders of Struggling School Teacher and Wes Craven

Director : Wes Craven

Writer : Pamela Gray

Cast :  Meryl StreepAidan QuinnAngela Bassett

Streep’s Streak Challenge

Siapakah yang lebih sexy ? Biola atau Meryl Streep yang baru menginjak usianya yang ke lima puluh ? Yeah, you can’t decide. Terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Roberta Guaspari, seorang istri yang ditinggal lari suaminya kemudian membentuk karirnya sendiri sebagai seorang guru musik biola. Kisahnya sebagai co-founder Opus 118, sebuah sekolah musik, telah diabadikan dalam sebuah film dokumenter Small Wonders dan Music of The Heart adalah versi dramatisasinya.

Roberta Guaspari (Meryl Streep) seketika hidupnya berubah, ketika rumah tangganya hancur begitu saja. Tidak hanya harus menghidupi dirinya, ia juga harus menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Atas desakan ibunya, akhirnya ia mencoba melamar sebagai guru musik di sebuah sekolah pinggiran Harlem yang mengajar sebagian besar anak kulit hitam. Tentu saja, di lingkungan seperti ini musik, terutama biola merupakan alat yang dianggap secara “eksklusif” oleh para orang tua murid. Dengan bantuan kepala sekolah (Angela Bassets), Guaspari pun memulai perjalanannya sebagai guru sekolah musik yang tidak mudah disamping kehidupan cintanya yang mulai menemukan seorang laki-laki dambaan, Aidan (Brian Turner).

“Nothing special but heartwarming and inspiring.”

Wes Craven, sutradara yang mungkin di tahun 1999 sedang berada dalam puncaknya karena sukses dengan Scream dan Scream 2 akhirnya memilih projek non horor ini bersama aktris yang bisa dikatakan salah satu aktris terbaik sepanjang masa. Hmm, such a divine couple, ditambah dengan cerita berbau biopic dan music, film ini menjadi salah satu sajian hangat jika ingin menyaksikan film dengan sensasi late 90’an. I gotta say, Sunday afternoon is the best timing.

Hampir tidak ada yang spesial, namun bukan berarti film ini tidak layak tonton juga, dalam film ini. Film dengan durasi 2 jam ini berhasil menghadirkan sebuah situasi yang hangat, dan perlahan-lahan berubah menjadi inspiring di akhirnya. Berbicara tentang Meryl Streep, aktris yang satu ini membuat film ini begitu berjalan perlahan dan membuat setiap scene menarik, yeah she raised the bar. Berperan sebagai seorang wanita yang harus hidup di sebuah lingkungan karir baru, yang tidak menerimanya begitu saja. Apa yang membuat film ini bertahan sampai akhir tidak terlepas dari karakter Meryl Streep yang begitu struggle dengan sisi mediocre dari sisi storyline-nya. Something’s good in biopic, Roberta Guaspari is not pure hero, dia memiliki masalahnya sendiri, dia memiliki emosi dan kekhawatiran sendiri, dan juga ia memiliki sisi “versatile” membuatnya bisa menyerah sewaktu-waktu sebagai guru musik. Dua sisi personal dan profesional dari Roberta Guaspari ini terlihat menarik sampai di titik akhir dimana ia benar-benar menjadi seorang pahlawan. Sebagai guru musik-pun, Meryl Streep terlihat sangat lincah dan tidak kagok dalam memainkan benda yang satu ini, dengan penampilan yang penuh otoritas namun tidak ambisius, film ini benar-benar milik Meryl Streep, MODERATELY.

Berbicara tentang guru, pastinya kurang lengkap jika tidak dibarengi dengan bagaimana relatonship guru dan murid, dalam hal ini Meryl Streep tidak lagi berhadapan dengan aktor dan aktris dengan kaliber yang sama (mungkin paling dekat dengan Angela Bassets), disini ternyata inilah salah satu alasan mengapa Meryl Streep layak dinobatkan sebagai one of greatest living actresses nowadays. Sadar ia tidak tampil sendiri, ia benar-benar bisa “strangely blend in” dengan para aktor dan aktris cilik yang terlibat. Strangely blend in disini dalam artian dia tidak merangkul lawan mainnya dengan kebaikan atau bla bla bla, namun dengan caranya sendiri, her patient, her mean-ness, her durability.

Salah satu hal yang paling inspiring adalah bagaimana film ini seakan-akan melakukan time lapse, memajukan waktu 10 tahun ke depan, namun tanpa membuat penonton seakan-akan kehilangan sesuatu. Scene ketika para murid yang telah Roberta Guaspari ajari 10 tahun yang lalu kini kembali dan membantu misi yang sedang Guaspari jalani, that is so inspiring. Sisi lemahnya film ini, film ini memiliki banyak burden dalam ceritanya, namun jalan penyelesaiannya terkesan manipulative, terkesan mengambil banyak jalan pintas (terlepas dari benar tidaknya jalan ceritanya), cerita terkadang terlalu “supportive” pemeran utama, dan perjuangan para murid untuk final act-nya terkesan menjadi kabur.

Untuk usaha seorang sutradara yang ingin menampilkan sesuatu yang lain, this movie is too heartwarming. No matter how predictable it is, I like it for my Sunday afternoon.

Trivia
Peran Roberta Guaspari sebenarnya ditujukan untuk Madonna.

Quote
Roberta Guaspari: Oh, I see. After 10 years, after 1400 kids have learned the violin, “this is just an extra program!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s