Joe (2014) is Nicholas Cage in Good Shape, Slow and Arid but The Metaphor Makes A Point

Director : David Gordon Green 

Writer : Larry Brown (novel), Gary Hawkins

Cast : Nicolas CageTye SheridanGary Poulter

“He was looking for someone to fuck with” – Joe

(REVIEW) Setelah duo combo komedi gagal The Sitter, dan terutama Your Highness hampir menghancurkan karirnya sebagai sutradara, di tahun kemarin David Gordon Green kembali dengan skala film yang lebih kecil, yah salah satunya adalah film Joe ini. Memuat sebuah drama dengan setting Southern – Amerika, Joe merupakan sebuah karya yang sangat-sangat berbeda dari karya Gordon Green sebelumnya yang memiliki taste komedi yang sangat kental.

Pure, good hearted, just a kid, Tye Sheridan sepertinya me-reprise peran hampir sama setelah membantu Matthew Mcconaughey mendapatkan cinta sejatinya di Mud. Gary (Tye Sheridan) berusaha mencurahkan isi hatiny kepada ayahnya setelah sekian kali mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal karena ulah ayahnya (Gary Poulter) yang alkoholik. Bukan pengertian yang ia dapat, namun kepalan tangan yang merubuhkannya. Sementara itu, Joe (Nicholas Cage) adalah seorang supervisor di sebuah proyek dengan anak buahnya yang didominasi oleh orang-orang kulit hitam. Tercermin sebuah darah kriminal di perawakannya, namun sosok Joe terlihat dekat dan mengayomi anak buahnya. Kehidupan Gary yang berat, salah satunya disebabkan keadaan ibu dan adik perempuannya yang powerless dan harus tinggal di rumah bekas, mendorongnya untuk mencari pekerjaan dan menghidupi keluarganya. Beruntung ia bertemu dengan Joe dan berhasil memperlihat semangat etos kerjanya. Joe pun memperkerjakannya sebagai salah satu anak buah yang tugasnya menancapkan kapak beracun ke batang pohon sehingga pohon-pohon itu mati. Joe is a very loving man, tak terkecuali dengan alam. Ia melakukan hal ini agar pohon-pohon pinus yang lemah dan useless segera bisa digantikan dengan pohon-pohon pinus yang lebih kuat. Terkesan dengan cara kerja Gary, yang sedikit banyak mengingatkan pada dirinya, Joe pun membentuk ikatan selayaknya orang tua dan anak di tengah lingkungan keras yang siap menempa keduannya, termasuk serangan demi serangan yang dilakukan musuh bebuyutan Joe, Willie (Ronnie Gene Blevins) dan intimidasi ayah Gary yang semakin menjadi-jadi.

Joe merupakan projek dari Gordon Green yang jauh dari kata crowd pleaser, terutama dari sisi eksekusinya yang terlihat slow dan tidak ingin mengambil jalan pintas. Oleh karena itu, Joe memperlihatkan benar-benar kehidupan sehari-hari dari dua karakter utama Joe dan Gary, yang terkadang memaksa penonton untuk berpikir, “What is the point of this scenes ? Of that scene ?”. Lagi dan lagi, scene-scene ini tidak bertujuan selain memperlihatkan kehidupan karakter yang menjadi bagian karakter itu sendiri. Membuat frustasi ? Yeah, film ini membuat frustasi terutama ketika menonton film bertujuan untuk mencari hiburan.

Sama seperti apa yang menjadi pekerjaan Joe, film ini bisa diibaratkan memperlihatkan suasana hutan yang lemah lewat kehidupan rural Southern Amerika yang berat dan kering, dengan karakter Joe sebagai pohon utama yang telah tua namun masih tetap kuat. Kemudian mulailah ditancapkan racun-racun itu lewat karakter-karakter antagonist yang sangat menyebalkan lewat Willie, seorang karakter childish dan coward yang mau melakukan apa saja untuk membalas dendam orang-orang yang pernah bermasalah dengannya. Konflik antara Joe dan Willie ini tidak terkesan depresif karena diimbangi dengan karakter Joe yang mampu melawan balik. Sedangkan sisi yang paling depresif adalah hubungan anak dan ayah Gary. Walaupun mempunyai sifat negatif, Gary tidak berusaha melawan balik ayahnya. Ia terkadang bahkan memiliki good moment dengan ayahnya, walaupun ketika berhubungan dengan minuman dan uang, ayahnya langsung berubah beringas menyerang siapa saja. Beradanya Gary di lingkaran setan keluarganya sendiri ini memang menjadi aspek utama yang membuat film ini sangatlah depresif.

