In Fear (2013) Betrays Its Human Instinct, Compensates with Constant Nailbitting Thriller

Director : Jeremy Lovering

Writer : Jeremy Lovering

Cast : Iain De CaesteckerAlice EnglertAllen Leech

“We’re just getting ourselves in a panic and it’s stupid.” – Tom

(REVIEW) In Fear memberikan sebuah suguhan thriller menarik dengan durasi 80 menit, dan ajaibnya, setiap scene berlalu dengan meninggalkan sensasi tersendiri. Film ini bercerita tentang pasangan muda, Lucy (Alice Englert) yang berencana mengikuti sebuah festival di Irlandia namun mengalami perubahan rencana setelah paca dua minggunya, Tom (Iain De Caestecker) mengajaknya untuk menginap di sebuah hotel yang masih jelas keberadaannya. Keduanya pun memasuki hutan yang tidak terjangkau satelit, menembus hutan demi hutan, dan mengikuti arah panah yang menunjukkan jalan ke arah hotel. Ketika hari mulai gelap, keduannya pun sadar bahwa mereka hanya berputar-putar di hutan yang lebih mirip dengan labirin hingga satu demi satu teror pun harus mereka alami, membawa mereka ke ketakutan yang lebih dalam.

In Fears betrays its human instinct, yeah, hal ini memang bukan hal yang baru untuk sebuah thriller. Membuat awalan film ini serasa mediocre dari film serupa. Sebuah alarming stage untuk sesuatu ketakutan atau kengerian namun hal tersebut tetap diterobos oleh karakter. Alarming stage ini memang sudah dibangun secara intens dari awal film, hingga titik pertama mereka meninggalkan “peradaban manusia”, yaitu adegan di pub yang dipercepat karena adegan inilah yang akan menjadi materi puzzle di sepanjang film.

Setelah Alice dan Tom meninggalkan bar, cerita mulai melakukan penetrasi karakter dengan uhm, mungkin bisa kita sebut dengan gender stereotyping. Karakter Alice dan Tom adalah dua karakter berbeda yang menghadapi satu bentuk awal konflik dengan reaksi yang berbeda pula. Tom lebih digambarkan sebagai karakter yang arrogant dalam menyetir, no matter what he’s not gonna consider woman’s opinion. Digambarkan sebagai karakter yang ngeyel, sok tahu, Tom diperankan secara versatile oleh Ian De Caestecker. Karakter Tom inilah karakter yang paling well developed dibandingkan karakter yang lain. Mengimbangi kekuatan lawan mainnya, Lucy (yang secara fisik mengingatkan pada aktris Ellen Page) sudah mulai menunjukkan gejala ketidaknyamanan-nya terhadap situasi yang ada, yeah, she’s well aware, mencoba untuk keluar dari labirin namun selalu dipatahkan oleh Tom. Interaksi antar keduannya ini cukup menyenangkan untuk disimak.

Wait until dark, yeah, itulah yang dilakukan film ini. Untuk beberapa waktu, film ini memang berputar-putar saja ke dalam labirin yang entah dimana jalan keluarnya. Belum ada teror yang menyerang secara nyata, hanya beberapa adegan klise yang mewarnai untuk memompa adrenalin penonton seperti alarm mobil yang tiba-tiba berbunyi sendiri, dan juga seseorang yang tiba-tiba menyergap Lucy dari belakang (it’s Tom, of course).

Cerita mulai berkembang ketika teror yang lebih nyata mulai menyerang mereka, dan seseorang yang misterius yang mereka tabrak tiba-tiba masuk mobil dan mulai “menyegarkan” suasana. Yeah, dia adalah Max (Allen Leech). Ketiganya kemudian menelusuri hutan yang secara fisik memang menakutkan ditambah dengan cahaya yang mulai minimal. Kebingungan, kekhawatiran mulai merambat naik ketika hutan ini menjadi semakin familiar, sebuah pertanda bahwa memang mereka hanya berputar-putar disitu-situ saja.

(MAYBE SPOILER)
Kemudian Max bertindak sebagai sebuah trigger yang membuat film ini akhirnya menjadi sebuah film yang berbuah manis. Teror labirin ini tidak ingin hanya menakut-nakuti lewat beberapa aksinya, namun lebih tepatnya “teror labirin” ini ingin menguji reaksi karakter ketika ketakutan berada di dalam diri mereka. Disinilah mengapa judul film ini “In Fear” akhirnya menjadi sangat masuk akal. Lucy dan Tom kemudian diuji hubungan singkat mereka lewat tindakan-tindakan ektrem yang pastinya nailbitting namun kemudian berhasil membelokkan tindakan ini menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mengungkap karakter Lucy dan Tom yang sebenarnya. Life is all about choice.

Film ini memang membiarkan beberapa pertanyaan mendasar dari penonton tidak terjawab, mengenai motif, apa yang sebenarnya terjadi di pub, sampai ending film ini. Ambiguitas ini mungkin akan menyebabkan penonton ter-polarized, beberapa akan sangat kecewa, dan beberapa malah akan bertanya-tanya dalam tanda kutip “menyukainya”. Tidak semua puzzle terselesaikan, namun dikompensasi dengan final act yang mengingatkan kita pada film Eden Lake “the ending is not favorable but it gives audience a final thing to be remembered.

And the last scene will prove which character who’s really stupid. Thought provoking movie ? Checked.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s