The Iron Lady (2011) is Disconsolate Biography with Boomerang Storytelling, but Streep Saves The Day

Director : Phyllida Lloyd 

Writer : Abi Morgan 

Cast : Meryl StreepJim BroadbentAlexandra Roach

“We will stand on principle or we will not stand at all.” – Margareth Thatcher 

Streep’s Streak Challenge

The Iron Lady mungkin memang ditujukan hanya untuk Meryl Streep seorang, setelah berkali-kali dinominasikan, akhirnya ia mendapatkan Oscar ketiganya. Memang, sebenarnya akan sangat memalukan jika Streep dengan kendaraan “Margareth Thatcher” ini tidak menang di ajang penghargaan tersebut. Apalagi setelah penampilan-penampilan brilliantnya, termasuk perannya sebagai Julia Child dipatahkan oleh blondie Sandra Bullock, yang dianggap sebagai salah satu pemenang Oscar terburuk sepanjang masa. The Iron Lady mengambil perjalanan hidup seorang tokoh wanita yang sangat remarkable dan mendunia. Yeah, ketika kaum perempuan masih dianggap sebelah mata, Margareth Thatcher mampu menjadi Prime Minister di United Kingdom. Kisahnya ini benar-benar worth to tell, dimana setiap kebijakan-kebijakannya di masa itu selalu menuai kontroversi.

Thanks to J Roy Helland, Margareth Thatcher (Meryl Streep) berhasil dihadirkan di layar dengan meyakinkan, dengan tata rambut serta make up yang cukup memajukan umur Streep untuk memerankan Thatcher usia lanjut. Terlihat ringkih, Thatcher mengantri di sebuah toko membeli susu tanpa ada orang yang mengenalinya, tanpa ada orang yang menyadari bahwa ia seseorang yang telah berjasa. Ia juga sempat menanyakan harga barang kepada kasir kemudian pulang ke rumahnya, disambut oleh suaminya, Denis (Jim Broadbent). Kematian Denis yang belum bisa diterima Thatcher membuat kehadiran Denis saat ini hanyalah sebuah halusinasinya saja. Thatcher boleh saja pernah memimpin sebuah negara, namun kini, perempuan usia lanjut ini hanya mengandalkan anaknya dan para perawatnya yang terus-terusan mengkhawatirkan keadaannya. Thatcher sadar bahwa ketidakmampuannya untuk move on dari suaminya harus segera diatasi, halusinasi harus segera dihentikan. Kenanganpun membawanya kembali ke masa-masa kejayaannya saat ia menjadi perempuan besi.

Bisa dikatakan The Iron Lady merupakan sebuah hasil biografi dari sebuah perspektif subjektif dari Abi Morgan. Memang, The Iron Lady tidak melupakan beberapa catatan sejarah dari Margareth Thatcher, namun pendekatakan untuk menceritakan kembali kisah luar biasa ini sedikit memang tidak biasa. Bagaimana The Iron Lady ingin mengolah sesuatu yang sifatnya lebih personal dari eorang Margareth Thatcher berupa sisi psikologis dan fantasi dari dirinya mungkin memang tidak begitu impressive. Terutama ketika sebuah film biography akan selalu dikait-kaitkan dengan accuracy sejarah, maka film ini secara tidak langsung telah dikhianati oleh genrenya sendiri. Yeah, sisi halusinasi dari seorang Margareth Thatcher memang terlihat tidak dapat diukur, dan hal tersebut mungkin sesuatu yang fatal untuk sebuah biography.

Berbicara tentang Margareth Thatcher, mungkin penonton akan lebih tertarik dengan achievementnya (terlepas dari kontroversinya), bukan kepada sisi personal, atau bahkan kisah cintanya dengan Denis. Film ini dari awal sudah menghabiskan cukup waktunya untuk mengeksplor sesuatu yang terlalu irrelevant dengan sisi biography seorang Thatcher. Sisi post-achievement dari Thatcher berupa kesulitan di masa tua menjadi sesuatu yang membuat biography ini entah teras begitu neglectful dan menyedihkan. And that is not a good thing.

Surprisingly a love story, secara mengejutkan film ini adalah sebuah kisah cinta latent antara Margareth Thatcher dengan Denis Thatcher, suami yang selalu mendukungnya tak peduli apapun keputusan yang diambil Thatcher. Terbukti peran Jim Broadbent cukup dominan mengisi layar. Mungkin sedikit sebuah justifikasi ketika cerita cinta ini lebih mengambil setting ke kehidupan nyata, namun lagi, dan lagi, ilusi Denis di kehidupan Thatcher seakan-akan sesuatu yang less important (dibandingkan dengan sisi kehidupan lain dari Thatcher), plus menjadi sesuatu yang overproduced untuk film ini.

Sebuah sisi yang sangat ironis ketika sebuah film yang bercerita tentang seorang wanita yang mengandalkan ideas, thought, sebuah sisi yang real, namun malah jatuh ke dalam sesuatu yang lebih mengandalkan feeling, sesuatu yang labih absurd.

Ketika film berubah menjadi menyedihkan, dengan storytelling yang cukup tidak relevan dengan apa yang diharapkan penonton ; yaitu mengetahui sisi kehidupan Thatcher di kancah pemerintahan United Kingdom. Meryl Streep tampil all-out dengan kemampuan aktingnya, yang ditunjang dengan make up dan tata rambut yang menjadikannya Margareth Thatcher tanpa ragu sedikitpun. Streep tetap menjadi magnet utama di film ini, bahkan di beberapa scene yang tidak menarik, ia tetap menarik dan mengangkat film di bahunya sendiri. Transformasi Streep menjadi seorang world leader juga terlihat cukup signifikan dengan bertambahnya autorithy, leadership, her fierce-ness dan menangkap karakter dari Margareth Thatcher. Terimakaih juga untuk pemilihan Thatcher muda yang terlihat tidak terlalu jomplang dari segi fisiknya.

Jika materi film ini secara tidak langsung mengkhianati biografi The Iron Lady, sisi personal dari Thatcher dimanfaatkan benar oleh Streep untuk menambah kedalaman untuk performancenya. Yeah, walaupun terlepas apakah penampilan Streep ini akurat atau tidak dari sisi psikologis Thatcher, namun sisi ini menyelamatkan Streep dari performance yang hanya sekedar mimicking seorang tokoh dunia, namun tanpa kedalaman emosi dari karakternya.

Terlepas dari kekurangannya, film ini masih sangat menghibur, dan menyediakan informasi tentang The Iron Lady, walaupun sisi ini masih sangat belum optimal, dan harusnya bisa lebih baik lagi. Film ini menyerang Streep dari berbagai arah, namun sekali lagi, Streep bisa membuktikan bahwa ia juga kuat sekuat The Iron Lady. This movie is not about Margareth Thatcher, but it’s about Streep performance. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s