The French Lieutenant’s Woman (1981) is The Overcooked Side of Beef Covers The Undercooked One

Director : Karel Reisz 

Writer : John FowlesHarold Pinter 

Cast : Meryl StreepJeremy IronsLynsey Baxter 

“I have long imagined a day such as this. I have longed for it. I was lost from the moment I saw you.” – Sarah Woodruff

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Dari materinya, French Lieutenant’s Woman merupakan sebuah novel yang sangat ambisius. Novel ini tidak hanya menyediakan satu ending, namun tiga alternatif ending dan membiarkan untuk penonton memilihnya. Untuk mengeksekusi sisi ini, film ini sengaja menyajikan dua buah cerita cinta antara Meryl Streep dan Jeremy Irons, dimana salah satunya tetap setia pada cerita novelnya, sedangkan yang satu lagi merupakan sebuah bentuk modernisasi dari cerita lamanya. Sebenarnya merupakan sebuah kejutan ketika sebuah adaptasi novel dengan cerita melankolis klasik menjadi sebuah sajian meta yang menarik.

Dari awal film, film ini langsung menunjukkan sisi metanya dengan memperlihatkan Anna (Meryl Streep) yang sedang menjalani sebuah proses syuting untuk film French Lietenant’s Woman sebagai seorang wanita yang dicap telah melakukan sebuah adultery di sebuah desa kecil bernama Lyme. Wanita tersebut adalah Sarah Woodruff (still Meryl Streep) yang setia menunggu kekasih Perancisnya yang meninggalkannya seakan-akan “habis manis sepah dibuang”. Meluapkan kesedihan, kesendirian, dan rasa berdosanya, Sarah Woodruff menatap laut dengan kosong, mungkin berharap kekasihnya akan kembali. Suatu ketika tanpa sengaja, di moment kesedihannya, ia bertemu dengan seorang ilmuwan, scientist, Charles Smithson (Jeremy Irons). Keduannya membentuk suatu hubungan yang dilarang di daerah yang sangat religius, dan keduannya mau mengambil resiko walaupun Charles Smithson telah bertunangan dengan wanita pilihannya, Ernestina (Lynsey Baxter), anak dari orang yang sangat berpengaruh di Lyme. Di dunia nyata, Anna terjebak cinta lokasi dengan Mike (still Jeremy Irons), keduannya berlomba dengan waktu mengutarakan apa yang mereka inginkan sebelum produksi film akan segera berakhir. Bagaimanakah kedua kisah cinta ini berakhir ?

Image

Adultery merupakan salah satu sisi yang sangat menarik untuk diminati di film ini. Mengambil dua setting waktu yang berbeda, sisi adultery menjadi salah satu sisi yang paling berubah di tengah masyarakat. Di abad 19, di Lyme terutama, ketika adultery menjadi momok yang benar-benar merendahkan derajat seseorang sementara di abad modern sisi ini menjadi suatu yang dianggap wajar. “They will think I am a whore.” Anna said, dengan santainya ditanggapi dengan Mike, “Yes, you are”, berbanding kontras dengan labelling yang terus-terusan diterima Sarah Woodruff terutama ketika ia bekerja dengan seorang wanita “alim” yang terus menge-judgenya. Entah mengapa, dirasakan juga, walaupun screentimenya terbatas, Anna mengalami sebuah gejolak batin yang hebat dengan konsep kata “slut” dalam film ini, ia seakan-akan ada sebagian dirinya dalam karakter film adaptasinya. This is interesting. Sisi meta ini membuat adaptasi ini cukup menarik disimak, walaupun versi modern-nya masih sangat sedikit porsinya.

Lagi, dan lagi, membagi sebuah film menjadi dua buah bagian (walaupun tidak sama rata) bukanlah perkara yang mudah. Bagaimana sebuah bagian tidak akan membayangi bagian lain, atau bagiamana satu bagian tidak akan mengganggu atau harus melengkapi jika satu bagian itu hanyalah substory saja. Untuk awalan film ini, pembagian dua buah cerita ini merupakan sebuah sisi yang sangat menarik, terutama ketika sangat jarang cerita dengan atmosfer seperti ini memiliki sentuhan modern tidak harus mengganggu namun juga melengkapi. Sejalan dengan durasi, kisah cinta Sarah Woodruff dan Charles Smithson hampir berjalan dengan mulus, diolah dengan slow pacing, dramatis, dengan cerita yang mungkin familiar. Masih sejalan dengan durasi, kisah cinta Anna Mike juga ditampilkan dengan singkat, menjadi sisi yang menarik, dengan mengambil benang merah “proses syuting” dengan cerita utamanya.

Image

Namun, sejalan dengan durasi, ketika klimaks film ini berlangsung, cerita Anna Mike seakan-akan berubah menjadi sebuah bumerang yang menyerang balik cerita utamanya. Mengganggu konsentrasi dan fokus, cerita Sarah-Charles sudah mengalami overcooked, wearysome, namun seakan-akan mengalami delaying dengan film menjelaskan cinta tidak tuntas dari Anna dan Mike terlebih dahulu. Berjalannya waktu, pembagian cerita ini terlihat menjadi lebih mengutamakan ambisiusnya ketimbang relevansi atau suatu kesinambungan antara dua cerita cinta, membuat terlalu parsial dan mengganggu satu sama lain, tanpa adanya suatu kedalaman tertentu di kedua cerita.

Apa yang paling spesial dari film ini ? Tentu saja adalah the great Meryl Streep. Jeremy Irons did a great job as Charles, but Meryl Streep did a wonderful effort as Anna and Sarah. The French Lieutenant’s Wife mengukuhkan bahwa Streep memang salah satu aktris terbaik sepanjang masa. Tidak hanya dari performance tunggalnya terhadap suatu peran, namun kecerdasannya mengambil peran potensial. Jika aktris biasa mungkin bisa menampilan dua penampilan keren dalan dua role yang berbeda, Meryl Streep seakan-akan cukup menampilkan satu setengah effortnya saja. Sebagai seorang Sarah, Meryl Streep bermain dengan halus namun tanpa melupakan sisi dramatisnya dari gerak sampai cara bicaranya. Sarah Woodruff benar-benar mengangkat kesedihan ke permukaan, dan Streep mampu mengampu sebuah peran yang sangat complicated ini menjadi sangat misterius untuk penonton. Disinilah sisi hebatnya, film meta ini menunjukkan Sarah Woodruff merupakan sebuah performance yang, uhm, subtle powerhouse, dengan menunjukkan sisi mediocre dari seorang Anna. And that is just wow ! One of best performances of Streep.

In the end, The French Lietenant’s Woman memang berhutang banyak pada aktris utamanya. Walaupun mampu membuat penting kedua cerita (walaupun diceritakan secara gamblang bahwa salah satu cerita hanya akting belaka), film ini hanyalah gabungan dua cerita yang mengalami overcooked karena terlalu dependent dengan sebuah cerita yang undercooked karena keterbatasan waktu durasi (C+).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s