Oldboy (2003) Versus Oldboy (2013) : Ask Why This Movie Needs A Remake (or Not) ?

Director :Chan-wook Park (original) ; Spike Lee (remake)

Writer : Garon Tsuchiya (manga), Nobuaki Minegishi (manga), Chan-wook Park (original) ; Mark Protosevich (remake)

Cast : Min-sik ChoiJi-tae YuHye-jeong Kang (original) ; Josh BrolinElizabeth OlsenSharlto Copley (remake)

(REVIEW) Remake selalu mempunyai peluang untuk mendapatkan skeptism dari para pecinta film, terlebih lagi jika film yang akan diremake merupakan film yang tergolong “ideal” untuk para fansnya. Salah satunya adalah film Oldboy, film yang diadaptasi dari manga Jepang dan merupakan bagian dari trilogy Vengeance Park Chan Wook.

Seorang laki-laki, Joe/Dae-Su (Josh Brolin/Min-sik Choi) tiba-tiba dipenjarakan oleh orang yang tidak dikenal, tanpa alasan, tanpa penjelasan, selama jangka waktu yang sangat lama (versi remake 20 tahun, versi original 15 tahun). Dia diberi makan, diberi hiburan berupa sebuah televisi, diberi fasilitas, hingga akhirnya ia dibebaskan, tanpa alasan, tanpa penjelasan juga. Joe/Dae-Su pun bertemu dengan seorang gadis yang merasa simpati, care, dan perhatian dengan keadaannya, Mary/Mido (Elizabeth Olsen/Hye-jeong Kang). Mereka berdua pun bekerja sama untuk memecahkan teka-teki yang ada sampai akhirnya sang pemenjara menampakkan batang hidungnya, Adrian/Woo Jin (Sharlto Copley/Ji Tae Yu). Dengan ancaman akan membunuh anak Joe/Dae Su, Adrian/Woo Jin memberikan tantangan kepadanya untuk mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, teka-teki inilah yang akan mengarah ke sesuatu yang lebih besar dan mengerikan. Ask not why you were imprisoned, ask why you were set free.

Jika predikatnya memang sudah “remake”, sebenarnya scene to scene pun tidak menjadi masalah, contohnya pada Let Me In yang sukses membuat versi Holywood Let The Right One In, atau mungkin bahkan Carrie yang menerapkan hal serupa namun masih memberikan sentuhan-sentuhan barunya. Lee’s Oldboy melakukan beberapa scene to scene namun lupa untuk memberikan sesuatu yang fresh (tidak harus baru) terhadap originalnya, bahkan fatalnya lagi bisa dikatakan remake ini malah mengalami pengerutan dari originalnya.

Let’s judge this movie…

“Ambitiously unpassionate remake for hilariously darkly bizzare original.”

Dua film mendapatkan treatment eksekusi yang berbeda, jika versi originalnya lebih dikatakan sebagai hilariously bizzare version, versi remake-nya lebih cenderung pretentious to be darker version. Pendekatan yang lebih mediocre untuk remake didukung dengan screenplay yang lemah jika dibandingkan dengan versi originalnya yang kaya dengan umpan-umpan humor disana-sini. Jika originalnya lebih compelling, sekaligus lebih kaya, remake ini terkesan terlalu “teragenda” oleh cerita yang sudah ada, membuat setiap scene adegan menjadi “Act one, done ? Okay wrap it up. Act two, done ? Okay wrap it up. Act three, done ? Wrap it up.” Tidak usah jauh-jauh membandingkan scene yang berbeda, untuk scene yang sama pun, lets say kita mengambil adegan bertarung keroyokan, yang ternyata sangat berbeda rasa. Versi original terdapat sentuhan humor dan action, sedangkan versi remake-nya, that is the ridiculous action scene. Lagi, adegan sex, untuk versi original sangat terasa sisi passionate-nya, untuk remake-nya, meeeh !

Dari awal film saja, Oldboy (2013) sudah melakukan pergeseran tentang konsep hubungan anak dan ayah, mungkin ter-americanized. Landasan bagaimana seorang ayah menyayangi anaknya menjadi sangat penting terutama ketika hampir di sepanjang film ini, film ini berkisah perjuangan sang ayah untuk mendapatkan kembali sang anak (terutama untuk versi remake-nya). Dae-Su is an asshole, but he still care with his daughter, Joe is an asshole and he seems “less” care with his daughter.

