Exam (2009), Ambitiously Manipulative Too Structured Psychological Thriller, Better if It’s a Loose Tie

Director : Stuart Hazeldine 

Writer : Stuart HazeldineSimon Garrity 

Cast : Adar BeckGemma ChanNathalie CoxJohn Lloyd FillinghamChukwudi IwujiPollyanna McIntoshLuke MablyJimi MistryColin Salmon 

Any questions? – The Invigilator

(REVIEW) Film yang bersetting di satu tempat, satu waktu ini sudah terlihat sangat ambisius dari awal film, salah satunya dengan scoring yang begitu intens-nya. Tidak ingin bertele-tele, film ini langsung memberikan candidate profile yang terdiri dari delapan pelamar yang mencoba memperebutkan satu posisi di sebuah perusahaan yang masih misterius. Empat pria, dan empat wanita ini dipertunjukkan gelagat yang berbeda ketika mereka menghadapi pre-recruitment, dan dikumpulkan pada sebuah ruangan (layaknya bunker) dengan seorang penjaga dan seorang invigilator. Invigilator menjelaskan dengan singkat, dan detail, sebuah instruksi yang akan menentukan nasib ke delapan kandidat, setelah dibahas pula bahwa delapan kandidat ini telah melalui proses yang sangat panjang. Sebuah penjelasan yang masuk akal, untuk menjelaskan mengapa semua kandidat ini begitu ambisius ke delapan puluh menit ke depan, yep ! Too much opportunity cost.

Delapan puluh menit, delapan kandidat harus menyelesaikan sebuah misteri menjawab sebuah pertanyaan yang belum jelas, dibekali sebuah kertas kosong yang harus mereka jaga, atau mereka akan didiskualifikasi dari proses ini. Mereka juga tidak boleh berkomunikasi dengan penjaga, atau invigilator (yang sepertinya berada di balik kamera), serta tidak boleh meninggalkan ruangan dengan alasan apapun. Bisakah mereka menyelesaikan proses clueless, uncertainty recruitment ?

Exam tidak ubahnya sebuah study kasus yang mencoba menggodok perilaku individu, dengan berbagai twist, dengan sisi suspense yang kental, dan film ini ternyata cukup berhasil. Ketika detik jam digital dimulai, ke delapan kandidat ini langsung menandaskan sebuah karakterisasi yang kuat, lewat langsung pemberian nama stereotyping berdasarkan ciri fisik mereka, seperti White (Luke Mably, cocky, racist, bastard), Brown (Jimy Mistry, gambler, is he an Indian or Arabian American ?), Blonde (Nathalie Cox, blonde beautiful), Dark (Adar Beck, intelligent, psychologist), Brunette (Polyanna McIntosh, uhm, mediocre), Deaf (John, Fillngham, silent, French), and Chinese Girl (Gemma Chan, she deserves to be kicked out first). Dengan casting yang sepertinya tidak terlalu dikenal, menjadikan film ini bisa dikatakan sebagai bola liar yang bisa memakan korban siapa saja, tanpa ada satu karakter yang mendominasi untuk dipertahankan. And that’s good for this kind of elimination thingy.

Seperti yang telah diutarakan, bahwa ke delapan orang ini telah melalui recruitment yang sangat berat, mereka telah terpilih, sehingga ketika mereka bekerja sama, yeah, ada satu karakter yang mempertemukan mereka, karakter itu adalah smart, witty, intelligent dalam upaya menyelesaikan masalah. All possibility is taken. Sisi sedikit negatifnya adalah, mereka seakan-akan memakan bulat-bulat setiap kemungkinan clue yang ada. Hampir setiap usaha yang mereka lakukan begitu terkesan pintar, purpose-full, di sisi lainnya, membuat film ini begitu terkesan manipulatif untuk menggiring satu kejadian ke kejadian yang lainnya. I mean it as this movie is too structured.

Ketika sebuah pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan terbesar, film yang diawali dengan sangat powerful di awal film ini sedikit kehilangan arah di paruh tengahnya, terutama ketika penonton mulai diperkenalkan dengan profil perusahaan yang begitu asing, ditambah dengan profil penyakit yang tidak familiar, karena memang film ini bersetting di sebuah alternate history. Tanpa clue apa-apa, yeah, film ini sedikit menjadi clueless di tengah. Semakin dibuat frustasi kandidat, semakin naik tensi film dengan beberapa adegan-adegan yang mulai kicking masih disertai dengan interaksi antar karakter yang semakin menuju mereveal satu karakter ke karakter yang lainnya. Untuk proses interaksi antar karakter ini, bagaimana karakter beraksi terhadap sebuah kejadian memang sepertinya masih terlalu middlecook, tidak terlalu menonjol, walaupun terus-terusan disertai dengan dialog intelek. Kelebihannya, tanda tanya dalam film ini selalu membacking-nya. Kekurangannya, seperti sebuah sisi yang sangat bertolak belakang ketika hampir dalam waktu yang bersamaan, setiap karakter yang tidak diragukan lagi kepintarannya, melakukan sebuah eksekusi akhir terhadap diri mereka sendiri yang cenderung bodoh dan tolol. Mungkin inilah yang membuat karakter-karakter ini terlihat tidak seimbang, yang juga menyebabkan setiap interaksi yang dibangun tidak hanya manipulatif namun juga palsu belaka.

SPOILER MAYBE

Ketika satu persatu kandidat mulai digiring untuk keluar, dengan banyak twist pula di prosesnya, ending film ini terasa terlalu “dipaksakan” terutama dari sisi alternate history yang melibatkan penyakit dan invention. Untuk sebuah film yang selalu mengedepankan sebuah alasan yang rasional, ending film ini masih tergolong mengecewakan, terlepas dari twist utama yang berupa satu pertanyaan yang berhasil membodohi penonton. Twist tentang sebuah invention peluru ini menunjukkan bahwa film ini kurang mau mengambil resiko terhadap sebuah efek yang ditimbulkan film, walaupun sepertinya twist yang satu ini dihadirkan memang untuk melaraskan tujuan perusahaan melakukan recruitment. But, I think the ending has possibility to be a lot better than this.

In the end, I still like it (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s