Le Week-End (2014) Drags Us into Beige, Masochistic “Paris Upholstered” Drama

Director : Roger Michell

Writer : Hanif Kureishi

Cast : Lindsay DuncanJim BroadbentJeff Goldblum

“Love dies.” – Meg

(REVIEW) Marriage is still hard, and marriage is still hard even after 30 years of it. Le Week-end adalah sebuah film yang keseluruhannya hampir bersetting di Paris. Kota romantis ini sepertinya menjadi satu-satunya harapan untuk pasangan dari Birmingham untuk menghidupkan perkawinan mereka yang telah menginjak usia 30 tahun.

Sama seperti Before Midnight, Le Week-end bisa disebut sebagai advanced level of relationship dari Jesse dan Celine. Mungkin jika “Before …” berkeinginan menjadi tetralogi, sepertinya jalan cerita yang ada di Le Week-end bisa menjadi alternatif. Waktu yang cukup lama, kini membuat Meg dan Nick harus menikmati hari-hari mereka pasca ditinggal anaknya yang kini telah berkeluarga sendiri.

Let’s say this movie begins with such beige mood. Fine couple dengan fine chemistry mulai ricuh memperdebatkan euro yang mereka bawa menunjukkan bahwa perjalanan ke Paris ini bukanlah perjalanan yang murah, walaupun setelah film berjalan terungkap bahwa Nick (Jim Broadbent) adalah seorang profesor filosofi dan Meg (Lindsay Duncan) adalah seorang mantan guru. They should be a good couple, right ? Nick mem-booking sebuah hotel yang pernah mereka booking saat bulan madu. First disappointment, hotel tersebut telah berubah, karakter Meg sebagai seorang intellectual mean lady-pun mulai terungkap, mulai dari berkeliling Paris dengan taxi tanpa tujuan (which is truly bad because they have limitid euro) sampai akhirnya tinggal di hotel berbintang-bintang. Paris pun diexplor, mediocrely.

Second disappointment, telephone rings, anak mereka pun telpon dan meminta izin untuk kembali ke rumah mereka, hanya karena rumahnya terkena serangan tikus (which is REALLY ?). Nick setuju, Meg tidak. Hal ini pun menjadi konfrontasi pertama mereka, jiwa ingin bebas dari Meg menuding bahwa Nick tidak bisa memanage ketakutannya untuk menjadi sendiri.
Setelah itu disappointment demi disappointment pun terus dikupas dan menunjukkan bahwa pasangan ini memiliki banyak masalah latent yang tak pernah dibicarakan, mulai dari tindakan blocking Meg terhadap “serangan” sexual Nick sampai akhirnya ia mengucapkan bahwa ia ingin cerai. What the fuck, in their anniversary, this woman asks for a divorce ?

A drama full of masochism. Yeah, selama 30 tahun mereka terjebak pada karakter dan pernikahan mereka, dan itulah yang dipertunjukkan kepada penonton selama 90 menit. Sepanjang film, kita dipertunjukkan dengan mesra – konflik -mesra – konflik, untuk awalan memang sangat manis, namun kelamaan cerita hanya berkutat di itu-itu saja. Jika Before Midnight bisa menggabungkan dengan sukses screenplay yang terstruktur dengan penampilan yang sangat luwes dan fleksibel, ditambah dengan mengalirnya cerita yang makin meninggi, Le Week-end menunjukkan sebuah screenplay yang berkonsentrasi pada terjebaknya karakter- karakter ini tanpa adanya real discussion untuk menyelesaikan permasalahan, dan hal yang paling buruk adalah, they are kind of enjoying it. Masochism !

Setelah penuh dengan on-off romantic conflict relationship, pasangan inipun mengalami peak of conflict ketika Nick menuding Meg selingkuh dengan seorang reparasi laptop (which is so LOW, yes !), scene ini adalah scene pecahnya karakter Nick setelah menanggapi spirit (uhm, mean spirited, I gotta say) dari Meg. I like him when he confronts her, it’s just like, yes, boredom breaks.

Boredom comes again ketika teman lama Nick (Jeff Goldblum) pun secara kebetulan bertemu dengan mereka dan mengundang untuk datang ke sebuah pesta. Yep, a party that reveals everything that Nick is fucked philosopical professor and not everyone know that. And Meg is a bitch (though it’s not official).

Mengharapkan sesuatu yang rewarding, film ini menyajikan sebuah scene yang begitu slowly dragging, terkesan dipanjang-panjangkan dan membuat puncak kebosanan pun malah mengkhianati ekspektasi penonton. Thanks for THAT !!!!!

Le Week-end is a dragging sight of relationship, even Paris can’t help it. The nice thing is, it has screenplay with nice, smart dialogue, though it still can’t utterly help it. (C+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s