Labor Day (2014), Lacking of Anxiety and Instinct to Make Leaps between “Home Invasion” and “Penetrating Drama”

Director : Jason Reitman 

Writer : Jason ReitmanJoyce Maynard 

Cast : Kate WinsletJosh BrolinGattlin Griffith 

Keep an eye out, all right? – Officer

(REVIEW) One of our steady hand of director. Yep, it’s Jason Reitman. Lewat karyanya seperti Thank You for Smoking, Juno, Up In The Air, dan less big hit movie, Young Adult, karya Reitman memang sangat ditunggu. Namun ada yang berbeda dengan filmnya yang satu ini, Reitman sendiri mengatakan bahwa Labor Day merupakan karya filmnya yang paling berbeda, bahkan ia mengatakan bahwa ini adalah “first step” untuk menggarap perbedaan ini.

Ditulis sendiri dari novel dengan judul yang sama, Labor Day. Film ini sedikit meleset untuk mengikuti award season kemarin, bahkan mungkin satu-satunya award yang diketahui publik hanyalah nominasi untuk Kate Winslet – Best Actress, drama. Hmm, is it his first misstep ?

Labor Day merupakan sebuah perjalanan singkat dari sebuah insiden yang dialami sebuah keluarga saat mereka menyembunyikan tahanan yang melarikan diri. Dengan sedikit ancaman untuk melukai anaknya, Frank (Josh Brolin) mendapatkan tumpangan dari single mother, Adele (Kate Winslet) untuk keluar dari kejaran polisi. Tidak hanya membahayakan dirinya, namun juga anak semata wayangnya Henry (Gattlin Griffith), Adele pun menyembunyikan Frank di rumahnya mengingat keadaan Frank yang terluka parah. Disinilah intrik ketiga karakter ini bermain.

Apa yang menyebabkan Labor Day kurang sukses ? Mungkin salah satunya penggambaran karakter yang terlalu baik, “too kind”, untuk menimbulkan sebuah konflik yang selayaknya sebuah thriller tentang sebuah “home invasion” yang dilakukan oleh Frank.  Walaupun mungkin semua karakter yang terlibat disini memng baik, namun sisi anxiety, sisi seorang tuan rumah untuk mengeluarkan instinct-nya terhadap “tamu tidak diundang” seakan-akan terlalu subtle untuk diperlihatkan. Frank menunjukkan ekspresi khawatir. Adele menunjukkan ekspresi khawatir. Henry menunjukkan ekspresi khawatir. Namun itu semua mereka pertunjukkan lewat “senses” ekspresi mereka, dan tidak berbuat apa-apa.  All of characters trust each other is just unbelievable.

I know it’s not something about home invasion. Namun, Jason Reitman seakan-akan menghadirkan scene-scene “penyanderaan” ini terlalu half-assed, padahal bisa diolah dengan lebih thrilling. Okay, forget about home invasion. Kesendirian Adele yang ditinggalkan suaminya (Clark Gregg) sepertinya sedikit terobati terutama ketika Frank menunjukkan gelagat yang baik. Frank is cleaner, handyman, cook, piemaker etc, etc, what a wonderful man with charisma. Henry pun menjadi dekat dengan Frank, dan sepertinya menjadi typical Kate Winslet untuk terjebak pada sentimentality singkat untuk kemudian ia jatuh cinta dengan Frank. Disinilah Frank mulai melakukan penetrasi untuk kehidupan keluarga kecil ini. Mungkin tidak langsung terhadap karakter Adele, namun Henry merupakan sebuah karakter yang seakan-akan menjadi wild card untuk hubungan Adele dan Henry ini.

A depressed mom ? Sounds old for Kate Winslet. Adele yang mengalami depresi karena keguguran berulang-ulang (kind of ironic, when her character in Revolutionary Road, is the one who wants an abortion) mungkin menjadi satu-satunya paling reluctant di film ini. She’s typically good in this role. Adele is like “All I can eat”-role for Winslet. Sedangkan Josh Brolin tetap tampil dengan kharismanya yang sangat membantu, sedangkan Gattlin Griffith terlalu datar berperan sebagai Henry. Sempat pula diselipkan beberapa scene flashback dari seorang Frank, namun karakter Frank yang sedari awal sudah tidak misterius lagi membuat kilas balik ini menjadi kurang menarik, walaupun berusaha menceritakan kronologi Frank sebagai seorang kriminal.

Henry, karakter kecil namun karakter yang paling ditimpa di sepanjang film nyatanya tidak mampu mengemban tempaan ini dengan kualitas akting dari aktornya. Ada juga sedikit sensualitas di pubertasinya, ada kegalauan ketika ia takut kehilangan ibunya, ada juga “ketidakpercayaannya” terhadap sosok Frank, namun semuannya malah terbayangi-bayangi oleh Winslet -Brolin yang mungkin lebih cocok hanya sebagai supporting roles saja.

Namun begitu tangan dingin seorang Reitman masih sangat terlihat terutama di beberapa scene awal film, dan masih diselipkan beberapa scene menawan yang begitu crafted untuk tetap dilewati. Disisi lain, kita tahu bagaimana Jason Reitman seakan-akan mengexpose “the ugly truth” di film-film sebelumnya, sisi inilah yang mungkin membuat film Reitman begitu memuaskan, namun itu semua seakan-akan ditinggalkan di film ini. Humor dan jokes-jokes satire yang menawan juga Reitman tinggalkan di screenplay-nya.Di paruh akhir film, Reitman mulai berhasil menaikkan tensi dan mulai terasa kicking untuk penonton, namun harus kembali ke source aslinya, Labor Day kemudian terjebak pada sebuah ending dengan sentimentality yang begitu “too good to be true” untuk sesuatu yang hanya terjadi selama 4 hari. Though, I like this last sentimentality. (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s