The Immigrant (2014), Sacrilegious and Tractable Cotillard is Life Jacket of Almost Sinking Boat

Director : James Gray 

Writer : James GrayRic Menello

Cast : Marion CotillardJoaquin PhoenixJeremy Renner 

(REVIEW) Sempat akan diberi judul Low Life dan Nightingale, film yang direlease di Cannes ini memang sangat layak ditunggu, terutama dibintangi tiga aktornya yang sudah, uhm, award friendly.

Berbicara tentang cerita “sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin kisah Ewa (Marion Cotillard) ini cukup mewakili. Berharap bisa berkumpul dengan paman bibinya, Ewa dan saudara perempuannya melakukan migrasi dari Polandia ke Amerika Serikat lewat Pulau Ellis. Keadaan saudara perempuannya yang sedang sakit membuatnya harus ditahan di pulau tersebut untuk dirawat, sedangkan Ewa diduga memiliki kebiasaan “low morale” di kapal membuatnya terancam dideportasi.

Dalam keadaan luntang lantungnya, ia bertemu dengan laki-laki misterius bernama Bruno (Joaquin Phoenix) yang bekerja di sebuah teater “remang-remang” dan memiliki rencana untuk Ewa yang memang dianugerahi kecantikan luar biasa.

Okay, first thing first, film dengan setting tahun 1920-an ini memiliki production set yang memukau, dan menunjukkan sebuah environment tanpa matahari, maka dari itu film ini berasa begitu gloomy, sephia di indoor-nya, dan terasa freezing di outdoornya. Sounds like sleeping pill, right ? Dengan scoring yang mengingatkan sedikit pada scoring Romanek-Never Let Me Go, The Immigrant tidak ubahnya sebuah dystopian yang telah terjadi di tahun 1920-an.

If you haven’t seen the worse, you’ll see the worse. Sebenarnya bukan penggemar film dengan cerita yang tidak begitu uplifting dan “ngenes”, Ewa terus ditempa dengan sebuah lingkungan baru yang terus dan terus mengempit keadaan Ewa dari buruk menjadi lebih buruk. Cerita yang dingin dan drowning ini kemudian dijustifikasi dengan setting masa lalu ini, yang sedikit banyak memberi gambaran history bagaimana para imigran Eropa ini bersusah payah untuk masuk ke Amerika dengan tujuan mempunyai hidup baru, menutup trauma perang masa lalu.

Tentu saja, Marion Cotillard adalah satu-satunya alasan untuk menonton film ini. She’s just radiant, on-screen, off-screen. Ewa Cybulsky, or her hooker name “Eva”, merupakan karakter yang mengundang simpati namun juga tidak menonjolkan “self-pity”-nya, itulah yang membuat penonton merasa Ewa lebih sebagai karakter yang kuat, “she’s been through a lot”. Ewa juga bukanlah sebuah karakter yang menyerah pada keadaan, ia juga bukan karakter yang naive walau dia datang ke sebuah lingkungan baru. Ewa tidur dengan pisau di tangannya. Ewa mencuri uang dari temannya, dan akhirnya ia mampu mencium sosok Bruno yang charming, care di awal, sebagai karakter yang akan menjerumuskan dirinya. Kuatnya karakter Ewa inilah yang mempertahankan perahu film ini untuk tidak tenggelam terlalu dalam dengan ceritanya sendiri.

Bruno yang akhirnya memaksa dengan halus Ewa untuk menjual dirinya akhirnya menunjukkan sisi lainnya ketika Ewa mengatakan “I hate you.” dan dalam keadaan mabuk Bruno mengatakan bahwa ia hanyalah laki-laki yang ingin dicintai. Di genggaman tangan Bruno, Ewa terus mencari solusi dari kabur dari brotel menuju ke tempat pamannya yang ternyata menjawab semua keadaan Ewa saat ini. Lagi dan lagi, film ini seakan-akan menciptakan sebuah excuse akan keadaan Ewa, yang kemudian disambungkan dengan gejolak batin Ewa antara menjadi seorang “sacrilegious person” dan “tractable person” dalam waktu yang bersamaan. Sebuah sisi yang memberikan Cotillard ruang gerak yang lebih dalam. Scene pengakuan dosa di gereja pun menjadi salah satu scene terbaik di sepanjang film.

Ketika Cotillard cukup settle dengan perannya, film ini sedikit memberikan sinar matahari lewat kehadiran Orlando The Magician (Jeremy Renner), seorang pesulap yang memberikan perhatian tersendiri kepada Ewa. Penampilan Renner memang terbanting dengan dua co-starnya, walaupun memang Orlando ini tak memiliki cukup kapasitas untuk memberikan impresi. Kehadiran Orlando adalah game changer hubungan Ewa dan Bruno yang kini berubah menjadi kisah klasik cinta segitiga, namun yang paling menarik Orlando adalah katalis untuk Joaquin Phoenix untuk me-reveal karakternya dari yang mendominasi di paruh pertama film, menjadi karakter yang penuh kelemahan terutama jika dikaitkan dengan cintanya dengan Ewa (yang masih tersembunyi).

Berbicara tentang tiga karakter utamanya, baik Ewa, Orlando, dan Bruno tidak tereksplore “stage act”-nya di panggung, sesuatu yang “mungkin” bisa lebih terlihat vibrant di panggung, sesuatu yang bisa mengasah sisi berlawanan antara backstage dan frontstage mereka. I would like to see that thing because this movie is about showbiz (in small scale). Satu-satunya yang nyaris mendapatkan sisi ini hanyalah Orlando THE MAGICIAN, walaupun proses sulap ini sedikit terlalu filmsy.

Di paruh akhir The Immigrant, ketika cerita mulai berubah dramatis, mulai berbahaya, dan mulai tragis, The Immigrant menggunakan sisa-sisa durasinya dengan permasalahan cinta segitiga yang semakin rumit namun semakin terburu-buru. Baik Ewa dan Orlando terlewat kisah cintanya karena plot, Ewa dan Bruno terlewat kisah cintanya karena terburu-buru untuk diakhiri.

Overall, The Immigrant is Cotillard because she’s stronger than the hope itself and I like the last scene (B).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s