Book Corner : Gone Girl (2012), Quirky – Sharp – Jawdropping Material for “The Perfect Love Story and Crime”

Yeah, I am pretty dozed off reading my own movie review (but I am not gonna stop :p), so let’s give this blog some varieties.
Setelah Poster Corner (I dont update it), Classic Choice (YOU KNOW IT’S SO HARD TO WATCH A CLASSIC) now it’s Book Corner (relaaax it’s still movie blog, hanya buku yang akan diadaptasi ke film yang akan direview).

I am nervous, the last time I made book review, is about The Help.

Gone Girl The Movie (God, it’s so lame, but it makes differences it from Gone Girl The Book (now it sounds weird)) merilis teasernya, sebuah teaser yang sangat menarik dan kuat akan misteri, salah satunya kontribusi dari lagu pengisinya, She – Elvis Costello (but someone covers it). Lagu ini begitu menyatu dengan karakter Amy Dunnesekaligus menebar formula gandanya lewat memberikan sisi agony dari seorang Nick Dunne yang menjadi tokoh utama nantinya. Mulai dari sinilah hype Gone Girl mulai menarik perhatian dan keinginan membaca novelnya pun kembali muncul.

Sebenarnya sudah membaca novel Gone Girl sejak November lalu, tapi membaca novel ini membuat anxious (so I stop for my own good).

Diilhami dari pengalaman pribadinya, ketika keluar dari Entertainment Weekly (yeah nothing good for EW, no one is good enough for EW), Gillian Flynn menuliskan novel ketiganya setelah Sharp Object (no read it yet) and Dark Places (no read it yet, tapi bakal diadaptasi ke film juga with Charlize Theron, yummy, and Chloe Grace Moretz, hmm, double yummy).

Nick Dunne, seorang jurnalis, tampan, gallant, suave (whatever he’s called) akhirnya menemukan belahan jiwanya, Amy Elliot, seorang psikolog yang kerjanya bikin quiz di majalah, basically she’s Goddess with mind like a maze (yeah, woman !). Cocok satu sama lain, mereka pun menikah.

Hitting bottom, memiliki pekerjaan yang terus tergerus teknologi, Nick pun kehilangan pekerjaannya disertai dengan Amy yang mengikuti jejak suaminya. Two jobless grown up in one room that used to have everything. One word, dysfunctional. Pertengkaran demi pertengkaran pun akhirnya mereka lalui. Hingga suatu hari, Nick harus kembali ke hometown-nya dan mengajak Amy bersamanya. Untuk Amy sendiri, meninggalkan New York dan karakternya yang anti sosial bukanlah satu keadaan yang menyenangkan.

Waktu berjalan, waktu berjalan, anniversary pernikahan mereka pun mencapai angka 5 (wood, something that has potential to be rotten, and it is), Nick yang telah memiliki usaha bar dengan trust fund Amy pun menemukan rumahnya kosong. Tanpa Amy, hanya clue-clue treasure hunt (semacam permainan tahunan keduanya) yang harus ia pecahkan dan membawanya ke misteri yang lebih dalam.

My favorite quote of Gone Girl :

“Should I remove my soul before I come inside ? – Amy, semakin ironis seiring cerita berkembang.

Gone Girl merupakan sebuah buku yang cukup mengangkat genrenya, mystery. Part I bisa dikatakan bagian terbaik dari Gone Girl jika dilihat bagaimana Gillian Flynn dalam memainkan kata-katanya. GoneGirl membagi chapter-chapternya ke dalam perspektif Nick, dan perspektif Amy yang tertuang dalam jurnal yang ia tulis. Menulis dua sudut pandang dari dua karakter berbeda merupakan sesuatu yang sulit, bagaimana Flynn bisa memberikan diferensiasi keduanya merupakan sisi yang impresive.

Lebih dulu mengetahui filmnya ketimbang novelnya sendiri ternyata cukup membentuk anggapan sendiri, plus judul yang begitu jelas terpampang, gone girl – Gone Girl – GONE GIRL ! ( yeah stupid girl is being killed again, and everybody finds out her floating body), Gillian Flynn tahu akan hal ini, ia pun tidak ingin banyak cing-cong menyajikan cerita yang “yeah, everybody knew the story”. Cerita inipun dikulik habis oleh Flynn. Melihat cerita begitu mengembang sesuai ekspektasi Gone Girl awal, namun tidak diimbangi dengan jumlah pages yang tersisa (it’s a lot, yeah it’s A LOT), menyisakan pertanyaanpembaca, “She runs out of her fuel, but WHAT HAPPENS NEXT ?

