Demonic Movies : Devil Takes Human Form in Devil (2010) or Another Way Around in Afflicted (2014)

Yeah, selama dua hari berturut-turut menyaksikan dua film yang nyaris sama, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda. Jika Shyamalan mengambil pendekatan one setting horror thriller, Afflicted memilih found footage yang lebih memberikan kesan dokumentasi dan real. Keduannya bercerita tentang iblis, premis awal Devil adalah iblis yang menyamar menjadi manusia, sedangkan Afflicted sebaliknya, manusia yang perlahan menjadi iblis.

“Devil doesn’t make any sense, in any measure, even the devil’s”

Director : John Erick Dowdle

Writer : Brian Nelson (screenplay), M. Night Shyamalan

Cast : Chris MessinaLogan Marshall-GreenJenny O’HaraBojana NovakovicBokeem WoodbineGeoffrey Arend

(REVIEW) Entah sudah berapa kali mengecewakan, nama Shyamalan memang selalu menarik terutama ketika tangannya bercampuran dengan sisi horror atau thiller. Tidak lain tidak bukan karena beberapa twist yang cukup berani untuk ditempuh, walaupun kembali lagi, tidak semuanya dapat memuaskan penonton. Devil merupakan sebuah proyek yang ambisius, terlihat dari music awal, fotografi yang membuat penonton berpikir. Ditambah dengan sebuah accident kejadian bunuh diri seseorang melompat dari gedung yang cukup mengagetkan, “Okay this is horror”.

Detective Bowden (Chris Messina), seorang polisi yang mempunyai masa lalu kelam, anak istrinya ditabrak mati oleh seseorang, harus menangani kasus rumit, menarik, dan janggal ketika 5 orang terjebak di sebuah elevator yang berhenti seketika secara misterius. Kelima orang itu adalah Mechanic (Logan Marshall Green), Old Woman (Jenny O’Hara), Young Woman (Bojana Novakovic), Guard (Bokeem Woodbine) dan Salesman (Geoffrey Arrend). Kasus ini berubah menjadi serius, ketika ruangan sempit ini menjadi sebuah ajang pertumpahan darah yang membuat masing-masing orang terbunuh secara misterius di tengah nyala lampu yang mendadak mati. Bowden pun harus sesegera mungkin mengeluarkan mereka sebelum semua korban berjatuhan, dimana disinyalir salah satu orang yang terjebak dalam elevator adalah iblis yang sedang mengambil wujud seorang manusia.

Seemingly Devil doesn’t have perfect scenario. Entah apa yang membuat Devil ini terlihat begitu ambisius, namun dalam waktu yang bersamaan juga terlihat bodoh dan terlalu memandu penonton untuk melihat scene demi scene. Strange adalah kata pertama yang terlintas saat melihat film ini, namun bukan dalam artian baik. Setiap adegan mendapatkan sentuhan untuk menjadi menakutkan dan asing, namun setiap karakter di dalamnya kurang dapat mengimbangi dengan memberikan sebuah umpan balik yang membuat film terlihat lebih penting atau serius. Satu-satunya “strange-thingy” yang cukup baik adalah interaksi antar karakter di dalam elevator yang dibuat kaku, dan memang seharusnya begitu.

Sisi yang paling menarik dari film ini memang premisnya yang menantang, namun sepertinya premis tersebut tidak memuaskan sang pembuat cerita sehingga suspense pun tetap diciptakan di luar elevator. Hasil, it’s goddamn mess. Penonton sudah tahu bahwa hal buruk akan terjadi dan film ini ingin menunjukkannya dengan lebih jelas. Ala-ala Final Destination pun diciptakan demi memuaskan ambisi sang iblis, sebuah cara singkat untuk menciptakan tensi yang tidak terlalu banyak meninggalkan impresi.

Walaupun karakter-karakter mempunyai karakterisasi yang cukup baik, termasuk Bowden yang diliputi masa lalunya, namun film ini benar-benar gagal menghadirkan interaksi kompleks yang seharusnya ada di film seperti ini. Sebuah ruangan 2 kali 3 meter pun hanyalah menjadi saksi hidup dimana setiap karakter hanya menunggu waktu untuk dimatikan. Dimana sisi intriknya ? Oversimplified death is fatal thing in this movie.

Satu-satunya pendekatan film yang berhasil menghidupkan film hanyalah logika polisi yang masih dapat berjalan dengan rasional di tengah gempuran cerita iblis yang memang tidak umum terjadi sehari-hari. Detective Bowden pun lebih mengolah kasus dengan investigasi demi investigasi yang akhirnya me-reveal karakter demi karakter di dalam lift. Setiap karakter dipertunjukkan sisi “nista”-nya dan penonton pun mulai dibuat kebingungan dengan clue-clue nista tersebut yang mungkin akan bermuara pada siapakah sosok iblis yang sebenarnya.

Who’s the demon will be the main substance to make twist, and it fails. Sepertinya kembali lagi, twist yang dihadirkan hanyalah sebuah twist acak yang dipilih dimana pada tahap awalnya setiap karakter memang berpeluang untuk menjadi sosok iblis sebenarnya. Why this person is the devil ? merupakan sebuah pertanyaan yang tidak terjawab.