Oldboy (2003) memiliki durasi 20 menit lebih panjang daripada versi remakenya, namun dari ke-efektifan penggunaan durasi, Oldboy langsung masuk ke jalan cerita, langsung masuk ke sisi “imprisonment” dari karakternya, ketimbang berkonsentrasi pada tetek bengek yang harus dialami Josh Brolin di awal film.

Josh Brolin vs Min-sik Choi, tidak usah dulu melihat dari segi akting-nya, ketika kita melihat bagaimana Min-sik Choi mengunyah gurita hidup-hidup sudah terlihat komitmen dari aktor yang satu ini. Jika dibandingkan, mungkin akan terjadi perbedaan yang begitu jauh mengingat pendekatan kedua film ini pun juga berbeda. Josh Brolin lebih seriously dark, dengan ekspresi mukanya yang cenderung lebih banyak diam dan memberikan gurat ekspresi dendam yang menggebu-gebu. Tidak bisa dikatakan jelek juga, namun hanya ukuran standar bagaimana kita melihat Josh Brolin dipenjara selama 20 tahun. Berbeda dengan Min-sik Choi yang mampu bertransformasi dari ridiculous guy menjadi darkly ridiculous guy, tidak segan-segan memberikan ekspresi konyol disertai dengan voice-over yang begitu absorbing dengan keadaannya ditambah dengan sentuhan humor, kita bisa melihat bagaimana frustasinya Dae-Su ini dipenjara selama 15 tahun.

Oldboy 1

The girl, Elizabeth Olsen vs Hye-jeong Kang, keberadaan karakter Mary atay Mido merupakan sebuah sisi yang sangat krusial. Ternyata, bagaimana “menjerumuskan” karakter ini ke jalan cerita pun menjadi sangat menarik untuk diamati. Mido lebih “reasonable” untuk masuk ke jalan cerita ketimbang Mary yang terlihat seakan-akan langsung masuk sebagai friendly stranger yang tentu saja too good to be true untuk cerita seperti ini. Mido juga digambarkan sebagai karakter yang innocent namun masih memiliki sisi misterius untuk Dae-Su ketimbang Mary yang lebih bersifat seperti karakter netral.

Oldboy 2

The villain, Sharlto Copley vs Ji Tae Yu, kelemahan lagi untuk Oldboy (2013) yang tokoh villain-nya lebih terjebak pada style untuk berakting ketimbang lebih meng-eksplor untuk masuk ke dalam karakter seperti yang dilakukan Ji Tae Yu. Sisi yang sangat sayang ketika Sharlto Copley malah tampil “lembek” dibandingkan dengan Ji Tae Yu yang lebih sadis dengan caranya tersendiri.

Tentu saja tidak mudah untuk me-renew sebuah jalan cerita, mengganti gaya dan nafasnya, apalagi kemudian jika dikaitkan jalan cerita juga berhubungan dengan teknologi. Disinilah sebenarnya Oldboy (2013) memiliki kesempatan untuk lebih membungkus “twist revelation”-nya dengan nafas baru. Penggunaan media, manipulasi sang tahanan, yeah sedikit banyak memberikan nafas baru walaupun sebatas twist revelation-nya saja.

Oldboy 3

Kemudian kita berbicara tentang endingnya, Oldboy (2013) seakan-akan terburu-buru dalam membungkus final act-nya, plus sisi thought provoking yang terdapat pada originalnya benar-benar seakan dihilangkan, berubah menjadi sebuah ending dengan final act yang sekadarnya dan standar.

Oldboy adalah film yang sangat kuat baik dari segi substance dan juga stylenya, sangat disayangkan jika remake-nya terkesan begitu “almost zero effort”. Sebuah remake yang malas.

If I have to choose, yeah Oldboy (2013) > Oldboy (2003) (but you need to hit me with a hammer, a huge one.) dan dikembalikan ke pertanyaan di judul review ini, yeah, sepertinya remake belum dibutuhkan sebenarnya untuk film original yang sudah kepalang jenius, fresh story, shocking twist.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s