What’s gonna happen ? Another strength of Flynn, dijamin Gone Girl tidak akan membuat ngantuk, setiap chapter membawa sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak ingin dilewatkan, sesuatu yang membuat pembaca tidak ingin berbuat apa-apa kecuali “I am gonna fucking finish it.”, thank you Gillian Flynn for making me done nothing, you’re psycho bitch !Karakterpun terus berkembang dengan gaya narasi yang menawan, ditambah dengan materi flashback yang ditebar dimana-mana (Sometime I am drowning in it, forgetting that Amy is still a gone girl). Seimbang menceritakan kehidupan keduanya memberikan perspektif seimbang tentang cara pandang antagonist – protagonist, uhm revise, protagonist -antagonist, uhm revise again, antagonist – antagonist. HAH ! Whatever !

Begitu move on ke Part II, twist pun dibuka. Mulut melongo, mata tetap membaca namun sama sekali tidak tahu apa yang dibaca. Twist is so shocking, jawdropping ! Life’s cruel, marriage is murderer, MURDERER !!!!!! (I gotta shout it). Di Part II ini mulailah pembaca merasa dikhianati dengan cara bercerita Flynn. Mungkin sedikit dari sisi Amy,namun banyak dari perspektif Nick. Reader is the brain of character, but the brain betrays. Yep ! Segala narasi Nick di Part I mulai terlihat tidak jujur, penonton yang ditempatkan sebagai otak Nick merasa terlalu banyak yang ditutupi oleh “campur tangan Tuhan” Flynn sebagai pencerita. Kompensasinya, Flynn menggulirkan fakta demi fakta mengejutkan, twist-twist baru yang lebih gelap yang seketika menutupi “ketidakjujuran” bercerita ini. You’re a liar bitch, Flynn.

Dibawa ke Part III, Gone Girl semakin membawa masuk ke situasi yang rumit, complicated. Terus membawa cerita tentang sekelumit kehidupan rumah tangga, yang di-refresh dengan sebuah perfect crime yang membawa banyak pihak, kepolisian, media, keluarga, public opinion dan masa lalu yang kelam.Pada akhirnya Gone Girl tidak berkonsentrasi pada kriminal itu sendiri, it’s battle wits yang dibalut dengan “love story” dari Nick dan Amy, in a very, very dark way. Uhm, who am I kidding, it’s fucking love story, that’s it.

So the movie will be …

David Fincher tidak akan mengambil projek film dengan source yang dangkal. Gone Girl tidak dangkal. Gone Girl is complicated, twisty, rich characters. Tidak menjadi sebuah kejutan jika Gone Girl pasti berdurasi lebih dari dua jam (with The Girl with Dragon Tattoo’s pacing, it’s huge pleasure), yep dan di tangan Fincher setiap twist tidak akan overwhelming satu sama lain, it’s gonna be fucking great.People likes twisty movie, jadi mungkin score imdB pun akan naik, mungkin akan menembus Top 250 dengan jumlah voter yang cukup banyak, it’s gonna be 8 point something.

Casting department merupakan sebuah sisi yang menarik, salah satunya dengan pemilihan Ben Affleck dan Tyler Perry, siapa yang tidak skeptis, namun setelah membaca novelnya Nick is disarming, and Affleck is disarming as an actor. Plus citra Perry yang memerankan useless lawyer, and almost everybody hates him as lawyer because he’s assholedefendant. Seperti halnya rasa public terhadap project Madea, etc-nya, Perry will fit in.

Paruh pertama, Rosamund Pike merupakan sebuah pilihan casting yang cukup cocok. Paruh kedua dari novel, SHIT ! Amy is totally Charlize Theron (Once, I checked her imdB page, and she was attached to it). Theron adalah ideal casting namun tidak akan mengejutkan jika Theron benar-benar memerankan seorang Amy Dunne. Berbeda dengan Pike yang merupakan sebuah pilihan yang riskan. Keep your faith, people ! Pike will surprise us. Plus di teaser, ia cukup membawa persona misterius dari Amy.

Interesting choices is Neil Patrick Haris playing straight guy trying to seduce a girl, in other hand, Emily Rotajkowsky as fuckable girl. Uhm, I forgot to tell you that she’s one of “Robin Thicke’s Blurred Lines” girl. Try to watch his unrated music video !

Problem is, Gone Girl dipenuhi dengan gaya cerita non-linear, dan Flynn is an interesting writer, but not screenwriter. I hope she’s good in it.Plus pergantian third act dari ending aslinya yang selalu membuat penasaran. Dimana ending aslinya, Flynn tetap menyisipkan sisi misterinya, bahkan di paragraf terakhir, menyisakan pembaca untuk berteriak  “You’re dead”.

Last fun fact, movies about gone girl. Always BRACE YOUR GIRL !

Image

And maybe you count this one too, it’s about gone girl too….

Image

Oh I miss Lisbeth Salander, I hope they hire her for the third act :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s