The Sacrament (2014) Presents Ti West’s Too Fragile “Cult System”, Gonzo Journalism Goes Wrong

Director : Ti West 

Writer : Ti West 

Cast : AJ BowenJoe SwanbergAmy SeimetzKentucker AudleyGene Jones 

(REVIEW) Okay, sedikit flashback tentang Ti West. The Innkeepers tidak terlalu meninggalkan kesan baik, ketika ia gagal menghadirkan rewarding horror, lewat minimnya horor di film horor serta selera humor yang “sedikit” menyebalkan, that was my first time knowing name “Ti West”. Kemudian mulai mengetahui karakter sutradara yang satu ini lewat salah satu segmennya di film V/H/S, dengan segmen terpanjang, dan let’s say, segmen paling real. Terakhir, Ti West juga terlibat pada The ABC’s of Death, dengan segmen terpendeknya, dan cukup efektif mengisi film ensiklopedia tersebut.

Ti West – Joe Swanberg – Simon Wingard, selalu berfikir jika mereka itu sebuah “cult”, dalam artian orang-orang ini sepertinya memang berteman akrab, dan membantu satu film sama lain. Ketertarikan The Sacrament (walau sebenarnya masih trauma dengan The Innkeepers) bermula dari mulai naiknya karya dari tim nepotisme ini, mulai dari You’re Next yang memberikan nuansa baru, dan Drinking Buddies yang terbukti disukai para kritik. So, I think, The Sacrament ? Why not ?

Sam (AJ Bowen) menjelaskan bahwa VICE adalah media yang berbeda, dan tidak segan-segan meliput berita yang tidak hanya berbahaya, namun juga unik, aneh, dan bizarre (it’s called immersionism or gonzo journalism, my title, see ?). Kamera kemudian mengarah ke Patrick (Kentucker Audley) yang telah sekian lama tak bertemu dengan saudara perempuan, mantan junkie, yang kini bergabung pada satu komuniti Eden Parish, yep she’s Caroline (Amy Seimetz). Mereka pun diterbangkan dari New York ke tanah “pesucian” itu. Semua gambar didokumentasikan oleh Jake (Joe Swanberg).

Jika sedikit membenci film yang melibatkan found footage, The Sacrament merupakan film dengan camerawork yang terlalu rapi. I bet they use high definition camera (namun sisi ini dijustifikasi dengan “Come on ! They are media person), pengambilan gambar pun tak terlalu shaky di awal.

Mereka tiba di daerah terisolasi, dengan akses helikopter terbatas, dan satu jalur darat (way in, way out). Tensi pun naik ketika mereka disambut orang-orang bersenjata (they are kind of Somali pirate), yang menunjukkan komunitas ini melakukan denial, dan tak segan melakukan konfrontasi jika pihak luar menerobos perbatasan.

Amy datang dalam keadaan sehat, fresh, dan cukup ditampilkan dengan loose oleh Seimetz. Mereka pun masuk ke dalam komunitas yang belum mereka ketahui, tanpa tahu apakah mereka dapat keluar.

Now, I am gonna call this secret community as cult, film yang sering disebut mencontek segmen “Safe Haven” ini, memperkenalkan cult dengan cukup baik. Lewat interview beberapa anggota dengan rentang umur remaja sampai tua, secara eksplisit menjelaskan ground rule, seberapakah bizzare cult ini, mulai dari dijunjung tinggi pimpinan mereka “Father” sampai bagaimana mereka “meninggalkan” keduniawian untuk masuk ke dalam cult ini. Berbeda dengan Safe Haven yang langsung tancap gas melakukan perkenalan dengan menciptakan suasana comically bizzare (lewat Epy Kusnandar, dan aktivitas, body language yang tak natural, I am Indonesian, I know how people naturally act), Eden Parish terlihat seperti summer camp namun “nilai-nilai” mereka lah yang membuat penonton berpikir “something not right”.

In my opinion, cult has more “basic horror” than ghost story, bagaimana sesuatu yang strange, tertutup, kemudian mereka memberikan penyambutan yang begitu welcome, dan kita tak tahu bagaimana mereka akan meng-etwist keadaan, salah satunya dengan extreme fanatism. Tokoh father (Gene Jones, entah sengaja atau tidak memilih aktor dengan nama Jones, sesuai dengan Jonestown yang mengilhaminya) pun ditunjukkan dengan intelijen, kharisma, sesuatu yang flamboyan, semua unsur yang masuk untuk menjadi seorang leader. Konfrontasi critism dari Sam dan Father mulai memastikan bahwa community benar-benar layak untuk ditinggalkan. Keadaan diperparah ketika Sam mendapatkan note dari seorang gadis cilik bernama Savannah, sebuah note permintaan tolong.

The Sacrament, pada paruh pertamanya, merupakan sebuah improvement dari Ti West, bagaimana ia mempertahankan sisi real dalam horor dalam bungkus yang lebih menghibur. Namun, ketika ia harus melakukan beberapa tendangan untuk paruh kedua, Ti West sepertinya kehilangan bagaimana melakukan transisi yang subtle. Hasilnya, The Sacrament menghasilkan sebuah plot hole, dengan menghadirkan cult yang sistemnya terlalu fragile (come on, the last sacrament just because media arrival). Mengapa mereka menerima media pun menjadi alasan yang dipertanyakan. Apakah “the last day” ini sebagai bentuk aksi manipulasi dari Father yang telah diagendakan (karena kondisi kesehatan Father yang semakin menurun) ? Atau, hanya tindakan yang harus dilakukan (dimana terlihat tidak masuk akal) ?

Perjuangan Sam untuk menyelamatkan Savannah yang ditunjang keadaannya yang akan menjadi seorang ayah, dipatahkan dengan aksi akhir yang unbeatable, tidak dapat dicarikan solusinya, this protagonists are just harmless. Baik gore atau atmosfer “Revolutionary Suicide” pun disajikan dengan sekadarnya, tanpa memperhatikan bahwa scene-scene inilah yang ditunggu penonton dari detik awal film slow plotting ini. Konsep found footage yang diusung pun mulai kabur. Film ini bisa jauh jauh lebih baik dengan final act yang lebih pinching.

Ask why ?
Final act ini tidak terlepas dari karakter Ti West yang maunya real real real, terbukti dengan berakhirnya film ini, The Sacrament masih meyakinkan penonton this is based real story. Fucking real story. Insiden Jonestown yang menewaskan 918 orang di tahun 78 memang mengilhaminya, namun The Sacrament tak punya cukup nyali untuk meng-embracenya dengan penuh (or at least partially), namun juga melupakan bahwa penonton juga menginginkan sesuatu yang lebih.

Overall, karya Ti West ini malah cukup menghibur di paruh pertama, dan cukup kacau di paruh kedua (B-).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s