The Devil Wears Prada (2006) : A “Supposed to be Chick Flick” Movie That Refuses To Be “THAT’S ALL”

Director : David Frankel

Writer : Aline Brosh McKenna,  Lauren Weisberger

Cast : Anne HathawayMeryl StreepEmily BluntStanley Tucci

Streep’s Streak Challenge

“This stuff? Oh. Okay. I see. You think this has nothing to do with you. You go to your closet and you select. I don’t know that lumpy blue sweater, for instance because you’re trying to tell the world that you take yourself too seriously to care about what you put on your back. But what you don’t know is that that sweater is not just blue, it’s not turquoise. It’s not lapis. It’s actually cerulean. And you’re also blithely unaware of the fact that in 2002, Oscar de la Renta did a collection of cerulean gowns. And then I think it was Yves Saint Laurent wasn’t it who showed cerulean military jackets? I think we need a jacket here. And then cerulean quickly showed up in the collections of eight different designers. And then it, uh, filtered down through the department stores and then trickled on down into some tragic Casual Corner where you, no doubt, fished it out of some clearance bin. However, that blue represents millions of dollars and countless jobs and it’s sort of comical how you think that you’ve made a choice that exempts you from the fashion industry when, in fact, you’re wearing the sweater that was selected for you by the people in this room from a pile of stuff.” – Miranda Priestly

That is a long one, yeah but I copy-paste it because this is why this movie is so good. Best explanation of fashion I ever heard.

Andrea or Andy or The New Emily (Anne Hathaway) mendapatkan sebuah pekerjaan barunya yang sama sekali bertolak belakang dengan virtue, karakter atau bahkan pengetahuannya. Walaupun ia seorang jurnalis dengan segudang prestasi dan sangat pintar, namun pengetahuannya tentang fashion sama sekali nol. Nol besar, dia bahkan tidak bisa mengeja G-A-B-A-N-N-A. Menjadi seorang asisten Miranda Prestley (Meryl Streep) tentu saja akan memerlukan hal itu semua, tidak hanya cerdas, fashionable tapi juga harus melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin, termasuk mencari unpublished manuscript of Harry Potter. Tekanan perfeksionist Miranda Prestley ini menjadi memburuk ketika seniornya, Emily or The Real Emily (diperankan oleh EMILY Blunt) sama sekali tidak suportif dan selalu membayang-bayangi kinerjanya, akankah Andy mampu bertahan menjadi seorang asisten chief editor di majalah kelas atas itu ? Atau dia hanya akan RUN(a)WAY ?

Yeah, revision for its title, that’s all with question mark (???) Mengapa demikian ? Jika ditilik kembali, terutama mengenai plot-nya, it’s so chick flick. Seorang gadis yang tidak menyadari bahwa dirinya cantik, kemudian lambat laun berubah dan akhirnya mengalami konflik batin atas perubahan ini. Formulaic ? Yeah ! Ditangan yang salah (dalam hal ini juga termasuk di tangan cast yang salah), film ini hanya akan berakhir menjadi sebuah film-film penghibur cewek-cewek penggila fashion, namun tidak sangka film ini dapat melalui batasan-batasan tersebut. Berikut ini adalah alasannya.

For the chick flick and movie about fashion, film ini pastinya telah memberikan sebuah pondasi yang kuat. Aktris dengan fisik rupawan, tidak tanggung-tanggung sekelas Anne Hathaway yang image “princess”-nya masih melekat kuat, ditambah berbagai style, costume design yang tidak segan-segan memamerkan brand-nya (termasuk di judulnya), Calvin Klein, Chanel, et se te ra, et se te ra. Dari segi costume design-nya saja film ini sudah terlihat above-average dari chick flick biasa. Namun film ini tidak ingin berakhir seperti hanya sebatas film ini saja.

