Book Corner : Mockingjay (2010) is Open Doors to Expanded (More Than Katniss’ Point of View) Installment

Cliffhanger dengan tatapan mata Katniss, tajam menatap penonton di Catching Fire membuat kelanjutan adaptasi young adult ini menjadi sangat dinantikan. Yep siapa sangka inspirasi Suzanne Collins melihat reality show dan perang Irak, menghasilkan highest grossing in US last year. Menjajarkan Katniss dengan tokoh superhero seperti Tony Stark, uhm, I mean Iron Man. Plus dengan worldwide recognition yang terus menyebar, okay WE CAN’T WAIT – WE CAN’T WAIT – WE CAN’T WAIT.

Yeah, district 12 telah dihancurkan, Peeta dan Johanna ditangkap Capitol dan kini Katniss berada di district 13 yang dipimpin seorang Alma Coin, leader yang secara misterius memiliki agenda tersendiri dengan keberadaan Katniss. Kemampuan Collins menciptakan final act yang memiliki subtle complication di The Hunger Games “Berry strategy fails the system”, dan final act yang cukup smart di Catching Fire “Storm changes the game”, membuat semua district berada dalam level fragile untuk melakukan pemberontakan. Di sinilah kubu Snow dan District 13 beradu strategi politik lewat media, penciptaan image Katniss sebagai Mockingjay, simbol harapan dan penderitaan rakyat Panem.

Buku yang diterbitkan di tahun 2010 ini memindahkan arena Cornucopia, ke arena nyata, dan mengajak seluruh district untuk ikut serta dalam The Hunger Games yang sebenarnya. I won’t talk about book itself, I’ll talk the movie adaptation. A little bit.

Yeah, memang Mockingjay masih berada di level lebih bawah daripada buku terakhir Harry Potter yang menciptakan spliting menjadi dua part untuk final installment sebuah franchise. Tak ada kekhawatiran untuk Harry Potter saat itu, mengingat bukunya cukup kaya, rumit, dan layak untuk dibagi menjadi dua film. Strategi ini tak begitu berjalan baik untuk Twilight (oh come on, it’s cowardice finale), dan sedikit membuat was-was ketika Mockingjay untuk melakukan hal yang sama. Tapi, tenang, Mockingjay adalah sebuah buku yang membuka banyak “pintu” untuk filmnya mengekspansi ceritanya, tanpa harus melakukan deviasi terhadap original story-nya.

Kemampuan Mockingjay Part I & II untuk berkembang berasal dari cara penceritaan Collins yang selalu memakai sudut pandang Katniss. Banyak sekali karakter (yang tentu saja ingin kita lihat nasibnya) yang mengalami instant developed stage, dalam artian mereka tak berada di sekeliling Katniss sehingga mereka memiliki hidden story yang bisa dikembangkan. Contohnya, Serena Crane yang tidak hadir di novel The Hunger Games, namun tetap dikembangkan oleh Gary Ross, Serena Crane baru muncul di novel kedua Collins. Karakter-karakter itu adalah mereka yang berada di Capitol.

President Snow, tentu saja adaptasi filmnya akan menghadirkannya sebagai main villain, yang seharusnya lebih vicious menghadapi counteraction dari district 13.
Johanna Mason, Jena Malone cukup scene stealing di Catching Fire. We want more Mason. We want more Mason. We want another nudey elevator journey, eh. Johanna invisible di novelnya, kita akan berharap berbagai scene yang melibatkan perannya, termasuk scene penyiksaan Capitol untuk mengorek informasi darinya.

Cinna, karakter ini penting, bridging character, terutama untuk Lawrence membangun karakternya sebagai charismatic leader. Cinna is a cause for Katniss, dia berhak “moment-moment terakhir” di film.

Effie Trinket, hampir tidak ada Trinket di novel Mockingjay, lagi-lagi, another wide open door untuk menghadirkannya.
Last but not least, Peeta Melark. Salah satu karakter yang paling dikembangkan oleh Collins di novelnya, dan bisa menjadi alat untuk Hutcherson menghadirkan performance terbaiknya di sepanjang franchise. Peeta is intriguing enough, he’s basically Harry Potter with Voldemort inside of him. Kita akan sangat menginginkan scene “Hijacking” di Mockingjay part I.

Katniss sendiri menjadi boomerang untuk ekspektasi penonton melihatnya di adegan yang lebih kicking ass. Perannya sebagai symbol dan aset paling berharga, membuat Collins memberlakukan over protective action, agar Katniss tidak terbunuh, dan dalam segi cerita memang logis, namun membuatnya indirectly out of game. Katniss sempat terjun ke lapangan, mengunjungi distrik 12 yang telah menjadi abu, mengunjungi distrik 8 yang sedang dibombardir, dan melakukan adegan propaganda berbahaya, but come we want to see her shooting her arrows.

