The Lunchbox (2014) Cooks Complexity Through Casualness, As Delicious As Mom’s Homemade Meals

Director : Ritesh Batra 

Writer : Ritesh Batra 

Cast : Irrfan KhanNimrat KaurNawazuddin Siddiqui

(REVIEW) Film ini memenangkan Grand Rail d’Or di Cannes tahun lalu, atau Critics Week Viewers Choice Award, ditampilkan juga di Festival Film Toronto, dan cukup membuat kontroversi ketika film ini gagal sebagai submission dari negara India. Semua itu karena memang film ini, uhm, just crazy good.

Sebagai negara yang tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, The Lunchbox mengexplor sisi semrawut India menggabungkannya dengan cerita cinta yang unik, menarik, berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, lucu, it’s just complete package of lunchbox. Film ini akan terasa sangat personal untuk seseorang yang disibukkan dengan kehidupan metropolitan, atau seseorang yang terjebak di satu lingkungan ruang huni, let’s kamar kos, kontrakan atau bahkan apartemen. Dan, itulah yang membuat The Lunchbox lebih dari lunchbox biasa. Kemampuan film ini untuk menyapa penonton dengan “see closer”, “think closer” membuat film ini begitu heartwarming, sebuah crowd pleaser yang menyenangkan.

Mr. Fernandez (Irrfan Khan), seorang accountant senior, mendekati pensiun, dan seorang duda kesepian menerima sebuah lunchbox yang salah, namun dengan makanan yang luar biasa, akhirnya menjalani korespondensi tak biasa dengan sang pemasak. Dia adalah Ila (Nimrat Kaur), seorang ibu muda dengan satu anak, yang juga kesepian karena diacuhkan suaminya, dan ia mencoba men-seduce suaminya dengan masakannya. Kedua orang yang terhubung lewat lunchbox salah alamat ini akhirnya bertukar pengalaman, definisi kesepian mereka masing-masing, dan mungkin keduanya siap mengejar kebahagiaan mereka.

Lunchbox, yep lunchbox (it’s not sophisticated style like Tupp*rware or something, it’s a “rantang” in Indonesia), digambarkan sebagai sebuah object sederhana namun bisa menjadi object powerful dan menarik. Tidak hanya sebagai medium, namun lunchbox menjadi sebuah objek yang membawa karakteristik dan juga menentukan jalan cerita. Yeah, lunchbox ini membawa makanan, yang tidak hanya membuat film enak ditonton, tapi juga sebagai film tentang kuliner yang membuat penonton ingin mencicipi masakan India. Bagaimana lunchbox ini memiliki journey, menunjukkan delivery system-nya, cukup membuktikan bahwa film ini berusaha melihat lebih detail, melihat sesuatu sederhana lebih dekat, dan itu sesuatu yang menarik sekaligus mahal. Dari sini, didapatkan film ini menunjukkan sebuah tingkat yang kompleks lewat casualnessnya, sehingga penonton merasa terlibat, sekaligus merasakan film ini melakukan penetrasi secara mendalam.

Okay, enough for the lunchbox, back to the story. Tidak mengambil cerita yang banyak tetek bengek, The Lunchbox juga mengambil cerita yang casual namun dibalut dengan eksekusi dan editing yang unik, penuh kejutan. Mr. Fernandez dan Ila adalah dua tokoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Namun bukan berarti kehidupan mereka tak menarik untuk disimak, atau tidak memiliki kedalaman untuk disimak. Mr. Fernandez dan Ila memiliki kehidupan bertolak belakang walau memiliki sisi kesepian yang sama. Mr. Fernandez, sibuk dengan kerjanya, selalu men-shut out orang-orang di sekitarnya, tak memiliki keluarga, dia adalah unlikeable character di film ini, sedangkan Ila terjebak di kehidupan stagnant ibu rumah tangga, meronta-ronta perhatian orang di sekitarnya, memiliki keluarga, dia adalah karakter yang membawa simpati di film ini. Lewat surat menyurat yang singkat dan terbatas, komunikasi dikeduanya cukup magnetic, mengangkat hal-hal yang ringan namun spesial seperti kipas angin, menonton televisi, soundtrack film, makan pisang, dan banyak lainnya, disertai dengan analisis tentang hal-hal sederhana tersebut. Bisa dikatakan film ini memiliki banyak referensi untuk benda yang dibahas, bukan dari buku encyclopedia dengan istilah asingnya, namun film ini mereferensikan dirinya dengan kehidupan sehari-hari itu sendiri. Dari sinilah didapatkan sensasi seakan-akan kita sedang menguping personal stories dari Ila dan Mr. Fernandez. Indirect chemistry dari dua leading yang “hampir” tidak pernah bertemu dalam satu scene ini menghasilkan sebuah cerita yang begitu moving. Bagaimana bisa sebuah film dapat terasa intim walaupun jelas terdapat distance diantara dua karakternya ?

Talking about Indian movies, yeah sudah terpatok dengan adegan menari, menyanyi, cerita yang sakarin, tenang semua itu mulai ditinggalkan film India sekarang, termasuk The Lunchbox. The Lunchbox adalah film India yang meng-adjust dirinya sendiri untuk crossing border negaranya sendiri. Dan, tanpa kehilangan meninggalkan sisi Indianya, karena memang India sudah cukup kuat dari segi dialect bahasa Inggrisnya, budaya, value-nya, yang mendapatkan sorotan di film ini. Salah satu value yang menarik adalah konsep domesticated wife yang di-embody Ila yang membuat tertegun (bahkan dari sudut pandang seorang Indonesia). Melihat film ini sempat terlintas “Is this European movie made in India ?

Film ini disempurnakan dengan humour yang membawa charm-nya tersendiri, kebanyakan lewat hadirnya dua karakter istimewa; Auntie, teman ngobrol Ila yang invisible (but real) for the whole movie, dan Syeikh (Nawazzudin Siddiqui) sebagai ice breaker di kehidupan Fernandez yang cukup serius. Syeikh ini juga seringkali sebagai quote-machine yang efektif dan lucu.

The Lunchbox memang pada akhirnya memiliki unsur predictability, namun The Lunchbox lagi, dan lagi mampu menerjemahkan sesuatu yang harusnya mudah diprediksi ini menjadi yang lain, sekaligus menghindarkan diri menjadi sesuatu yang klise.

In the end, The Lunchbox is just as delicious as mom’s homemade meals. (A-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s