Chinese Puzzle (2014) Feeds Misery with Colorful Conviviality but Less Inventive Puzzling Complications

Director : Cédric Klapisch

Writer : Cédric Klapisch

Cast : Romain DurisAudrey TautouCécile De FranceKelly Reilly

(REVIEW) Chinese Puzzle menjadi penutup trilogy, setelah L’Auberge Espagnole (2002) dan Russian Dolls (2005). Untuk penggemar 2 film Klapisch sebelumnya, film ini tentu menjadi reuni nostalgia karena menyatukan sebagian besar karakternya. Namun, untuk yang masih asing dengan Klapisch, film ini tidak terlalu tergantung dengan installment sebelumnya, dan mampu berdiri sendiri.

Sama dengan apartemen yang bertingkat, atau spanish dolls yang beranak, puzzle China merepresentasikan bagaimana karakter ini scrambble menyebar dengan kehidupan mereka, memiliki kerumitan permasalahan yang berbeda-beda, dan pada akhirnya film ini mengajak penonton untuk melihat kepingan-kepingan puzzle sebagai satu big picture.

Life begins at 40, Xavier (Romain Duris) telah memiliki dua anak dari pernikahannya dengan Wendy (Kelly Reily). Semuannya baik-baik saja hingga akhirnya Wendy mengakui telah “bertemu” dengan seseorang dan akan segera minta cerai, pindah ke New York dan membawa anak-anaknya. Salah satu penyebab keretakan rumah tangga mereka juga niatan Xavier memberikan sperma untuk temannya yang lesbian, Isabelle (Cecile De France), yang kebetulan juga pindah ke New York. Merasa tak ada lagi yang tersisa di Paris, Xavier menyusul mantan istrinya ke New York, dan bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Martine (Audrey Toutou).

Film yang membawa Paris’ charm ke New York ini mengingatkan kita pada film Definitely Maybe, dengan Xavier sebagai karakter sentral yang dikelilingi wanita-wanita di masa lalunya. Berbeda dengan Definitely Maybe yang sengaja membagi-bagi segmen Banks – Fisher – Weisz, Chinese Puzzle mampu menyatukan banyaknya karakter ini ke dalam satu waktu di kehidupan Xavier. Untuk yang belum menonton film sebelumnya, mungkin akan merasa karakter Xavier terlalu luas, tak fokus, termasuk kehadiran Audrey Toutou yang mendapatkan main credit namun dikeluarkan hampir setelah setengah durasi berjalan. Namun, jangan khawatir, banyaknya karakter yang diperkenalkan (termasuk karakter tambahan yang mendapatkan porsi sama dengan Martine-Isabelle-Wendy) tak membuat penonton kewalahan mengejar cerita, namun malah menambah kekayaan warna kehidupan Xavier yang begitu dinamis di kota New York.

Film yang menantang penonton dengan judul “puzzle”-nya ini menggunakan kerumitan hidup Xavier yang beraneka warna mulai dari perceraiannya dengan Wendy, ayah “semu” dari anak yang dikandung Isabelle, hubungan “friends with benefit”-nya dengan Martine, belum urusan imigrasi, pekerjaannya sebagai penulis, dan anak-anaknwmwa, sebagai potongan-potongan puzzle yang membuat penonton bertanya-tanya bagaimanakah kehidupan Xavier ini diselesaikan di akhir film. Banyaknya warna masalah di hidup Xavier semakin diperkaya dengan background karakter dari berbagai negara dengan bahasa dan value mereka masing-masing.

Kehidupan Xavier yang berat, tergolong terus ditimpuk satu masalah dengan masalah yang lain kemudian diimbangi dengan sense of humour yang berhasil, nan elegan. Walaupun tidak se-imaginative atau seekstrem menggunakan fantasy seperti di film Amelie, Chinese Puzzle sedikit-sedikit menggunakan formula yang sama. Expression – screen capture seperti apa yang dilakukan Election pada muka Tracy Flick masih terbukti efektif mengundang tawa, fantasy pergantian kostum seperti Amelie tiba-tiba menggunakan costume Zorro juga dipergunakan, dan salah satu yang membuat terbahak-bahak adalah bagaimana film menciptakan ambiguitas lewat perbedaan bahasa, namun terkadang tak disertai keberadaan subtitle mampu menjadi moment comedy yang natural. Audrey Toutou nails her Chinese scene. Magically funny and irresistible. Peran pembantu seperti pengacara, petugas imigrasi, istri palsu Xavier juga memberikan sumbangsih tawa di film ini.

Kemampuan film ini untuk tidak mendramatisir masalah dengan “not so overreacting” character, sedikit melakukan simplify dengan masalahnya, dan melakukan alokasi konsentrasi masalah ke karakter-karakternya (a lot of sub-plots, but this thing doesn’t make movie convoluted) membuat film ini menjadi ringan untuk ditonton. Sisi lemahnya, membuat film ini memang menitikberatkan pada genre comedy-nya, dan tema “long term relationship” dengan pasangan atau sahabat memang sedikit tak tersentuh.

Not really first time character oleh para aktornya, memang tak membuat karakter ini menjadi instantly likeable (terutama karakter Wendy yang selfish, full of her ego, dan terkadang tanpa alasan menyerang Xavier), tapi paling tidak karakter-karakter ini tak memerlukan usaha dan waktu untuk melihat para aktornya langsung fit-in di dalamnya.

Tak puas, film yang bercerita dan bersetting tentang New York tapi tak mengajak kita berkeliling. Mulai dilema mencari apartemen, permasalahan visa turis sampai subway dipertunjukkan ke penonton. Tak puas juga, film tentang seorang writer tapi tak memberikan punchline yang kena di hati penonton, nah, untuk yang satu ini memang sedikit hit and miss, lines tak terlalu menohok atau membuat penonton berkata, “yes, that is fucking true.”, untuk sisi ini memang sedikit biasa saja.

Di akhirnya, film yang menyajikan banyak potongan sub-plot ini memang tak terjawab semua, film ini juga kekurangan inventive puzzling complications of coincidence seperti yang Amelie miliki. Namun, a well crafted action di akhir yang mempertemukan semua karakter dalam satu ruangan cukup berhasil membuat final act film ini berasa nendang. In the end, yes, semua masalah tak terjawab, yes, the ending is hideous, tetapi perkataan Wendy, “Xavier, you need combination of three of us (herself, Isabelle, dan Martine)”, langsung memberikan pengertian tentang apakah Chinese Puzzle sebenarnya, plus for Klapisch fan, it’s gonna be huge satisfaction. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s