Talking about Katniss, Jennifer Lawrence beruntung memiliki peran yang memungkinkan ia berekspresi di karakter yang sama, mulai dari The Hunger Games’ Katniss yang merupakan raw material, Catching Fire’s Katniss yang merupakan post traumatic person, dan Mockingjay’s Katniss yang merupakan re-invention dari karakternya, menjadi clueless, trapped between two polars, leader.

Love triangle antara Katniss-Gale-Peeta juga menjadi hal yang paling disorot di Mockingjay, ketimbang di seri sebelumnya “the love triangle never make a scene”. Cukup menarik juga, Collins tidak menyeret pembaca ke exhausting love story, percintaan tiga karakter ini lebih melibatkan character development ketiganya, Gale yang mulai ter-soldier-fied dan ambisinya memenangkan perang, Peeta yang mulai memiliki dua sisi “menacing sweetheart instrument of killing”, dan Katniss yang “too busy for love story”.

If you like Liam Hemsworth, you-will-get-a-ton-of-him. Minimnya Peeta di paruh pertama buku, let’s say Mockingjay Part I, membuatnya memiliki cukup waktu dengan Katniss, Collins juga memberikan peran cukup signifikan untuknya di distrik 13, but basically he’s bland, and like what I have said earlier, he’s just soldier-fied. Berbeda dengan Catching Fire yang mampu menyajikan karakter-karakter baru yang cukup berbeda; scene stealer Finnick Odair, Johanna Mason, Beete “The Volts”, even Mags. Banyak juga karakter baru di Mockingjay, namun lagi-lagi, sifat mereka lebih homogen, soldier-soldier-soldier. Yang cukup dominan kehadirannya adalah karakter Cressida (will be played by Natalie Dormer), yang mungkin akan menjadi karakter yang menarik. I really want to see Lily Rabe as one of commanders, but she had to drop out.

Talking about twisty characters, Plutarch Heavensbee digantikan oleh Alma Coin (will be played by Julianne Moore) yang menjadi karakter kunci, bersamaan dengan Snow. Like what Moore ever said, her character stays lowkey, and bring some dreadful twist at the same time.

Didapuknya screenwriter The Butler dan Game Change untuk menangani kedua Mockingjay tentu saja diharapkan bisa membawa sisi politik buku ini menjadi lebih real, dan lebih mentransformasikannya lebih dari sudut pandang seorang Katniss Everdeen. Di sisi lain, apakah ia bisa mentackle scene-scene action di paper menjadi pertanyaan, but I hear they hire co-writer for him.

SPOILER !!! SPOILER !!! SPOILER !!!

I aint worry for Mockingjay Part II, it’s gonna be huge, awesome, dengan Francis Lawrence yang cukup berpengalaman meng-handle scene-scene action. It’s gonna be bloodbath with some deaths from some cuties (I ain’t talking about Snow death, which is a little bit anti climactic in the book, but ironic after what’s he already did). Plus, contain all of those deaths is Lawrence’s homework. Ibaratnya Part II adalah The Hunger Games dengan setting Capitol itu sendiri.

Yang mengkhawatirkan adalah Part I agar tidak terlalu menjadi seakan-akan middling chapter for the franchise, though it sounds like “inevitable”. Sisi menarik lainnya adalah bagaimana Part I dan II ini akan dibagi ; apakah penyelamatan Peeta menjadi final act dari Part I (tak melibatkan Katniss) ? Atau kedatangan hijacking Peeta yang mencoba membunuh Katniss di district 13 ? Atau awal perjalanan ke Capitol akan menjadi final act part I (walaupun di Part II, mereka akan membutuhkan beberapa dramatic bridging di awalnya).

And the cliffhanger for Mockingjay Part I is also inevitable (and we have to wait another year, oh, boy).

In the end, jika ada sebuah kesempatan untuk franchise The Hunger Games untuk terpeleset, itulah Mockingjay Part I, dan untuk highly entertaining action packed politically satisfying with boom-boom-boom, itulah Mockingjay Part II.

Plus, ending buku Mockingjay yang tidak terlalu muluk-muluk, membuat “mungkin” Suzanne Collins mau menulis seri keempat-nya (If you want to, too.)

mockingjaystill

source : mockingjay.net

mockingjaystill2

source : mockingjay.net

mockingjaystills

source : mockingjay.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s