Evil Angels (1988), Miscarriage of Justice with Brackish Smart Move of Dazzling Streep

Director : Fred Schepisi 

Writer : John BrysonRobert Caswell 

Cast : Meryl StreepSam NeillDale Reeves

The dingo’s got my baby ! – Lindy Chamberlain

(REVIEW) Evil Angels aka. A Cry in The Dark

Everything happens under God’s will.
Everything happens under God’s will.
Everything happens under God’s will.


That’s faith (at least that’s definition of faith in this movie)
Or and maybe something bad happens because our reckless act or something else (although there’s God will too)
That’s our common sense.

Kasus yang menimpa Lindy Chamberlain merupakan sebuah kasus peradilan yang mendapat sorotan di tahun 80-an dengan menempatkan Lindy sebagai suspect pembunuhan atas anaknya sendiri yang terjadi di site wisata terkenal di Australia. Ketika keluarga Chamberlain berlibur di Ayers Rock Australia, tak pernah disangka, seekor dingo (sejenis anjing yang tidak memiliki record menyakiti manusia) tiba-tiba memangsa anak bungsu dari keluarga Chamberlain yang masih bayi. Kejadian ini terus diekspos media sebagai sebuah kecelakaan yang melibatkan sang Ibu (Meryl Streep) sebagai saksi kejadian. Pribadi keluarga Chamberlain yang begitu taat beragama membuat mereka berpikir bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan segera move on dari kejadian ini. Hingga akhirnya keimanan mereka diuji ketika opini publik dan penelitian menyudutkan bahwa kematian bayi bernama Azaria bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan kasus pembunuhan level berat.

Azaria, juga dapat diartikan “sacrifice in wilderness), ketika bayi bernama ini tewas di sebuah situs besar dan melibatkan binatang buas, maka bukanlah seratus persen salah publik membentuk opini bahwa terdapat unsur “ritual” di dalamnya.
Apalagi setelah ditelusuri ditemukan tapak tangan bernoda darah di baju terakhir Azaria.
Apalagi tidak ditemukan saliva dingo di baju tersebut.
Apalagi diyakini dingo bukanlah seekor binatang berbahaya.
Dan ditambah adanya bekas darah di tas kamera serta dashboard mobil keluarga Chamberlain.

Hmmm, seperti judulnya yang seakan-akan berada di zona abu-abu benar dan salah, Evil Angels menempatkan dua kubu berlawanan ke sebuah kondisi yang begitu reasonable sekaligus blameless dalam saat yang bersamaan. And that is a good thing in the court movie like this. Sisi Chamberlain yang diwakili dengan penempatan cara bercerita kronologis kejadian yang membuat penonton tahu kejadian sebenarnya, dan sisi public judgement yang diperkuat dengan rentetan bukti yang digambarkan dengan jelas di proses pengadilan.

Namun, bukan berarti penonton dengan mudah akan menempatkan diri. Evil Angels sangat memanfaatkan hal ini dengan melakukan tarik ulur penonton. Evil Angels seakan-akan menempatkan penonton sebagai silent reader “We know the truth but we couldn’t help to reveal the answers.”. Disinilah Evil Angels cukup disturbing untuk ditonton, alias membuat nyesek.

Bekerja dengan sebuah jalan cerita yang melibatkan “extreme miracle”, Evil Angels juga memiliki karakter-karakter luar biasa yang bisa dikatakan juga “extreme”. Interpretasi pasangan Chamberlain di film ini lebih jatuh ke arah “faith-freak” ketimbang orang-orang yang relijius.

Even religious people still ask question, this people just don’t.

Lindy Chamberlain, real person, kembali menjadi sebuah ajang Streep yang tidak hanya menempatkan Streep sebagai aktris berbakat, namun juga seorang aktris yang pintar. Pintar memilih film, dan juga pintar melihat gap dalam sebuah karakter sehingga ia dapat melakukan diferensiasi di dalamnya.

Lindy Chamberlain dapat ditampilkan dengan lebih, uhm, let’s POWERHOUSE !!!!! But what’s so special about it ? Meryl Streep mampu mengeyampingkan egonya ini, kemudian menginterpretasikan karakternya untuk lebih sesuai dengan kebutuhan film. And that is why she’s just smart.

Thanks to her Australian accent. Checked.
Thanks to her hairstyle which is very disturbing but very effective. Checked.
Thanks to her baby bump so she looks like Walnut – Humpty Dumpty. Checked. (I am kidding)

Yang paling mengejutkan adalah, di awal film terdapat sebuah moment kritis namun terasa kurang enganging secara emosi, dan kejutannya “unemotionally resonance”-performance dari Streep ini merupakan bagian virtue dari Lindy Chamberlain.

In the end, Evil Angels merupakan sebuah persembahan court room yang sangat menarik, menggabungkan sisi legal, miracle, coincidence, faith, common sense, dan pers dan media yang berperan dominan dalam kasus ini. (A)

 

One comment

  1. Just want to say your article is as surprising. The clarity in your
    post is just cool and i can assume you are an expert on this
    subject. Well with your permission allow me to grab your RSS feed to keep up
    to date with forthcoming post. Thanks a million and please continue the gratifying work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s