Veronica Mars (2014) Tries to Let It Go, Not Smart “Smart” Detective Story, but Still Pleasant

Director : Rob Thomas

Writer : Rob ThomasDiane Ruggiero

Cast : Kristen BellJason DohringKrysten RitterChris LowellGaby Hoffmann

“That’s not me anymore.” – Veronica Mars

(REVIEW) Televisi ke layar lebar, atau layar lebar ke televisi. Yeah, it’s inevitable. Veronica Mars menambah deret panjang serial televisi yang mampu menembus pasar layar lebar. Veronica Mars sendiri adalah serial televisi detektif yang menghibur masyarakat dari tahun 2004 sampai 2007. Kemudian, nama Veronica Mars mulai ter-blow up kembali ketika film ini memulai penggalangan dana setelah Warner Bros tidak bersedia untuk membiayai proses adaptasinya. Menggembirakan ? Pasti, untuk fans. Sedikit hal yang skeptical ? I hope it’s not another “meh.”

Veronica Mars (Kristen Bell), sembilan tahun meninggalkan hometownnya, Neptune, dan mulai karir barunya dengan melamar perusahaan Truman Mann, a law firm. Hidupnya juga sudah mengalami comfort zone, akan mendapatkan pekerjaan baru serta hubungan stabil dengan pacarnya Piz (Chris Lowell). Yep, she tries to let her past go. Untuk yang bukan fans serial Veronica Mars, tenang saja, opening scene film ini langsung tahu pertanyaan penonton non-fans tentang siapakah Veronica Mars sebenarnya ? Akan ada sedikit penjelasan tentang Veronica Mars (and it’s not a planet).

Kehidupan lama Veronica Mars mulai men-dragging kembali ketika teman satu SMA-nya ditemukan terbunuh tersetrum di sebuah bathtub, dengan kekasihnya, Logan Echolls (Jason Dohring) yang langsung menjadi suspect utamanya. For your information, Logan dan Veronica adalah pasangan mantan kekasih di series televisinya (I assume). Meninggalkan untuk sementara kehidupannya di New York, Veronica Mars kembali ke kota halamannya yang telah banyak berubah, mulai dari kehidupan kota yang dikuasai oleh polisi corrupt sampai kehidupan teman-teman Veronica yang telah menjalani hidup sendiri-sendiri. Disinilah sepertinya terdapat sensasi “reuni” untuk para die-hard fans Veronica Mars. Uniknya, film ini memang menyajikan acara reuni ini memang seperti acara reuni, jadi penonton yang belum mengetahui seriesnya akan sangat terbantu dengan hal ini. It’s gonna be fucking parade of new characters.

Back to the case,
Menyelidiki kematian pacar Logan yang merupakan seorang popstar, dimana pembunuhan ini diekspos kemana-mana, Veronica Mars mulai mencurigai beberapa suspect yang telah menjebak Logan dalam kasus pembunuhan tersebut. Well-performed character, Ruby Jetsson (Gaby Hoffmann) adalah nama teratas dalam list Veronica Mars. Seorang fans berat dari Bonnie DeVille, sang superstar yang terbunuh, Ruby Jettson layak dicurigai karena tindak tanduknya yang tidak lazim dan interest-nya untuk menjadi pasangan logan. It’s Gaby Hoffmann, so she’s gonna be, uhm, let’s say exotic.

Kasus ini kemudian melebar ke beberapa calon tersangka yang lebih luas, mulai dari sosialita Gia Goodman (Krysten Ritter), Dick Casablancas (Ryan Hansen), Stu Cobbler (Martin Star), yang semuannya merujuk aksi kecelakaan sembilan tahun yang lalu yang menyebabkan teman Bonnie DeVille tewas tenggelam. Bisakah Veronica Mars memecahkan kasus ini sementara kehidupan di New York juga mulai demanding untuk diurusi ?

Sepertinya tidak bisa berkata banyak jika memang bukan fans. Okay, I am trying. I am satisfied. Kristen Bell, yang digadang sebagai aktris utama, bahkan karakternya langsung dipakai sebagai judul memang mengharuskan Kristen Bell menjadi salah satunya dimana perhatian tertuju. And, yep, she’s the game. Penampilan Kristen Bell sebagai female center character memang sudah cukup memuaskan, witty, beautiful, smart, fearless and yeah, she’s compulsive, adrenaline junkie, addictie personality and yeah, she’s detective. Ditambah dengan screenplay yang cukup tajam untuk karakternya mengeluarkan line demi line yang cerdas, Veronica Mars membuktikan sebagai leading lady yang cukup likeable.

Memulai sebuah petualangan yang baru, mengadakan aksi ketimbang bereaksi dengan keadaan Neptune yang sudah ada, sisi detektif dengan penceritaan yang character driven juga mulai dijalani oleh Veronica Mars. Dilihat dari sisi detektifnya, mungkin sisi ini sedikit lemah. Kejadian pembunuhan yang begitu dangkal digambarkan, sekaligus dengan setting Veronica Mars tidak berada di tempat, membuat Veronica Mars tidak mengolah tempat kejadian perkara, dan langsung melakukan investigasi untuk mencari tahu siapakah tersangka utamanya (dan tentu saja para fans tahu bahwa Logan is innocent, namun untuk yang bukan fans, it sounds a little bit cliche). Beberapa tahun menunggu untuk serial diangkat menjadi sebuah film, (if I am a fan), mungkin akan mengharapkan sedikit twist atau indikasi untuk menge-twist baik cerita atau karakter yang telah ada. Sempat dilontarkan oleh ayah Veronica Mars bahwa “Logan has dark side (or something), namun sisi malah dilepaskan begitu saja dari sisi penceritaan. Kurangnya sisi “suspecting” dari film ini menjadikan film ini sedikit kurang “thrilling”.

Too much clues, to be true. Lagi, dan lagi, jika menghitung Veronica Mars sebagai sebuah film detektif, tidak akan ada revealing yang begitu “mind blowing”, setiap clue mengarah ke clue yang lain dengan begitu mengalirnya, hampir ketidakadanya keputusasaan Veronica Mars dalam menjalani pemecahan kasus ini. Satu-satunya konflik yang dihadapi hanyalah kebingungan Veronica Mars dalam memilih jalan hidupnya, menjadi seorang pengacara atau menjadi seorang detektif serabutan. Just that’s it. Not even intriguing. For detective movie, yeah, it failed.

Kembali lagi, dengan embel-embel ‘didanai oleh fans”, memang selayaknya Veronica Mars menyenangkan fans, dan hal tersebut sangat berhasil dengan menjadikan film ini sebagai sebuah ajang reuni. Positifnya, Veronica Mars memang bukanlah film tentang detektif full time, it’s just part time. Sisi yang lain ini tetap diisi dengan menyenangkan dengan humor, dialog, penampilan yang menyenangkan untuk para non-fans untuk tetap menonton.

Oh yeah, I almost forgot, ada beberapa cameo yang cukup menghibur, salah satunya adalah James Franco dengan line-nya yang paling menghibur.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s