Ironweed (1987) : What’s Worse than Homeless Schizophrenic Jack Nicholson Drank During The Great Depression ?

Director : Hector Babenco 

Writer : William Kennedy

Cast : Jack NicholsonMeryl StreeCarroll Baker

“By God, Helen, that’s as good as it gets. You were born to be a star.” – Francis, by the way, Nicholson got his Oscar for movie “As Good As It Gets”, 10 years later

(REVIEW) There’s no home to be headed to, yeah film ini memang demikian baik dari storyline maupun cara penceritaannya. Pelan, bertele-tele, dan sedikit panjang dengan durasinya yang nyaris 150 menit, hanya untuk menyaksikan Nicholson dan Streep terombang-ambing menjadi gelandangan di kota New York di tahun 1930-an. Untungnya, aktor dan aktris yang masing-masing telah menyandang 3 Oscars ini membantu banyak untuk mempertahankan penonton di depan layar.

Francis Phelan (Jack Nicholson) terbangun dari tidur paginya, ia tidak berada di sebuah kamar tidur, namun hanya rumput-rumput yang menjadi alas tidurnya. Menjadi seorang homeless mungkin menjadi sesuatu yang berada di daftar paling bawah saat ia masih muda. Tampan, memiliki istri yang super pengertian, memiliki anak, hingga suatu hari sebuah incident menyebabkan ia lari dari kenyataan, yang berarti ia harus meninggalkan hometown-nya. Setelah 22 tahun meninggalkan New York, ia kembali untuk sedikit banyak mengulang masa lalunya.

Alcoholic, homeless, schizophrenic, entah mengapa tiga kata ini sepertinya memang cocok untuk seorang Nicholson. Tiga kata ini juga merupakan menjadi sisi yang membuat film ini terasa sangat depressing, dan God-less di beberapa sisi. Diangkat dari sebuah novel, film ini bisa dikatakan membuat mati rasa untuk menengok sumbernya. Dieksekusi sedemikian depressing dan  uhm, membosankan, entah akan seberapa “nightmare” novel aslinya (though it’s not a fair judgement).

Pertama kali datang ke hometown-nya, Francis langsung mendatangi sebuah kuburan dan mencari nisan dengan nama Gerald di atasnya. Inilah penyesalan paling besar dari seorang Francis, ketika anaknya berusia 22 hari, ia tidak sengaja menjatuhkannya. What a ridiculos way to die, right ? Kemudian, film ini mulai menguak penyesalan demi penyesalan dari seorang Francis. Mulai dari hadirnya bayangan seseorang yang tidak sengaja ia bunuh di masa mudanya dengan lemparan “batu baseball”-nya yang mematikan, seseorang yang tidak berhasil ia selamatkan di kereta, hingga seseorang yang tidak sengaja ia bunuh demi memperebutkan sepasang sepatu. Why all of these souls are cheap ? Murahnya jiwa yang melayang ini juga terlihat dari kehidupan keras di jalanan kota New York. One night you don’t get bed, you’ll be freezed to death (Oh, that is very rhymed).

Performance Jack Nicholson sendiri tidak menjadi sebuah kejutan, yeah he just becomes a Jack Nicholson at the street. Hanya saja paling tidak Nicholson banyak bermain dengan emotion-nya, sedikit mengurangi frekuensi ke-grumpy-annya, yeah, he’s just a good man now.

Berada di jalanan bukan berarti kehidupan romansa harus mati. Francis yang berpisah dengan istrinya akhirnya menjalin sebuah hubungan on-off, dengan sesama gelandangan, seorang mantan pianis yang bangkrut ditipu keluarganya namun menolak ntuk menjadi pelacur untuk mencari uang, yeah dia adalah Helen Archer (Meryl Streep), our reason why this review exists in this blog. Thanks for the costume and make-up, Streep berhasil melakukan impersonisation sebagai gelandangan dengan mukanya yang selalu sakit. Terima kasih juga untuk musical performance-nya, scene Streep menyanyikan lagu He’s Me Pal menjadi satu-satunya scene terbaik di film ini. Begitu regretful, painfully performed dan membuktikan bahwa yeah she got talent.

Storyline kemudian hanya berkutat pada hal-hal basic yang diperlukan manusia, namun karakter-karakter ini seakan-akan mau mati untuk mendapatkannya. Mulai dari mencari cheese sandwich, dan melakukan handjob hanya untuk mendapatkan tempat untuk bermalam. What a cruel world. Helen Archer yang menjadi satu-satunya aset bermanfaat di film juga terus terbayang-bayang dengan aksi Francis yang terus-terusan melakukan penyesalan, tanpa adanya solusi, harapan ataupun sisi compromise dari dirinya.

Satunya-satunya sisi charming dari film ini hanya disajikan saat Francis kembali ke keluarganya, bertemu dengan Annie (Caroll Baker) yang mengingatkan pada sosok Sally Field, but regret is the regret. Misi film untuk tetap menjadi film yang depresi tidak bisa terbendung lagi.

A movie about life. I guess life is about good times and bad times. It’s just bad times. So what ?

Sickening plot ini terus dipertahankan hingga akhir film, tidak akan ada kejutan untuk film ini. Life as it is, where’s the silver linings ? Where’s the silver linings ? Where’s the silver linings ? (C+, plus for the performances).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s