The Railway Man (2014) Works Too Hard, Misses Its Climactic Horror of War, and The Sentimentality isn’t Rewarding

Director : Jonathan Teplitzky 

Writer : Frank Cottrell BoyceAndy Paterson 

Cast : Colin FirthNicole KidmanStellan SkarsgårdJeremy Irvine 

“I am railway enthusiast.” – Eric Lomax

(REVIEW) I thought it’s a love story, at first. Partially, yes ! Itulah mungkin salah satu keuntungan menonton film tanpa mendapatkan informasi apapun tentang film tersebut. Selalu memiliki element of surprise-nya tersendiri. Eric Lomax (Colin Firth) sangat menyukai kereta api dan jalannya, ia juga begitu hapal dengan rute kereta api di Inggris. Hal inilah yang membuat Lomax memiliki keseksian tersendiri di mata Patti (Nicole Kidman), seorang wanita elegan dengan kecantikan klasik yang juga langsung menarik perhatian dan hati dari Lomax.

Dengan kharismanya, tidak lama Lomax pun menikahi Patti dan kehidupan Lomax yang merupakan bekas tentara perang pun tidak sendiri lagi. Walaupun baru mengenal sebentar, Patti merupakan wanita terpenting di kehidupan Lomax sekarang. Biography based on love story, yep, mungkin inilah yang berusaha disampaikan oleh The Railway Man. Sayangnya, love story yang diceritakan cukup singkat ini tidak cukup menjadi pondasi yang kokoh untuk berjalannya film ke depan. Apalagi ditambah karakter Patty yang menjadi karakter paling krusial di sepanjang film, yang merupakan karakter yang menge-drive segala kejadian yang akan dialami Lomax. Kurangnya rasa melekat penonton pada love story mereka inlah yang membuat film serasa “miss the mark” walaupun performance dari Firth dan Kidman sangat meyakinkan. I am digging all about information of this movie. One of the trivias, is “compressed the time to speed up the story”. Hmmm, seemingly this speed up is fatal thing. Tidak hanya menjadi tidak akurat untuk ukuran sebuah biography, tapi juga sisi speed up ini membuat hubungan Patty dan Lomax terasa kurang meyakinkan. They need more time. Tidak hanya dari screentime, namun juga bagaimana interval hubungan mereka seharusnya lebih diceritakan di film.Layer untuk penampilan Firth sebagai veteran perang pun mulai dihadirkan, ketika Lomax berubah dari “charming guy” menjadi seorang pesakitan yang memiliki trauma masa lalu. Firth merupakan salah satu aktor yang cukup versatile untuk menunjukkan layer ini, cukup subtle juga untuk menunjukkan rasa tersiksanya, sementara ia tidak dapat mengungkapkan apa-apa tentang traumanya tersebut kepada Patty. Rasa penasaran Patty dan kesetiannya sebagai seorang istri-pun mula menggiringnya pada teman sejawat Lomax, Finlay (Stellan Skarsgard). Mulailah flashback perang dunia kedua pun dimulai. Disinilah mulai karakter Patty mulai ter-underdeveloped. Poor, Nicole Kidman, she deserves better.

What are you imagining when you’re thinking about war ? War world II ? Some cruelty ? Yeah. Suffering, yeah. Gunshot everywhere ? Yeah. But not for these engineeers. Lomax muda (Jeremy Irvine) adalah seorang engineer muda yang terpaksa menyerah di tangan Jepang. Ia dan kawan-kawanya, termasuk Finlay, harus membantu pembangunan rel kereta api di semenanjung Malaysia ke Burma pada saat itu. Berbeda dengan konsep perang di kepala, bisa dikatakan penggambaran perang untuk para engineer ini cukup nyaman, cukup menyenangkan dilihat, dan juga terlihat tidak disturing sama sekali. Hanya sesekali diiringi dengan bleak, haunting scoring yang membuat film malah terlihat indah berpadu dengan keeksotisan Asia Tenggara. I am not kidding. Dalam penyerahan mereka, atas kepandaian mereka-pun, para engineer ini membuat sebuah radio dengan susah payah dengan tujuan agar mereka dapat mengupdate informasi tentang dunia. Salah satunya tentang perang Jepang dan Amerika, dimana tentara Jepang mulai kepepet di saat itu. Untuk sequence ini, Jeremy Irvine is geek enough untuk menjalani seorang Lomax muda. Nice performance.
And this is it, the most interesting part. Sebuah penyiksaan yang berat dialami oleh Lomax muda yang dilakukan oleh tentara Jepang. Atas bantuan atau provokasi Finlay, Lomax mendapatkan sebuah kabar gembira (atau sedih) ketika ia mengetahui bahwa tentara Jepang yang menyiksanya dulu ternyata masih hidup. And the sentimentality begins….

Yep, it is. The Railway Man menggabungkan sisi revenge, love, forgiveness, trauma, dengan sisi yang lebih dramatic di akhirnya. Diilhami oleh cerita nyata tentang seorang veteran perang yang bertemu kembali dengan musuh bebuyutannya, The Railway Man malah menciptakan banyak on off pacing yang membuat film ini serasa kehilangan konsentrasi terutama kemarahan Lomax yang harusnya mencapai klimax dipertunjukkan Firth yang seharusnya mendapatkan jatah konsentrasi lebih. Hasilnya, final act dari film ini terasa lebih seperti soap opera ketimbang sesuatu yang lebih genuine.

Jika Philomena secara effortlessly menggabungkan sesuatu yang ingin dicapai film ini, The Railway Man terlalu berusaha untuk menciptakan sentimentalitas tersebut, dimana Firth harus berjuang sendiri dengan performance-nya di akhir tanpa screenplay yang mendukungnya untuk menggali lebih dalam lagi. Sebuah scene yang masih terus disembunyikan sampai akhir tentang sebenarnya apa yang dialami Lomax muda pun gagal untuk menciptakan climatic horror of war. If the real war leaves mark, this movie just doesn’t.
In the end, I know the story is worth to tell. It’s intriguing. It should give the audience the proper dramatic reward. The problem is, this movie sometimes tries too hard. Though, it’s still enjoyable. (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s