Breathe In (2013) is Melodious Seduction, What a “Crack an Egg, without Breaking The Yolk” !

Director :  Drake Doremus

Writer :  Drake Doremus

Cast : Felicity JonesGuy PearceMackenzie DavisAmy Ryan 

“One day, you’ll be free.” – Sophie Williams

Image

source : impawards.com

(REVIEW) Breathe In seperti judulnya berusaha untuk menggambarkan sesuatu yang asing untuk masuk dengan cara yang sangat lembut, se-biasa mungkin. Dan seperti “bernafas”, sesuatu yang asing itu tidak pernah dipaksakan untuk masuk. And it did.

Dari awal film, keluarga Reynold digambarkan sebagai keluarga yang bahagia dengan senyum lebar di sesi foto yang sedang mereka jalani. Guy Pearce yang seorang musisi (Guy Pearce), seorang ibu yang begitu mengayomi (Amy Ryan), dan anak yang begitu berprestasi (Mackenzie Davis). Ketika seorang siswa dari London melakukan pertukaran pelajar, keluarga inilah yang menyediakan tempat tinggal untuk Sophie (Felicity Jones). Namun, sepertinya kehadiran Sophie ini akan merubah arti senyum keluarga ini di awal film tadi.

Movie with open arms, kehadiran Sophie memang ditunggu sejak awal, walaupun Guy Pearce pada awalnya menunjukkan gelagat ketidak-antusiasnya. Berbeda dengan Lauren yang rela berbagi tempat tidur, atau Ibunya yang bahkan sudah menganggap Sophie sebagai anaknya sendiri (she even shows Sophie her secret cookie jar). Masuk ke dalam keluarga baru, Sophie diperankan dengan tenang oleh Felicity Jones. Berperan sebagai siswa Inggris memang bukan hal baru untuk Jones setelah film Like Crazy yang menjadi salah satu film terbaiknya. Tenang namun tidak dingin, sosok Sophie begitu penasaran dengan masing-masing anggota keluarga ini, namun orang yang paling menyita perhatiannya hanyalah Guy Pearce, suami yang terjebak pada pekerjaan dan ter-underestimate oleh keluarganya. Ketika music menjadi one thing in common untuk mereka berdua, baik Guy Pearce atau Felicity Jones pun merubah karakternya menjadi lebih fragile, lebih seductive satu sama lain. Kehebatan mereka berdua adalah bagaimana mereka menciptakan sebuah diferensiasi dalam berakting namun transisinya tidak terlalu kasar, sangat-sangat halus.

Felicity Jones mampu memerankan siswa berumur sekitar 18-an dengan usianya yang terlampau cukup tua yaitu 30 tahun, namun sama sekali tidak ada unsur ketuaan. Sophie merupakan karakter yang benar-benar membuka sensitifitasnya dengan dunia luar, juga berusaha melakukan denial namun tidak ingin terkesan munafik juga dengan apa yang ia rasakan. Secara konsisten pula, Guy Pearce menimpali apa yang dirasakan Felicity Jones, sebagai simbol sebuah seorang kepala keluarga yang terbayangi oleh otoritas istri, sekaligus kehilangan otoritas itu yang kemudian berubah menjadi sebuah dissatisfaction dalam bekerja ataupun berumah tangga. Keith yang diperankan Guy Pearce akhirnya menemukan sebuah angin segar ketika seseorang eeperti Sophie mengapresiasinya. Di sisi supporting actress, baik Amy Ryan dan Mackenzie Davis juga memberikan sebuah sense of welcome yang cukup kuat, membuat semua tindak tanduk Sophie dan Keith ini menjadi berkali-kali terlihat lebih filthy (walaupun tidak sepenuhnya terlihat demikian).

Bersetting di New York, namun jauh dari hingar bingar kota. Scene-scene seakan-akan dibuat adem, dingin selayaknya bersetting di sebuah lake house. Ditambah dengan kombinasi hujan, dedaunan yang dishot indah, shaking camera yang memperkental sisi indie, sisi natural film ini menjadi sebuah sisi yang kontras antara visualisasi yang tenang dengan karakter-karakter yang begitu fluktuatif, internally. Ditambah dengan beberapa alat musik yang dimainkan, film ini begitu melodic dan menyejukkan.

Dibandingkan dengan Like Crazy yang juga begitu natural (bahkan dalam plot-nya), mungkin Breathe In sedikit lebih banyak mendapatkan treatment dramatisasi lewat beberapa coincidence yang vital untuk plot (which is still weird for this kind of naturalistic movie) atau langsung intense-nya affair kecil Jones dan Pearce walaupun terpentok screentime yang sangat terbatas. Cracking the egg, without breaking the yolk. Hmmm, film ini memang mengolah konfliknya dengan sangat sabar. Kesabaran ini ternyata mampu membuka satu demi satu celah yang terdapat pada keluarga baik-baik ini, menunjukkan bahwa setiap karakter tidak baik-baik. Selain itu, film ini juga tidak ingin meninggalkan “damage” yang terlalu besar. No real sexual activity untuk affair Jones dan Guy, yang sedikit “janggal” untuk film demikian walaupun memang sepertinya hubungan Jones dan Guy sangat dipengaruhi dengan karakter Sophie dan pamannya yang baru saja meninggal. Oleh karena itu resolusi film ini juga terlihat simple dan masuk akal, karena memang damage yang Sophie lakukan tidak terlalu “membahayakan”. Tidak membahayakan namun membangunkan. Setelah hampir sepanjang film dilihat dari perspektif Sophie, di akhir film, film ini meng-ekspansi bagaimana “damage” ini mempengaruhi ke empat karakter (which is another “connecting the dots-coincidence).

Film Breathe In berhasil menyajikan sebuah drama yang merasuk dan mengembangkannya sebagai sebuah affair kecil diantara karakter yang terjebak, bingung dan ingin bebas. In the end, life is choice. (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s