Berbeda dengan hubungan McConaughey dan Sheridan yang langsung nempel, karakter Joe dan Gary tidak demikian. Walaupun cerita utamanya tentang hal tersebut, Gordon Green menyelipkan banyak scene yang seakan-akan tidak berhubungan dengan cerita namun akhirnya bermuara pada arah yang sama. Simpati Joe mulai tumbuh ketika ia terpaksa memberhentikan Gary karena attitute ayahnya dan juga cuaca yang menuntutnya untuk menghentikan pekerjaan anak buahnya. Spirit dari seorang Gary inilah yang akhirnya membuka pikiran bahwa kehidupan seorang Gary tidaklah mudah, disini Joe mulai melakukan intervensi.

Setelah berkali-kali terjebak pada project dummy di beberapa filmographynya, Joe merupakan sebuah film yang membawa respect untuk seorang Nicholas Cage. Entah kita menyukai film atau tidak, merupakan hal yang sangat menyenangkan ketika Cage mendapatkan sebuah karakter yang dapat menghidupkan kembali talenta-nya sebagai seorang aktor, tidak hanya sebagai seorang artis yang sedang mengejar setoran. Joe, sebuah karakter yang sangat menarik, ketika diperlihatkan Joe memiliki masa lalu yang kelam karena menjadi seorang ex-criminal. Joe sepertinya menjadi sebuah karakter yang sangat versatile dilihat dari perspektif ia adalah karakter yang mencoba menjadi orang baik di tengah sebuah lingkungan yang seakan-akan lebih mendukungnya untuk berbuat sebaliknya. Dan salah satu pendorong ia ingin melakukan perbuatan nekad adalah ketika ia memiliki keinginan untuk melindungi Gary.

Walaupun melakukan sebuah karakter yang repetitif dari karakter sebelumnya, Sheridan berhasil menambah sisi kedewasaan dan tahan banting-nya melawan face to face Nicholas Cage (dalam performa terbaiknya), membawa kita cepat atau lambat menantikan Tye Sheridan sebagai aktor yang sedang tumbuh untuk film yang lebih komersil dan demanding untuk melepaskan predikatnya sebagai aktor “young adult”.

Non sympatetic treatment, karakter Joe yang berada di ambang area abu-abu ini kemudian dicocokan dengan aksinya yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa simpati instant kepada Gary. Ia terus menjaga jarak, hingga akhirnya triggering factor ini benar-benar memicu Joe untuk melakukan aksi yang lebih jauh. Dan tentu saja, untuk mengisi durasi dua jam ini, Joe mengisinya dengan tindakan-tindakan yang semakin memperkaya karakternya, termasuk interaksinya dengan anjing kesayangannya.

Semakin scramble film ini, maka penonton akan merasa semakin frustasi dengan semakin besar pertanyaan kemanakah film ini akan dibawa ? Dan film ini pun hampir melewatkan mengucapkan point yang ingin disampaikan hingga adegan puncak yang juga menjadi puncak emosi penonton terhadap villain.

And the metaphor saves this movie from being point-less. Sebuah reminder di akhir film, yang juga disampaikan di awal film, kehidupan Southern layaknya hutan yang sangat lemah dengan Joe sebagai pohon utamanya, ditancapkan racun lewat kehadiran para villainnya (terutama ayah Gary yang terbukti menjadi racun yang sangat efektif), melihat pohon tersebut perlahan-lahan mati dan akhirnya membawa kita pada sebuah kesempatan untuk melihat benih yang lebih kuat untuk tumbuh, dalam hal ini adalah karakter Gary sendiri. (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s