Blue Ruin (2014) is Irreversible Collateral Damage of “Keep It in The House” Revenge as Force of Feeling

Director : Jeremy Saulnier 

Writer : Jeremy Saulnier 

Cast : Macon BlairDevin RatrayAmy Hargreaves

(REVIEW) Revenge is dish best served cold. Mungkin itulah yang mendasari film Blue Ruin. Tidak hanya dari “cara membalasnya” namun juga bagaimana film membangun keseluruhan atmosfernya. Judul Blue Ruin sendiri sepertinya muncul dari sifat warna biru yang memiliki sifat dingin, melankolis, dan misterius (I am talking about dark blue) sedangkan ruin muncul dari sesuatu yang tak bisa diperbaiki, dibangun kembali serta membawa kenangan atau memori tersendiri.

Dwight, seorang gelandangan dengan hidupnya yang begitu predictable, menerobos rumah orang hanya untuk mandi, mengorek makanan di tong sampah, tidur di mobil, tiba-tiba terusik ketika seorang police officer memberitahu bahwa orang yang membunuh orang tuanya akan dibebaskan dari penjara.

I though it’s gonna be so drama, but I am so wrong. Tanpa banyak pertimbangan, Dwight langsung menyusun rencana balas dendam untuk membunuh sang pembunuh. Dengan persiapan yang sama sekali tidak matang, beruntungnya ia berhasil. Namun, ia melupakan satu hal, terdapat collateral damage yang harus ia jalani ketika sang keluarga pembunuh melakukan perlawanan balik.

Paruh pertama di film Blue Ruin merupakan paruh silent, misterius dengan akting yang lumayan untuk ditonton. Paruh ini biasa dikatakan “slow burnt thriller” namun memiliki pacing yang enak dan terlalu membuat penonton menjadi frustasi. Warna biru yang selalu diselipkan di setiap scene dengan atmosfer lingkungan suburban yang “tidak peduli” dengan keadaan sekitar, ditambah sang aktor utama dengan beard tak terurusnya menunjukkan sisi desperate tersendiri disertai dengan keadaan “nothing to lose anymore”. Yep, I guess the first half has represented its title, Blue – Ruin.

Blue Ruin is force of feeling, damaged soul than force of brutal, ambitious killing. Keadaan mulai diperburuk, adrenalin mulai terpompa ketika film ini tidak menyajikan action scenes yang complicated, namun beberapa trik gory terbukti cukup efektif tanpa terlihat begitu berlebihan. Kehidupan Dwight pasca pembunuhan pun mulai terekspans, begitu juga mulai dijelaskan bahwa keluarga yang dihadapi Dwight adalah keluarga yang berbahaya.

Irreversible collateral damage mulai ditunjukkan dengan pengolahan “keep the revenge in the house” yang cukup pintar. Revenge – rerevenge diolah menjadi lebih berbahaya sekaligus lebih personal untuk masuk ke karakter dengan diminimalisir keterlibatan pihak-pihak lain yang kurang “penting”, termasuk campur tangan polisi. Film yang langsung memberlakukan hukum rimba inilah yang menjadi faktor bagaimana suspense dikelola dengan begitu steady per momentum. Ditambah dengan ala ala “there’s no clean getaway”, Blue Ruin is just dangerous.

Sesuatu yang cukup menarik dalam film Blue Ruin adalah bagaimana film ini mengolah sisi anxiety-nya. Salah satu moment film ini menunjukkan bahwa Blue Ruin adalah fully prepared revenge flick. Dwight yang semula menjadi pemburu, berbalik arah menjadi “yang diburu” lewat adegan home invasion yang menarik, dan memanfaatkan karakter Dwight yang selalu waspada (Ingat jika dia melakukan tresspassing di rumah orang, nah sekarang rumahnya yang dikepung).

Revenge memang selayaknya menunjukkan dua kubu, apalagi jika kubu ini saling menyerang, nah sisi inilah yang seakan-akan kurang dipertunjukkan. Karakter-karakter antagonist ter-undercover, ketika cara bercerita Blue Ruin benar-benar one sided namun juga konsisten. Intimidating antagonist yang sifatnya lebih datang dari karakterisasi pun tidak begitu didapat.

Home invasion pun kembali dipertunjukkan dengan menghadirkan final act di “sarang” nya. Tips dan trik Dwight menjadi karakter yang resourceful menarik untuk disimak. Walaupun di paruh akhir Blue Ruin, akting sang aktor tidak seperti di paruh pertama. Bagaimana ia menyampaikan emosinya dengan sedikit wordy terkesan mediocre.

In the end, Blue Ruin is a well told story. Disajikan dengan dingin dengan “diam – pasrah” nya sang karakter, menaikkan level bahayanya ditunjang dengan landscape forestry yang chilling dan mengkonsentrasi revenge menjadi sesuatu yang personal antar dua pihak.

Negatifnya, it’s good movie but give us less impression to be remembered. (It’s simply B)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s