Bad Words (2014) : Spelling Bee Has Never Been This Fun, Bateman Bites for Putting His Dactylogram in Directing

Director : Jason Bateman 

Writer : Andrew Dodge 

Cast : Jason BatemanKathryn HahnAllison JanneyRohan ChandBen Falcone

“I will fuckin end you” – Guy

P.S. First directing in feature film.

(REVIEW) Bad words (like fuck, maybe) bisa dikatakan menjadi sebuah kata yang appropriate untuk menggambarkan film ini, Bad Words dapat mengekspresikan cerita tentang kemarahan Jason Bateman Versus The World, dan juga merupakan kata yang tepat yang menggambarkan usaha Bateman dari segi penyutradaraan, it’s just fucking good.

Guy Thirlby (Jason Bateman) mulai mengacaukan sebuah kompetisi spelling bee, dengan mendaftarkan dirinya sebagai kontestan walaupun usianya menginjak 40 tahun. Didasari dengan motif sedikit kekanak-kanakan, terdaftarnya Thirlby ini menjadi sebuah corengan tidak hanya terhadap orang tua murid yang juga mengikuti kompetisi, namun juga kepada “cacatnya” sistem. Dengan bantuan seorang jurnalis, yang turut menjadi sponsor, dan fuck buddynya, Jenny (Kathryn Hann), duo ini berhasil menembus kejuaraan nasional, yang tentu saja tidak mudah untuk dijalani.

If you stuck as an character (like casting stereotyping), maybe you should be a director (I am not talking about you, Affleck), yeah, untuk sebuah usaha pertama dari aktor ini, Bad Words merupakan sebuah kejutan kecil dari Bateman. Bateman mampu mempersembahkan sebuah film yang energetic (though it’s mean spirited), special, and spelling bee has never been this FUN. Bad Words yang memang sudah dari awal bertekad untuk menyandang rate R ini mampu menjembatani kapabilitas Bateman tidak hanya sebagai aktor, namun juga mampu mencerminkan sebuah film yang “memang” sesuai dengan image dari seorang Bateman. Film ini penuh dengan sesuatu yang insulting, awkward nudity, profanity, so I guess Bateman doesnt wanna be pretentious, in this case.

Sorry kids, you don’t get any special treatment. Yeah, anak-anak, mungkin sering mendapatkan sebuah perilaku yang istimewa, bahkan di film dengan rating yang dikhususkan untuk orang dewasa. Ketika Thirlby masuk ke dalam kompetisi nasional, hal ini berarti bahwa kompetisi akan semakin ketat, dan ambisi Thirlby untuk menang akan menerobosnya. Film ini banyak melibatkan anak-anak untuk melakukan hal-hal nista, terutama hubungan persahabatan misterius antara Thrilby, dengan seorang anak dengan penampakan Asia, Charitanya Chopra (Rohan Chand). Ada nudity yang melibatkan anak-anak, bahkan anak-anak masuk bar, and that is just awesome. Yeah, fearless. Hubungan antara Thrilby dengan Chopra ini menjadi sebuah pemandangan yang sangat menarik, karena beberapa moment akan mengembalikan masa kanak-kanak Thirlby yang hilang, disertai dengan penampilan Rohan Chand yang mampu mengimbangi penampilan Bateman dengan penuh optimistik.

Dari supporting cast, terdapat Kathryn Hann yang memang mempunyai darah komedi seperti Bateman menambah suasana menjadi lebih menarik, terutama ketika karakternya yang “surprisingly awkward, anti-forcing, and unstable (especially in sex thingy), ditambah dengan kehadiran Allison Janey yang merupakan musuh terbesar dari Thrilby yang mencoba memanipulasi kompetisi dengan memberikan soal-soal sulit untuk Thrilby untuk dieja seperti F-L-O-C-C-I-N-A-T- bla bla bla -another 10 letters to be spelled. As usual, Allison Janey is kicking (but less special) to her role. Ada juga Ben Falcone sebagai pembawa acara yang sepertinya kurang meninggalkan kesan, dan Philip Baker Hall yang memiliki moment krusial di akhir, namun juga kurang terdevelop.

Nice guy goes bad. Sudah berapa film yang diperankan Bateman sebagai seorang suami atau pekerja kantoran, atau apalah yang baik-baik. Walaupun tidak melakukan perbuatan ekstrem seperti di Horrible Bosses, peran Jason Bateman sebagai Guy Thrilby adalah sebuah karakter yang mampu memberikan sebuah diferensiasi karirnya sebagai aktor. Dengan yakin dan pasti, Bateman mampu menjadi sebuah karakter yang tidak meminta simpati penonton, namun image “nice guy”-nya tidak ia tinggalkan sehingga karakter ini masih begitu charming untuk dilihat. Namun, sesuatu yang penting dari seorang Guy Thirlby adalah karakter ini diperankan secara konsisten, and he’s not neglectful for what he did.

Ketika semuanya sudah menjadi stabil, persahabatan Thrilby dengan Chopra telah mencapai titik puncak, dengan keluarnya karakter Alison Janey, dengan mulai datarnya interaksi dengan Jenny, film ini memang sudah memberikan sebuah clue untuk mempunyai third act yang formulaic, namun disinilah sisi yang disimpan oleh Bateman. When everything turns out to be formulaic, it surprises us. Mulailah third act dibuka, direveal-lah motive Thrilby yang sesungguhnya mengapa ia mengikuti sebuah spelling bee, diperuncing juga kompetisi menjadi lebih buas dengan diungkap juga di balik persahabatan Thirlby dan Chopra. And the spelling bee got its climax (third act changed my grade to this movie).

In the end, there’s surprisingly heart, not a big one though. Finale disampaikan dengan pandai, dan perjalanan sepanjang film yang begitu despicable ditutup dengan scene-scene semi menyentuh. Dalam menyampaikan sisi melankolis-nya, film ini memang tidak terlalu mengeja sisi ini untuk penonton. Namun twist di akhir ini walaupun terkesan flat namun cukup meng-cover apa yang dilakukan Thirlby sebagai sesuatu yang mengejutkan bagaimana seseorang me-revenge sesuatu dengan mempercundangi sistem, and he’s not neglectful, once again. Dengan pengalaman Bateman sebagai aktor, film ini tidak terlihat sebagai sebuah film debutan. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s