Ingatkah apa yang dikatakan Colin Firth beberapa Oscar yang lalu ? Bahwa, Meryl Streep raises the bar. Yeah, bisa dikatakan film ini adalah salah satu film yang didongkrak oleh kekuatan Meryl Streep sebagai seorang vicious editor dari majalah Runway. Berperan sebagai stylish antagonist, Streep menggunakan semua atribut seperti tata rambut, aksen, body language, dan terutama pasti ekspresi wajahnya. Miranda Pristly tidak akan secemerlang ini jika bukan Streep yang memerankan, sebuah penampilan yang bisa dikatakan selalu eksklusif di tiap scene-nya, mematikan, namun di sisi lain Prestley hanyalah wanita yang terjebak pada sifat obsesi dan perfectionistnya. Penonton yang lebih banyak disuguhkan sudut pandang dari Andy membuat jatah Streep di layar benar-benar begitu dinantikan, dan bukan Streep jika ia tidak memanfaatkan semaksimal mungkin, termasuk pada scene dimana sepertinya Streep akhirnya menanggalkan semua make-upnya dan mulai tersirat untuk terbuka kepada Andy tentang kehidupannya. Jika Miranda Prestley memang benar sebuah karakter fiksi yang didasarkan dari seorang tokoh nyata, seorang editor majalah Vogue, Anna Wintour, sepertinya versi Meryl Streep terlihat lebih vicious dan meyakinkan ketimbang Anna Wintour itu sendiri ( I talk physically).

Another actress ? Yeah, sepertinya Emily Blunt harus dianugerahi sebagai penggunaan eye shadow, eye liner, atau apalah itu yang benar-benar mendukung penampilannya, ditambah dengan aksen Britishnya yang menambah variasi karakter di film ini. Stanley Tucci plus feminim side juga merupakan awal mengapa ia sempurna sebagai Caesar Flickerman, ia juga melebihi ekspektasi. Karakter Emily dan Nigel ini merupakan sebuah representasi slavery dari sebuah pekerjaan.

Fine performance justru dipertunjukkan oleh Anne Hathaway, I am saying a lot, but Anne Hathaway as beautiful good girl ? PLEASE !!! Salah satu sisi paling krusial namun tidak dipertunjukkan adalah semangat ambisi dan passion Andy di dunia non-fashion yang seharusnya “sedikit” dipertunjukkan untuk membuat ending film ini terlihat lebih relevan. Sisi jomplang justru malah dipertunjukkan pada kehidupan personal Andy, ketika ia bersama teman dan pacarnya, sepertinya film ini menjadi redup dan terlalu kehilangan daya tariknya. I hate her whe she’s with Nate, Nate is her boyfriend. Isu klise juga diangkat pada hubungan percintaan Andy dan Nate ini, OH PLEASE, I think everybody agrees Anne Hathaway is beautiful-er as Priestley assistant, FUCK YOU, Nate, and your friend.

Shallow ? Yes. Light ? Yes. Film ini memang terkesan sangat dangkal, sebuah film yang menyebut jurnalisme dan dunia fashion namun kurang adanya sisi komprehensif tentang dunia tersebut. Satu-satunya scene yang begitu komprehensif hanyalah ketika Miranda Prestley menganalisis sweater biru yang dipakai Andy, and that’s all. Yeah, kembali lagi film ini memang bukan tentang dunia jurnalisme, atau dunia media, atau bahkan fashion, melainkan memang dunia Andy + Prestley + a little bit of Emily and Nigel (Stanley Tucci). Lebih jauh lagi, film ini malah lebih memperlihatkan sisi kejamnya iblis tentang work ethic terutama pada rekan kerja, bagaimana satu karakter men-tackle karakter lain, bagaimana sebuah keputusan yang benar ternyata harus mengorbankan yang lain, dan satu pelajaran dari film ini, IF YOU DON’T LIKE YOUR JOB, QUIT !!!!

Film ini memang terlalu formulaic, dan mudah ditebak, namun di satu sisi, film ini memenuhi salah satu tujuan menonton film, yeah ENTERTAINING, with top notch performance of Streep, membuat film ini sedikit bisa meleluasakan tali “chick-flick”-nya dan dapat ditonton oleh siapa saja. And, label it as one of my favorite movies all the time, yeah it’s perfect movie when my head and brain hurts, I am talking like this “in good way”.

“This chick flick is not just blue, but a little bit cerulian, turquoise, lapis too.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s