Classic Choice, Roman Holiday (1953) : Starmaking Delightful Performance of Princess in Disguise with Everlasting Humor and Elegance

Director : William Wyler

Writer : Ian McLellan HunterJohn Dighton

Cast : Gregory PeckAudrey HepburnEddie Albert

“Were I not completely aware of my duty to my family and to my country, I would not have come back tonight.” – Princess Ann

(REVIEW) Apa yang terjadi jika Elizabeth Taylor memerankan Princess Ann di film ini ? Yeah, mungkin tidak akan ada juga Audrey Hepburn dengan gaun klasiknya yang menjadi icon di banyak hal, termasuk fashion dan budaya pop art ala Andy Warhol. Roman Holiday memang sebuah film yang memberi kesempatan Audrey Hepburn untuk memberikan starmaking performances sekaligus breakthrough-nya (and Oscars). Yep, there’s “introducing Audrey Hepburn”-kind of thing in the opening scene.

“This film was photographed and recorded in its entirety in Rome, Italy” seakan-akan film ini langsung memenuhi janjinya dari judul film yang ditawarkan. Mungkin sudah hal yang biasa untuk sebuah film di negara-negara Eropa dan mengeksplor keindahannya, yeah itu sekarang, bukan di tahun 1953. Sepertinya di tahun 1953 bisa diibaratkan fenomena “Eiffel I am in love” yang melanda Indonesia beberapa tahun yang lalu (sok tahu).

Kerajaan dari antah berantah sedang menyelenggarakan European Tour-nya, termasuk Italy, Princess Ann, the royal highness (Audrey Hepburn) pun harus melakukan beberapa schedule yang melelahkan, dan membosankan. Sifat “rebellion” dari seorang Princess Ann mulai ia tunjukkan mulai dari tindakan melepas sepatu diam-diam saat menjumpai orang-orang penting sampai keinginannya untuk memakai piyama (daripada gaun tidur), yang tentu saja terus diback-up namun ditolak staff kekerajaan. Harus bersikap elegan setiap saat, bahkan ketika berada di backstage-nya, Princess Ann akhirnya pecah juga emosinya, yang membuatnya harus disuntik semacam cairan euphoria agar dia lebih tenang. Ketika badanya terlalu terpompa untuk tidur, ia memutuskan untuk menyelinap keluar dan berjalan-jalan di tengah kota.

Berbicara tentang Audrey Hepburn memerankan Princess Ann memang sudah tidak terlalu memerlukan effort yang besar karena secara fisik, yeah, she’s a princess, LITERALLY. Menangnya ia di ajang Oscars sepertinya tidak lepas dari compatibility (termasuk fisiknya, you should see her waist, though seemingly it’s pretty common a woman has waist like that, but it’s just wow)-nya dalam memerankan Princess Ann. Audrey Hepburn is totally shining in this kind of movie.

Ketika ia melepaskan embel-embel keeleganan seorang putri, Putri Ann pun menikmati kota Roma sambil berkata “I am happy, I am happy.” Hmm, such a sleeping talking that reveals her true suffering. Ia pun tertidur di sebuah bangku yang mempertemukannya dengan Joe Bradley (Gregory Peck), seorang jurnalis muda yang akhirnya membawa pulang Princess Ann ke “apartmen” kecilnya. He sucks at his job, yeah, terbukti tokoh sepenting Princess Ann sama sekali tidak dikenalnya (or maybe in 1953, you can’t just google “Princess Ann” and look at her face). Berbeda dengan penampilannya sebagai pengacara di To Kill Mockingbird, Gregory Peck sepertinya melonggarkan peran seriusnya dan mampu menyesuaikan dengan genre filmnya. Menjadi seorang gentleman – antigentleman, Gregory Peck sukses mengundang tawa menganggapi Audrey Hepburn yang sedang teler, mulai dari perebutan kasur, sampai adegan di tangga yang benar-benar konyol. Baik Gregory Peck dan Udrey Hepburn mampu meng-embody sebuah karakter yang secara konsisten menyenangkan (bahkan nyaris tanpa konflik) yang sama sekali tidak membosankan.

Keesokan harinya, Joe terlambat kerja yang seharusnya ia meliput press conference sang putri, yang tentu saja dibatalkan karena sang putri hilang, dan barulah ia menyadari bahwa perempuan yang tidur di tempatnya adalah Putri Ann, disinilah adu akal antara exploitative, caring, opportunist dari Joe Bradley harus terolah dengan Princess “Anya” in disguise oleh kepolosan Audrey Hepburn.

Ketika keduannya saling memanfaatkan, termasuk bergabungnya fotografer rahasia, Irving (Eddie Albert), diajaklah penonton menjelajahi indahnya kota Roma, mulai dari pengunjungan situs ke Mouth of Truth, Colloseum, menjelajah dengan vespa klasik, sampai adegan di barbershop yang benar-benar me-reveal kecantikan dari seorang Audrey Hepburn, yep, if you has face like Audrey Hepburn, you deserve to cut your hair, short. Film yang dishot dalam hitam dan putih ini memang memiliki sisi positif, keindahan kota Roma menjadi tidak terlalu overwhelming yang membayangi-bayangi karakter dan interaksi yang menjadi sasaran utama. You know if this movie too much depends on Roma’s beauty, it won’t be a classic.

Constantly entertaining, dibuatlah kita diajak jalan-jalan di kota Roma jadul, dengan banyak selipan jokes, termasuk jokes slapstick yang melibatkan Irving dan Joe, sampailah ke paruh terakhir yang bisa tertebak dengan melibatkan hubungan asmara antara Joe Bradley dengan Princess Ann. Hebatnya film ini, sisi percintaan ini begitu manis dan spesial namun tidak terjebak terlalu dalam untuk menghancurkan sepanjang petualangan yang dibangun. Let’s say this lovey dovey story is just kind of, uhm, bonus.

Apa yang benar-benar spesial dari sebuah Roman Holiday adalah sebuah sajian yang elegan, tentu saja klasik, yang bahkan jokes-jokesnya begitu everlasting karena familiar dengan banyak film yang terinspirasi sampai sekarang. Mungkin bisa dikatakan Roman Holiday adalah sebuah klasik yang benar-benar bisa dinikmati, sekaligus menghibur, walaupun telah melalui rentang waktu lebih dari 60 tahun. That is just wow, how a movie keeps inspiring and that is why it’s pretty important.

In the end, this movie describes that there are a lot of kind of luxuries, no matter who you are, you cannot have it all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s