In the end, this movie is just a movie that is waiting to be turned off. (C+)

“Afflicted keep its young energy, and that’s what makes it works.”

Director : Derek LeeClif Prowse

Writer : Derek LeeClif Prowse

Cast : Derek LeeClif Prowse

(REVIEW) Berbeda dengan Devil yang langsung mematok genre-nya, Afflicted sadar benar bahwa salah satu kunci krusial sebuah film dengan gaya mockumentary seperti ini adalah menangkap sebuah energi yang mendekati real. Untuk awal film, Afflicted sepertinya cukup menyadari itu dan juga cukup berani dan jujur untuk menampilkannya. Jika tidak tahu informasi film ini sebelumnya, scene-scene awal bisa dikatakan terlalu menyenangkan, terlalu charming, terlalu muda untuk film yang bergenre horror. Namun, sampai di akhir film, bagaimana film ini memertahankan youth spirit inilah yang membuat formula film ini sedikit berbeda dengan film-film sebelumnya.

Memerankan diri mereka sendiri, Derek Lee dan Clif Prowse adalah dua sahabat karib yang berencana untuk berjalan-jalan keliling dunia. Keputusan ini diambil Derek setelah dirinya mengetahui di dalam kepalanya terdapat sebuah penyakit fatal yang membuatnya tidak ingin menghabiskan hidupnya tanpa berbuat sesuatu, sedangkan untuk Clif, perjalanan ini adalah sebuah pembuktian kesetiaan persahabatannya dengan Derek. Mulai dari Spanyol bertemu dengan band favorit mereka, di Paris bertemu dengan gadis cantik Audrey (Baya Rehaz) dimana Derek melakukan one night stand sekaligus mengalami kejadian janggal, sampai akhirnya Italia, Derek pun menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar sedang tumbuh di dalam tubuhnya.

Ingat Jackass ? Yeah, keterbatasan Jackass adalah mereka hanya manusia yang memiliki batasan, disinilah kekuatan film ini. Afflicted mempertahankan sisi fun-nya dengan melakukan banyak tindakan gila yan hanya bisa dilakukan, uhm, oleh iblis. Bagaimana tubuh Derek perlahan-lahan melakukan tindakan ganjil menjadi sisi yang sangat menarik, mulai dari kekuatan superhero seperti memecahkan batu, lari kencang, sampai melompat dari satu gedung ke gedung yang lain membuat film ini begitu fresh, tanpa memperhatikan genre yang disandingnya. Sedikit – sedikit akan mengingatkan kita pada Chronicle.

Found footage-pun sukses dikemas lewat kamera-kamera dan pengambilan gambar yang meyakinkan, sekaligus memusatkan konsentrasi pada beberapa scene yang cukup gory dan bloody. Beberapa visual effect pun membuat penonton berhasil bertanya-tanya, “It’s low budget, right ?” Dalam artian, beberapa visual effect berhasil untuk ditampilkan. Apa yang menjadi ganjalan adalah bagaimana karakter Derek tetap resist dengan keadaannya, ditambah dengan Clif yang juga menarik ulur rasionalitasnya, karakter disini untuk beberapa saat kurang dapat dipahami, kurang dapat dimengerti setiap tindakan yang mereka lakukan. For example, untuk sebuah rekaman melukai orang lain, Clif mengupload-nya pada blognya yang ditonton entah berapa orang. It’s like just, uhm, SERIOUSLY ?

SPOILER MAYBE

Iblis dalam tubuh Derek pun semakin terdefinisi, mulai dari kulit yang terbakar matahari, kemampuan superhero, sampai meningkatnya antusiasme Derek terhadap darah, uhm, you know what kind of demon stays in Derek body. Namun, semakin terdefinisinya “iblis” ini entah mengapa membuat sisi misterius film ini perlahan menjadi berkurang. Maybe, it’s just because I wanna something more.

Palng tidak, film ini akhirnya berhasil mencuri keindahan Italia yang menjadi setting, mengubahnya dengan sesuatu yang menakutkan, dan juga menyenangkan dilihat untuk fans genre ini dalam waktu yang bersamaan. Seiring dengan berjalannya durasi, perubahan Derek menjadi sesuatu yang lebih “iblis” ini akhirnya memaksimalkan sisi teknikan dari filmmaker ini, namun dalam waktu yang bersamaan, kapasitas Derek Lee sebagai seorang aktor juga mulai tidak dapat mengimbangi sisi psikologis karakter Derek yang semakin demanding. Entah apa yang membuat mereka begitu narsis untuk meng-casting diri mereka sendiri sebagai dua peran utama.

Menyadari bahwa issue menjadi semakin serius, film ini mulai meyadari bahwa film ini adalah sebuah film. Sebuah ending yang cukup dramatis, dipaksakan, diburu-buru pun menjadi sebuah finale yang cenderung terlalu cliche. Namun untuk adegan Derek versus SWAT team benar-benar menghibur, dan membuktikan film ini mulai melakukan pembuktian sebagai feature film yang memerlukan beberapa tendangan untuk memuaskan penonton.

This movie is higly entertaining especially, for the fans. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s