The Lego Movie (2014) : Overrated Pièce de Résistance for Movie Based on Construction Toys

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Dan HagemanKevin HagemanPhil LordChristopher Miller

Cast : Chris PrattElizabeth BanksWill FerrellWill ArnettCharlie DayAlison Brie, with Liam Neeson and Morgan Freeman

 “Introducing, the double decker couch so everyone could watch TV together and be buddies.” – Emmet

(REVIEW) Lego, siapa yang tidak pernah memainkan permainan yang satu ini, mulai jenis yang paling sederhana sampai bentuk yang lebih bervariasi ? Yeah, Lego memang sangat melatih daya kreatifitas anak dan seiring berjalannnya waktu sepertinya jenis permainan yang satu ini mulai bisa berkembang sesuai dengan alur zaman, salah satunya menjadi media bercerita yaitu lewat sebuah film, hal inilah mengapa film ini mengambil judul yang sebenarnya terkesan begitu “marketing produk” namun dengan waktu bersamaan juga menonjolkan kelebihan utamanya.

Dari segi visual, film ini bisa dikatakan akan menampilkan 90 persen bentuk lego, dan memaksimalkan visual ini dengan mengkaitkan banyak warna dan banyak bentuk, sekaligus gaya stop motion (walaupun 100% CGI) memang sangat menunjukkan karakteristik dari permainan lego itu sendiri. Untuk sebuah film yang juga merupakan sebuah media marketing sebuah produk, film ini seratus persen mewakili.

Dari segi cerita, film yang akan menarik perhatian anak-anak ini, tergolong begitu inspiratif, penuh dengan sisi moral dan message, seorang pekerja konstruksi Emmet (Chris Pratt), seorang lego biasa, tanpa keahlian khusus, tanpa adanya aspirasi dari dirinya sendiri tiba-tiba harus mulai sebuah petualangan ketika dirinya menemukan sebuah potongan lego “piece of resistance” yang menjadikannya sebagai The Special, atau seseorang yang terpilih untuk mengisi takdirnya yang telah diramalkan. Sebuah ramalan, bahwa seorang Emmet akan menyelamatkan dunia dari kejamnya sebuah korporasi besar yang dipimpin seorang Evil Lord (Will Ferrel). Dibantu oleh seorang gadis lincah dan pintar, Wyldstyle (she’s not a DJ but Elizabeth Banks), Emmet harus berkeliling ke berbagai belahan dunia lego yang mempertemukannya dengan banyak karakter termasuk Batman (Will Arnett), Unikitty (Alison Brie), space guy (Charlie Day) dan seorang wizard Vitruvius (Morgan Freeman). Mereka harus berlomba dengan waktu di tengah kejaran seorang polisi (Liam Neeson) yang diperintah Evil Lord untuk mencegah Emmet memenuhi takdirnya.

This almost “snowflake” shaped character makes the voice department is so crucial, yeah tidak sebuah kejutan ketika nama-nama besar yang memang digadang untuk mengisi setiap karakter ini. Walaupun memang masih terdapat variasi dari segi bentuk, but come on, they’re all lego-nized. Dan memang, segi voice akting dari cast ini berhasil menghidupkan setiap karakter di film ini, mulai dari Chris Pratt yang sepertinya tidak perlu memanipulasi suaranya karena karakter suara dan public imagenya begitu masuk ke dalam karakter Emmet, keatraktifan suara Elizabeth Banks, dual personality yang berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson (dan Alison Brie) serta Will Ferrel sebagai karakter villain utama. And the best part adalah film ini tidak terlalu mengolah suara mereka, kita masih bisa mengenali siapa menyuarakan siapa di film ini. Plus, banyak voice cameo mulai dari Channing Tatum, Cobie Smulders, Will Forte walaupun yang benar-benar berhasil hanyalah Jonah Hill yang menyuarakan Green Lantern yang juga membawa sifat public image dirinya, cocky.

Christopher Miller dan Phil Lord sepertinya memang spesial untuk sebuah film yang memiliki possibility untuk di-underestimatekan, mulai dari Cloudy with A Chance of Meatball yang memiliki premis kepalang aneh, projek 21 Jump Street yang masih teringat bagaimana orang-orang begitu skeptis namun ternyata mampu menjadi surprise hit secara komersial dan kritik, dan sutradara serta penulis ini mampu mengangkat animasi berdasarkan mainan ini menjadi tidak terlalu shabby dan cukup diatas rata-rata dari segi eksekusi. The Lego Movie menjadi sebuah film yang fast moving, fast paced dengan material yang masih berbahan dasar “formulaic” namun dikemas dengan pandai. Salah satunya lewat jokes-jokes segar di setiap line dialoguenya, walaupun jokes ini tidak serta merta berhasil men-generate tawa dari awal durasi. Film ini masih begitu predictable di awal film, dengan jokes-jokes yang belum langsung bisa dicerna karena memang one second jokes bait, another second its execution sepertinya masih memerlukan waktu “loading” untuk penonton untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan jenis jokes seperti ini.

Bisa dikatakan cukup telat untuk starternya, awal film terbantu dengan spirit yang dimuat dalam lagu dinamis dengan judul “Everything is Awesome” namun penonton baru bisa benar-benar involved ke cerita dengan bantuan sebuah adegan witty lewat double decker couch. Sebuah adegan penyelamatan yang dilakukan double decker couch buatan Emmett terbukti mampu mengakhiri action sequence yang terkesan bland, no thrill, no fears, no danger. Bland action sequence ini tidak lepas dari dari karakter media penceritaan yang lagi, dan lagi, it’s just “lego”, tidak peduli lego ini akan tertembak, jatuh dari jurang, pecah, atau sebagainya, mereka semua hanyalah lego. Mungkin inilah salah satu efek ketika image “mainan” begitu kental sehingga kesan “sepele” juga masih mengikat ketika film ingin berjalan ke arah scene yang lebih “seharusnya serius”.

MAYBE SPOILER

Film yang hampir menggunakan satu jenis bahan candaan ini memang terlihat jelas mengalami apa yang ekonomi sebut dengan “diminishing return”, tidak peduli substance dari jokes tersebut, jokes berubah menjadi begitu predictable, untunglah keatraktifan dari variasi karakter seperti Batman dan space guy masih bisa menolongnya. Film ini juga dengan berani mengambil twist yang sepertinya menantang baik intelegensi anak-anak ataupun orang tua yang menemani mereka menonton (walaupun secara pribadi twist ini sudah bisa diprediksi mulai dari scene Emmet memiliki vision). Sebuah twist yang mengingatkan kita pada film serupa, Toy Story, sebuah film yang akan memuaskan para penikmat film yang suka akan sesuatu yang mengejutkan, walaupun film ini juga sepertinya dari final act-nya akan mengingatkan kita pada Puss in Boots. Yeah, villain yang tiba-tiba hatinya terketuk, actually WHAT THE HELL for me, but I think it’s good for kid’s soul. Yeah, moral message. Moral message. Moral message.

The Lego Movie merupakan sebuah film yang mampu melewati ekspektasi yang ada jika dilihat film ini diangkat dari sebuah mainan, dieksekusi secara solid oleh sutradara dan di-uplift screenplay-nya dari sebuah materi biasa menjadi sedikit luar biasa, sebuah tricky twist, namun secara personal film ini adalah salah satu film “overrated” di awal tahun 2014.

“Well contructed, and well overrated.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s