The Double (2014), Product of Recreating Someone’s World with Bedazzling Style, but Couldn’t Fully Fill It

Director : Richard Ayoade

Writer : Richard AyoadeFyodor Dostoevsky

Cast : Jesse EisenbergMia WasikowskaChris O’DowdSally Hawkins

(REVIEW) Double is in this year, setelah film tanpa penjelasan yang membawa ending mengejutkan lewat Enemy, The Double merupakan film dengan cerita yang mengupas hal yang sama dengan pendekatan yang berbeda. Diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Fyodor Dostoevsky, The Double menciptakan sebuah dunia dari sudut pandang seseorang yang mengalami krisis identitas, alienasi, dan kemudian blame it to the world.

Bersetting di waktu, tempat antah berantah, Simon James (Jesse Eisenberg) is against the world. Mulai dari briefcase-nya yang menyangkut di pintu kereta api, tanda pengenalnya yang corrupt sehingga ia bermasalah dengan satpam kantornya, sampai pintu elevator yang tak pernah memihak pada dirinya.

Dari awal filmnya saja, film sudah menawarkan set yang memukau, pencahayaan yang tajam, membuat scene terlihat sangat sensitif dengan bayangan. If I am design interior or something, I’ll give it very straight A. A very unique printer or mega sized Xerox would entice me.

Kehidupan karir Simon juga tak begitu cemerlang. Bekerja di bilik-bilik kubikal, dengan bos yang selalu memandangnya sebagai pegawai tak potensial, dan hampir menjengkelkan semua co-workernya. Satu-satunya karyawan yang bersikap baik adalah Hannah (Mia Wasikowaska), nice girl, gadis yang ia dambakan dan ia kuntit sepanjang hari, di kereta, di kantor, bahkan Simon memiliki teropong yang ia gunakan untuk memata-matai Hannah yang tinggal di seberang apartemennya.

Keadaan semakin thrilling, ketika Simon menjumpai seseorang yang melambai dan melompat dari gedung tempat Hannah tinggal. Mati, dan Hannah mengungkapkan pria tersebut adalah stalker yang mengikutinya. Sama seperti Simon sendiri. Tatanan masyarakat ini semakin dystopian dengan hadirnya Chris O’Dowd yang menanggapi kasus suicide ini sebagai bagian yang lumrah, walau ia masih
memberikan sisi investigasinya. Penampilan cameo dari O’Dowd dan Sally Hawkin cukup appopriate di film dengan tone seperti ini.

Keadaan semakin memburuk, ketika seorang pegawai baru datang, kharismatik manipulatif, disukai bos dan semua co-workernya, dan ia merupakan versi berlawanan dari Simon dengan fisik yang sama, dia adalah James Simon (masih Jesse Eisenberg).

Hal yang menyenangkan ketika alter ego Simon hadir dan membentuk ikatan dengan Simon yang merupakan hal yang sulit karena prinsipnya Eisenberg berakting dengan dirinya sendiri. Persahabatan singkat mereka menjadi hal yang paling menyenangkan di sepanjang film. Salah satunya, ketika mereka kejar-kejaran disertai dengan music Jepang. Menyenangkan juga melihat Eisenberg, walau tak sepowerful Jake Gyllenhaal di Enemy. Menyenangkan namun tak mengejutkan, pair of Eisenberg’s performance is kind of “been there done that”. Karena basicnya, Eisenberg menampilkan dua sisi ekstremnya, sedangkan Gyllenhaal di Enemy memiliki kesulitan tersendiri.

Konflik utama pun dihadirkan, face to face conflict yang membawa Eisenberg sebagai Simon ke puncak performance-nya, walau Wasikowaska tetap berjalan di tempat dengan performance “typical”-nya. James menjadi backstabbing version yang tak hanya memperalat kehadiran Simon, namun juga menyia-nyiakan apa yang ingin didapatkan Simon ; menduakan Hannah dengan anak bos-nya.

It’s comparison to Enemy is inevitable. Berbeda dengan Enemy yang mampu menyeimbangkan thriller psikologisnya dengan misteri puzzle-nya, The Double lebih menekankan pada gejolak psikologis dari karakter Eisenberg. Film tak pernah keluar dari style-nya, untuk meraih sesuatu yang lebih substantial. Bagaimana film menciptakan dunia Simon lewat production design, sinematografi yang sharp, karakter-karakter ekstrem yang comical, serta music yang luar biasa sensitif dengannya memang sangat memukau, namun untuk memberikan penonton di luar itu, sesuatu yang lebih thoughtful, The Double mengolah cerita dengan sangat melelahkan walau menyenangkan secara materi yang ditangkap panca indera. Positifnya, The Double merupakan sebuah produk imajinasi, yang tak terlalu mengisolasi penonton dengan dunianya sendiri, tak seperti Enemy. It’s re-creating someone’s world, but couldn’t fill it.

Stylishnya film ini menciptakan sebuah dunia, ternyata di sisi positif yang lain, mampu memberikan visual kamuflase yang menyamarkan nature cerita yang reasonable negatif, pesimistik, mean spirited, dystopian oriented, depressing, menjadi satu lukisan dengan energi ambisi yang besar. (B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s